S A T U
“Gadis Kesayangan”Januari 2004
“Selamat ulang tahun, Ditto!”
Ucapan itulah yang membuatnya terjaga di tengah malam
seperti ini. Ditto tanpa sadar tersenyum, ada bagian hatinya yang
menghangat tiap mengingat tradisi kecil mereka seperti saat ini.
“Thanks, Cha—“
“Semoga lo panjang umur, sehat terus, makin keren, dan
semoga besok bisa traktir gue mi ayam.”
Ditto langsung tertawa begitu mendengar doa dari
sahabatnya melalui sambungan telepon ini. “Sialan lo, Cha.”
“Yee, gue kan doain yang baik buat elo,” sungut Ayu. Tak
lama, ia menguap pelan dan terengar jelas oleh Ditto. “Udah ah,
gue tidur dulu. Besok jangan lupa traktirannya.”
“Iya, bawel.”
“Dah, Ditto!”
Sambungan telepon tersebut langsung terputus begitu saja.
Namun, senyum yang sejak tadi muncul sejak Ayu mengucapkan
selamat ulang tahun kepadanya tak juga hilang dari wajahnya.
Ini subuh ulang tahun kedua yang ia lalui dengan
menunggu telepon Ayu di pergantian hari. Dan rasanya, ritual
seperti inilah yang dinantikan olehnya ketimbang kejutan ulang
tahun dari orang lain.
Karena ia selalu merasa istimewa jika semua berhubungan
dengan Ayu.
***
Ruangan studio itu tak pernah hening sejak mereka berlima
masuk ke dalamnya. Hari ini adalah hari Selasa yang merupakan
jadwal rutin band sekolah untuk latihan. Band SMP 19 ini
merupakan salah satu ekskul yang diikuti oleh Ayu dan Ditto. Duo
sahabat yang tak pernah terlihat terpisah di mana pun mereka
berada.
Setelah hampir tiga jam mereka latihan, Doni sang
Pembina ekskul memutuskan untuk mengakhiri sesi latihan hari
ini. Ditto menghembuskan napas lega. Tanganya sudah agak lelah
memainkan perkusinya hampir tiga jam lamanya.
“Makan-makan ya abis ini,” gumam Ayu seraya menyikut
Ditto. “Gue laper nih, si Doni selalu mulai gila kalau udah mau
lomba.”
Ditto terkekeh pelan. “Iya, iya.”
Setelah sesi latihan selesai, Ditto dan Ayu buru-buru
meninggalkan studio. Membuat Doni dan teman-teman mereka
yang lain berteriak protes karena tidak diajak untuk traktiran.
Ayu dan Ditto hanya tertawa, sepanjang perjalanan
menuju tempat makan favorit mereka diisi oleh candaan seperti
biasanya.“Eh, kok gue nggak ngeliat lo ketemu si Damu ya hari
ini?” tanya Ayu begitu mereka sudah sampai di kedai mi ayam
yang tak jauh dari sekolah mereka. “Dari kemarin juga gitu, deh.”
“Gue udah bosen sama dia,” jawab Ditto dengan enteng.
“Pesen dulu sana.”
Ayu pun menurut, ia menulis pesanannya di secarik kertas
yang memang disediakan di atas meja. Kedai mi ayam ini
memang terkenal enaknya, membuatnya tak pernah sepi
pengunjung. Dari yang memang tinggal di dekat sini sampai yang
jauh-jauh hanya untuk membuktikan kelezatannya.
Ini tahun kedua Ayu dan Ditto bersahabat. Si supel Ditto
dan si tomboi Ayu memang tak terpisahkan, begitu kata murid-
murid SMP 19. Hampir dua tahun yang lalu, mereka bertemu
karena satu kelompok saat MOS dan kemudian satu kelas.
Kemudian, dengan terlihat begitu alaminya, kedua orang
itu pun mulai bersahabat.
Ke mana-mana selalu bersama. Bahkan Ditto mengajak
Ayu untuk bergabung di band sekolah. Ayu menjadi vokalis
bersama Ola dan Ditto di bagian perkusi. Ayu pun menerima
tawaran itu dengan senang hati. Ia tidak pernah tahu bahwa …
Ditto sebenarnya punya maksud lain saat mengajak Ayu
bergabung ke dalam band.
“Ya udah putusin ajalah,” sahut Ayu dnegan santai saat
mengingat pacar Ditto yang sekarang.
“Putusin?” ulang Ditto.
“Iya, putusin aja.”
Ditto hanya bisa menggeleng samar sambil tertawa. “Ya,
liat nanti ajalah,” katanya.
