E N A M

1.7K 47 1
                                    


November 2004

Cilandak Town Square terlihat lengang sore itu. Ayu dan
Ditto berjalan menuju salah satu gerai fast food dan segera
memesan makanan untuk mereka masing-maisng karena sudah
kelaparan. Setelah makanan mereka sudah tersaji dan sudah menemukan tempat duduk, keduanya mulai melahap makanan
masing-masing.
Hari ini sepulang sekolah mereka memang sudah janjian
untuk hang out bersama ke mal yang biasa mereka datangi
tersebut. Karena bosan dengan pendalaman materi menjelang
UAN dan kebetulan Ayu sedang tidak ada jadwal syuting sore itu,
maka keduanya memutuskan untuk hang out bersama.
“Lo minum es padahal lusa mau tampil,” komentar Ditto
saat Ayu menyesap minumannya.
Ayu hanya nyengir lebar. “Sekali ini doang, kok.”
“Udah hafal lagunya?”
“Udahlah, kalau nggak, mana mungkin Ola ngizinin gue
keluar studio.”
Keduanya tertawa saat mendengar nama vokalis band
mereka disebut. Pembicaraan mereka mulai berkembang ke arah
band mereka. Bersama-sama selama tiga tahun di dalam dan di
luar kegiatan band membuat mereka merasa berat untuk nantinya
berpisah.
“Eh, si Milla cerita sama gue katanya lo cuek banget jadi
cowok,” ucap Ayu yang tiba-tiba teringat dengan adik kelasnya
tersebut. “Emangnya lo nggak pernah ngajak dia jalan atau apa
gitu?”
“Sesekali sih pernah.”
“Lo jarang ngehubungin dia pasti.”
“Ketemu ini di sekolah, ngapain jug ague dua puluh empat
jam mesti ngehubungin dia.”
“Ya nggak begitu jgua, Ditto,” sahut Ayu sambil menatap
Ditto dengan tajam. “Lo yang bener kek sama dia, biar gue nggak
dicurhatin hampir dua puluh empat jam.”
“Halah, mana mungkin.”
“Pokokmua, yang bener deh sama si Milla. Perhatian dikit
kek, apa kek.”
“Iye, iye,” sahut Ditto dengan malas.
Setelah membicarakan Millam Ditto sebisa mungkin
menghindari topic tersebut. Kemudian Ayu pun mulai curhat
tentang pacar terbarunya yang bernama Azhar.
“Tapi kok gue ngerasanya kayak nggak nyambung ya
sama dia, To?”
“Nggak nyambung gimana?”
“Iya, kalo ngobrol tuh nggak kayak yang kita gini. Kadang
lancar, kadang kagok—bingung apa yang mau diomongin. Ujung-
ujungnya banyakan diem-dieman.”
“Mungkin karena lo belum terlalu kenal sama dia. Kita
kan hampir tiga tahunan, lha lo sama dia? Baru berapa bulan
kan.”
“Iya juga sih ya.”
Sore itu mereka habiskan bersama. Mengobrolkan apa saja
yang terlintas di benak mereka masing-masing. Namun dalam hati
Ditto, masih teringat jelas bagaimana cara Ayu membicarakan
Azhar. Sepertinya kali ini Ayu memang benar-benar sayang
Azhar. Terlihat dari bagaimana Ayu meminta saran kepadanya.
Cewek itu tidak secuek saat ia berpacaran dengan temannya yang
sesame artis itu beberapa bulan lalu.
Ada beberapa emosi yang berkecambuk dalam diri Ditto.
Ia tidak tahu sejak kapan ia bisa merasakan hal seperti ini, sedikit
sebal kalau Ayu punya pacar. Kesal kalau pacar-pacar Ayu
bertingkah kurang ajar dan membuat Ayu sedih saat putus. Hal
yang paling menyenangkan bagi Ditto adalah kalau Ayu bisa
happy dengan dirinya tanpa harus terusik oleh laki-laki lain yang
berstatus pacar Ayu.
Tapi walaupun begitu, ia sangat berusaha memendam
perasaannya sendiri. Ayu tak boleh mengetahui apa saja yang ia
rasakan….Setidaknya, saat ini belum waktunya.
***
Turnamen band SMP se-Jakarta saat itu diadakan di SMP 8.
Lapangan sekolah mereka yang luas sudah disulap menjadi area
lomba. Di mana ada deretan meja juri yang berada di beberapa
meter dari panggung. Sisa lapangan tersebut dipenuhi oleh
pendukung dari masing-masing sekolah.
Turnamen ini sudha berjalan sejak kemarin. Karena
banyaknya peserta, sesi penjurian dibagi menjadi dua hari.
Kemudian nanti sore akan terpilih band yang masuk ke dalam
