D E L A P A N
“Senang bisa berbagi banyak hal dengan lo.”
Juli 2005
Tahun ajaran baru ini adalah tahun ajaran baru yang Ayu
lewati lagi bersama Ditto. Ayu ingat, tiga tahun lalu ia bertemu
dengan Ditto di satu kelas dan kemudian benar-benar menjadi
sahabat selama tiga tahun. Saat ini, mereka seperti mengulangi
masa yang sama walaupun banyak hal yang berbeda.
Seperti senior yang lebih terlihat dewasa dibanding
mereka Atau kegiatan SMA yang terkesan ‘baru’ bagi mereka
yang baru saja lulus SMP.
Beruntungnya mereka karena mereka bisa satu sekolah.
Dari tiga pilihan SMA yang sejak awal kelas tiga sudah mereka
pilih, akhirnya mereka berdua berhasil masuk ke SMA 82 Jakarta.
Kalau dulu mereka bertemu di SMP karena satu kelompok
di MOS, saat MOS kali ini berlangsung mereka pun beda
kelompok. Jadi mereka hanya benar-benar bertemu lagi di saat
jam pulang sekolah. Karena di saat pergi sekolah mereka sudah
terlanjut pusing dengan kegiatan MOS yang kadang-kadang
menyebalkan.
“Akhirnya, selesai juga MOS itu,” gerutu Ayu saat
akhirnya mereka makan bersama di hari terakhir MOS. “Udah
resmi sekarang kita jadi anak SMA.”
“Akhirnya ya, gue nggak dikerjain lagi sama senior-senior
itu.” Ditto menggerutu sebal. “Eh, lo tadi udah liat pembagian
kelasnya kan?”
“Udah. Gue di kelas 1-3. Lo?”
“Ya elah, nggak sekelas,” sahut Ditto. “Gue di 1-5.”
“Semoga aja gue nggak nemu lagi anak setengil elo,” ucap
Ayu dibuat seserius mungkin. “Gue mau tobat ah di SMA ini.
Nggak mau sebandel dulu.”
“Oh, menurut lo, gue yang bikin lo jadi bandel?”
“Lha, yang sering ngajakin bolos siapa?” tuding Ayu.
“Heh, Jelek, dulu yang sering ngajak ngobrol pas di kelas sampe
ditegur guru siapa? Yak an elo.”
“Lo juga mau-mau aja diajak bolos.”
“Ya, kan diajak,” kilah Ayu tak mau kalah.
“Asem lo, Cha!”
Setelah saling tuduh dan tak jelas siapa yang salah, mereka
berdua hanya tertawa. Kembali mengenang bagaimana
persahabatan mereka di tiga tahun belakangan.
Duduk bersama Ditto selama tiga tahun membuat Ayu
telah terbiasa dengan kehadirannya. Ia selalu bersama Ditto di
kelas, di lapangan futsal, di studio band, di atas panggung
turnamen…. Semua itu sudah membuatnya terlanjur terbiasa
dengan kehadiran cowok tengil itu.
Saat mereka tahu bahwa mereka satu SMA, Ayu dan Ditto
senang bukan kepalang. Ditto sudah berencana akan mencoba
bolos dengan Ayu. Ayu sudah berencana akan selalu menonton
penampilan Ditto kalau cowok itu masuk ke dalam band sekolah.
Tapi saat keduanya tahu mereka berada di kelas yang
berbeda ada sedikit kekecewaan di sudut hati Ayu. Namun ia
berharap menyembunyikannya dengan baik. Ditto saja yang tak
tahu itu.
***
SMA jelas berbeda jauh dengan SMP. Baru kelas satu saja, mata
pelajarannya sudah lebih bikin pusing. Belum lagi dengan
penjurusan menjelang kelas dua nanti. Hal ini otomatis membuat
waktu Ayu dan Ditto lebih tersita banyak untuk urusan akademis.
Tak banyak yang berubah dari hubungan mereka sebagai
sepasang sahabat. Kedekatan keduanya pun langsung diketahui
oleh hampir seluruh teman-teman mereka.
Jelas saja, kalau ada waktu istirahat mereka yang tidak
disita untuk mengerjakan tugas, keduanya pasti langsung berjalan
bersama. Entah ikut main basket di lapangan atau sekadar makan
mi ayam di kantin.
“Lo udah tahu mau masuk ekskul apa?” Ditto bertanya
sambil mengaduk mi ayamnya yang baru datang.
“Nggak tahu nih, sekarang aja tiap pulang sekolah
langsung cabut.”
Ditto mengangguk paham. Jadwal Ayu semakin padat
setiap harinya. Hampir setiap pulang sekolah Ayu selalu langsung
pergi. Entah untuk syuting atau pemotretan.
“Lo pasti mau masuk band sekolah?” tebak Ayu.
“Iya, dong. Gue kan keren, makanya mereka langsung
nerima gue.”
“Narsis abis,” ledek Ayu sembari melempar tisu bekas
kepada Ditto. “Padahal belum tentu diterima. Anak band sekolah
sini kan udah yang senior semua.”
“Itu fakta, Cha.”
“Terserah lo deh, Jeleeek.”
“Nanti kalo gue manggung lo harus nonton ya,” celoteh
Ditto. “Selama ini kan lo satu panggung terus sama gue, belum
pernah liat pesona gue kalau lo ada di posisi penonton, kan?”
Ayu langsung berlagak ingin muntah dan Ditto tertawa
terbahak-bahak mengundang perhatian sebagian besar cewek-
cewek lain yang ada di kantin. Saat sadar bahwa ada yang benar-
benar menatapnya, Ditto pun melemparkan senyum andalannya.
Membuat cewek-cewek itu langsung membalas senyumnya
dengan semangat. Bahkan ada yang melambaikan tangan
kepadanya.
“Ampun deh, Ditto. Belum juga satu semester, udah tebar
pesona ke tiga angkatan sekaligus aja,” ejek Ayu saat melihat
kelakuan sahabatnya tersebut.
“Gue kan mencoba ramah,” bela Ditto. Ia mengacak
rambutnya yang sudah panjang, hampir mengenai telinga—batas
yang ditentukan pihak sekolah.
Kalau Ditto tetap memanjangkan rambutnya, sudah pasti
para guru akan berlomba untuk menggunting rambutnya atas
dasar kedisiplinan.
“Itu rambut lo potong, gih,” suruh Ayu saat menyadari
bahwa rambut Ditto hampir melewati batas yang ditentukan pihak
sekolah. “Dipotong BP mampus lo.”
Ditto melotot. Biasanya guru BP akan menggunting
rambut siswanya dengan tidak rapi dan cenderung berantakan
yang bisa bikin malu seharian. “Ahelah, rambut gue kan salah
satu faktor yang bikin cewek-cewek naksir gue.”
“Pala lo.”
Ditto ikut tertawa bersama Ayu. “Beneran. Lo nggak bisa
liat aja seberapa keren gue bagi cewek-cewek lain.”
Ayu hanya menggeleng sambil bergumam, “Dasar sableng
lo, To.”
***
Jangan lupa like sama komentar nyaa
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI MENIKAH
RomantiekProlog "Gue kira lo nggak balik ke sini," ujar Ayu begitu melihat sosok Ditto. Perhatian Ayu kembali kepada Ditto. Saat kedua mata sahabatnya menatap tetap di manik matanya, Ditto tertegun sesaat. Kemudian, keberanian yang tak pernah terkumpul sela...