Beberapa hari berselang, Damu menghampiri Ditto sesuai
pulang sekolah. Cewek yang mempunyai senyum dengan lesung
pipit yang menarik itu terlihat begitu senang saat bertemu dengan
Ditto. Berbeda dengan Ditto yang mulai pasang poker face
andalannya.
“Nih, buat kamu,” katanya sambil menyerahkan sebuah
kandang kecil berisikan hamster kepada Ditto yang mengernyit
bingung. “Hadiah buat kamu.”
“Hamster?” tanya Ditto dengan heran.
Namun Damu tak membaca keheranan Ditto. Mereka
sudah berpacaran selama empat bulan, jadi aneh rasanya kalau
Damu tidak memberikan apa pun untuk Ditto sebagai hadiah.
Hamster menjadi pilihan yang tepat baginya karena hewan itu
terlihat menggemaskan dan bisa untuk dipelihara.
“Iya.” Damu tersenyum menatap Ditto. “Dijaga ya
hamsternya.”
Setelah menyerahkan hamster tersebut, Damu pamit
pulang dan meninggalkan Ditto yang terduduk di koridor kelas
bersama seekor hamster di kandang kecilnya.
Ditto menatap hamster tersebut dnegan bingung. Masa iya
dia harus memelihara hamster?
Lagian anak mana, sih, yang memberikan hamster kepada
pacarnya?
Kelas yang bersebelahan dengannya baru selesai kegiatan
belajarnya. Anak-anak kelas itu langsung berebut untuk keluar
kelas dan Ayu ada di antara mereka.
“Ucha!”
Mendengar ada yang memanggilnya, Ayu menoleh dan
mendapati Ditto sedang duduk di koridor.
“Mau langsung balik?” tanya Ditto.
Ayu mengangguk. “Ada syuting, nih,” jawabnya. Cewek
itu memang sudah menekuni kariernya di dunia hiburan sejak
kecil. Saat Ditto pertama kali melihat Ayu masuk ke kelas di hari
pertama MOS pun, Ditto langsung mengenali Ayu. Siapa sangka
sekarang ia jadi bersahabat dengan cewek tomboy ini?
“Eh, apaan tuh?”
Ditto bangkit dari duduknya sambil mengambil kandang
hamster tersebut. “Hamster.”
“Dikasih cewek gue.”
“Hah? Damu ngasih lo hamster?”
Ditto mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Ayu
langsung tertawa keras hingga membuat Ditto jengkel.
“Apaan sih, Cha!” serunya jengkel. Tuh kan, memberikan
hamster itu adalah hal konyol!
“Lo mau bawa pulang tu hamster?” tanya Ayu setelah
tawanya reda. Mata cewek itu berkilat jail, hari ini ia mendapat
bahan ledakan terbaru untuk sahabatnya ini. Cowok hamster!
Ditto mengedikkan bahunya. Satu tangannya yang bebas
ia gunakan untuk menyugar rambutnya yang berantakan. Dalam
hati ia menggerutu, ada-ada aja sih si Damu. Mana gue iya-iya
aja lagi.” Lo pikir aja sendiri, Cha.”
“Tinggalin aja di sekolah,” usul Ayu dengan santainya.
Cewek itu ingat obrolannya dengan Ditto, cowok itu sudah bosan
dengan Damu. Dan ketika cewek itu memberikan kado yang
‘kurnag tepat’, hal ini akan menjadi alasan yang lumayan dan bisa
memuluskan rencana Ditto kalau ia benar-benar ingin putus. “Biar
sekalian putus!”
Satu alis Ditto terangkat. Ia memang sudah bosan dengan
Damu. Apalagi tidak satu geng, jadi intensitas pertemuan mereka
dalam sehari tidak begitu banyak. Beda dengan Ayu yang sudah
satu kelas dengannya, satu band juga, dan cewek ini selalu
mengekori Ditto ketika di sekolah.
“Ya udah. Enaknya ditaro di mana?” tanya Ditto sambil
nyengir lebar. Mereka berdua pun ber-high five ria sebelum
menjalankan rencana dadakan tersebut.
***
Lanjutin ngak?
Like dulu sama komentar nyaa

KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI MENIKAH
RomansaProlog "Gue kira lo nggak balik ke sini," ujar Ayu begitu melihat sosok Ditto. Perhatian Ayu kembali kepada Ditto. Saat kedua mata sahabatnya menatap tetap di manik matanya, Ditto tertegun sesaat. Kemudian, keberanian yang tak pernah terkumpul sela...