babak final dan babak final akan diadakan dua hari kemudian.
Pihak sekolah sudah memberikan dispensasi untuk
anggota band SMP 19. Untungnya urutan tampil mereka ada di
sore hari. Jadi murid-murid sekolah mereka tidak perlu bolos dari
jam pelajaran—hal yang disyukuri oleh para guru namun tidak
disukai oleh murid yang lebih suka menonton turnamen dibanding
belajar.
“Grogi?” Ditto bertanya tanpa melirik Ayu yang duduk di
sebelahnya. Saat ini mereka duduk di pinggir lapangan, menonton
band dari SMP 13 yang sedang membawakan lagu di atas
panggung sana.
Mereka memang datang dari pagi untuk melihat semua
band yang unjuk gigi. Memperhatikan penampilan semua band
dan kadang-kadang berkomentar tentangnya.
“Sedikit,” aku Ayu ddengn jujur. “Lo nggak grogi?”
“Panggung itu hidup gue, Cha,” kelakar Ditto. “Santai aja,
ada gue ini di sini.” Ditto merangkul bahu Ayu untuk
menenangkannya.
Ayu tersenyum. Diam-diam ia menyetujui kata-kata Ditto.
Panggung dan perkusi adalah hidup Ditto. Ia selalu bisa melihat
bagaimana berbedanya Ditto saat sedang memainkan alat
musiknya.
Dan, hal itu bisa dilihat dari orang-orang yang memang
mencintai apa yang dilakukannya.
“Azhar jadi dateng?”
“Jadi, katanya bisa dateng pas band kita tampil.”
Ditto hanya mengangguk. Kemudian matanya menatap ke
sekeliling, mengamati banyaknya murid sekolah lain yang datang
masih lengkap dengan seragamnya.
“Eh, kita jarang foto bareng,” celetuk Ivan. “Gue bawa
kamera bokap gue nih. Foto yuk.”
Setelah menemukan sukarelawan untuk memotret mereka,
mereka berlima mulai mengatur posisi dan siap untuk dipotret.
Memang benar kata Ivan, mereka semua jarang foto bareng.
Lebih sering makan bareng daripada foto.
Setelah selesai, mereka langsung menyuruh Ivan untuk
nantinya mencetak foto itu untuk mereka semua.
Hari terasa berjalan cepat setelahnya. Terkadang ada
beberapa penampilan yang membuat Ayu jadi seikit jiper. Namun,
Ditto selalu menenangkannya. Berkata bahwa mereka pasti akan
tampil lebih baik daripada mereka.
Azhar datang setengah jam sebelum band mereka tampil.
Sisa setengah jam itu akhirnya dihabiskan Ayu dengan Azhar.
Ditto memilih untuk menyingkir dan bergabung dengan teman-
temannya yang baru datang.
Di saat seperti inilah, Ditto berharap hari akan segera
berlalu.
***
“Kak Ditto keren banget!” seru Milla saat Ditto sudah keluar dari
backstage sesuai penampilannya.
Teman-teman satu band Ditto hanya tertawa saat melihat
Milla sudah bersiap menyambut Ditto. Setelah menaruh
perkusinya ke dalam tas khusus, ia pun menggendong tas tersebut
dan menggiringi Milla agar sedikit menjauh dari area masuk
backstage.
“Sama siapa tadi ke sini?” tanya Ditto saat mereka sudah
bisa berbicara tanpa harus berteriak karena terlalu bising.
“Sama teman-temanku.”
Ditto mengangguk, ia terlampau bingung mau
menanyakan apa lagi. “Tungguin sampai pengumuman ya,” kata
Ditto pada akhirnya.
Milla mengangguk semangat. Kemudian keduanya
mencari tempat yang masih bisa mereka duduki namun tetap
menghadap ke arah panggung. Balkon lantai dua menjadi pilihan
mereka walau akhirnya harus berdiri supaya tetap bisa menatap ke
arah panggung.
Walaupun di bawah sana terdapat ratusan orang dengan
seragam putih biru yang hampir sama, entah bagaimana caranya
Ditto masiih bisa melihat yang mana Ayu di antara lautan
penonton.
Bersama Azhar.
Ditto berusaha utnuk mengalihkan pandangannya ke arah
lain, asalkan bukan terfokus kepada sahabatnya yang sedang
bersama pacarnya tersebut. Toh, sekarang pun ia sedang bersama
pacarnya sendiri.
Mereka sedang bersama pacar masing-masing, tapi kenapa
matanya tetap hanya terpake kepada Ayu?
***
Lanjut??
Like dulu sama komentar nyaa
Sekalian follow yah

TEMAN TAPI MENIKAH Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang