“Jodoh itu nggak usah jauh nyarinya. Lihat di
sekeliling lo, siapa tahu salah satunya jadi jodoh lo.”Februari 2006
Semester dua berlalu dengan cepat. Murid kelas satu
sudah diminta memikirkan mau ke jurusan apa mereka nanti di
kelas dua. Mau IPA atau IPS. Nilai rapor dua semester ini juga
akan menentukan ke mana mereka nantinya.
Namun baik Ayu
maupun Ditto belum terlalu memikirkannya untuk saat ini.
Seiring dengan berjalannya waktu, sekarang Ditto sudah
punya pacar baru.
Icha sudah ia putuskan tepat tiga hari setelah ia
bicara dengan Ayu. Di hari Sabtu, saat mereka jalan bersama.
Yang langsung membuat Icha marah adalah karena ia merasa
tidak ada yang salah dengan hubungan mereka selama ini. jadi
kenapa putus?
Ayu harus rela waktu istirahatnya dijarah oleh Icha untuk
curhat selama seminggu penuh.
Membuat waktunya bersama
Ditto semakin sedikit, karena tiap kali melihat cowok ia mampir
ke kelasnya untuk sekadar bolos satu mata pelajaran atau ke
kantin saat jam istirahat, Icha selalu terlihat seperti menahan
tangis.
Yah, lo bukan yang pertama kok, Cha, batin Ayu.
“Gimana pun, gue harus move on, Yu,” ujar Icha saat
mereka sedang berjalan ke kelas ketika lima menit lagi bel masuk
berbunyi.
.
.
.
Lorong-lorong terasa ramai karena mayoritas murid
berada di luar kelas saat jam istiharat. Beberapa kali mereka
berdua disenggol oleh siswa yang berdatangan dari arah
berlawanan. Namun walaupun begitu. Icha tetap melanjutkan
ceritanya.
“Toh si Ditto juga udah punya yang baru.”
Ayu terbelalak kaget. Jangan bilang si Asa! Batinnya.
“Siapa?” tanya Ayu.
“Tuh, liat aja.”
Di pinggir lapangan, Ayu mengenali beberapa teman Ditto
di ekskul futsal sedang duduk-duduk di atas lapangan yang tak
terkena sinar matahari sambil mengibaskan baju seragam mereka
untuk mengusir gerah. Dan di antara mereka, ada Ditto yang
sedang minum air mineral pemberian dari cewek di sebelahnya.
Cewek berambut agak ikal dengan kulit sawo matang dan
perawakannya yang tinggi. Itu Asa, murid kelas dua yang tempo
hari sempat disinggung oleh Ditto.
Mata Ayu sukses melotot ketika akhirnya benar-benar
menangkap kebersamaan Ditto dan—yang dugaan Ayu—cewek
barunya tersebut, Icha yang sudah tidak tahan melihat mantannya
tersebut dengan pacar barunya, langsung menggandeng Ayu dan
menyeretnya ke kelas.
Ditto berutang satu penjelasan kepada Ayu.
***
Di mata pelajaran terakhir, guru Fisika kelas Ayu tidak masuk dan
menitipkan tugas kepada guru piket untuk disampaikan kepada
ketua kelas. Setelah ketua kelasnya mengumumkan
ketidakhadiran guru tersebut dan tugas yang diberikan, Ayu
langsung meraih tasnya dan mengendap ke dekat pintu kelas
sebelah.
Kelas sebelah juga tak kalah ribut dari kelasnya. Ketika
Ayu melongok melalui pintu kelas yang terbuka lebar, di kelas
tersebut juga tidak ada gurunya. Entah ke mana. Jadilah Ayu
memutuskan untuk memanggil Ditto.
“To! Ditto!”
Yang dipanggil akhirnya menengok. Tadinya ia sedang
mengobrol dengan Tio, Fero, dan Bagus mengenai pertandingan
futsal yang sebentar lagi akan digelar. Juga tentang rencana
LDKS—Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa—yang diwajibkan
untuk anggota OSIS seperti mereka.
Ditto pun menghampiri Ayu yang berdiri di pintu
kelasnya.
“Kenapa?”
“Guru lo mana?”
“Ke ruang guru, cape katanya ngadepin kelas gue,” jawab
Ditto sambil tertawa. Kelasnya memang yang paling ribut
dibanding kelas lain. Sudah bukan hal baru lagi guru-guru
‘ngambek’ karena ulah mereka.
“Wartam, yuk.” Ayu mengedikkan bahunya. Tanpa
menunggu Ditto, ia segera berjalan mengendap-endap menuju ke
luar sekolah.
Ditto menggeleng pelan, kemudia segera meraih buku dan
peralatan tulisnya di meja lalu dimasukkan ke dalam tasnya.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia
meninggalkan kelas dan berjalan mengendap-endap di sepanjang
koridor kelas menuju pintu gerbang.
Bagaimanapun saat ini masih jam pelajaran dan ia sudah
membawa tas, kalau ada guru yang melihatnya, pasti ia akan
langsung ditangkap dan dibilang membolos.
Walaupun, memang benar ia membolos.
Sesampainya di Wartam, ia langsung menyusul Ayu untuk
duduk di tempat biasanya.
“Lo beneran jadian sama Asa?” todong Ayu begitu Ditto
duduk di hadapannya.
“Iya,” jawab Ditto. “Gue baru mau cerita sama lo. Abisnya
dari kemarin lo dibuntutin Icha atau nggak Arman.”
Ayu mengembuskan napasnya perlahan. “Ngapain sih
sama dia?” tanya Ayu sebal. Dan ini bukan pertama kalinya ia
bertanya hal tersebut pada Ditto. “Lo tuh nggak cocok sama dia,
tahu.”
“Nggak cocok dari mananya sih, Cha?”
“Ya…Nggak cocok aja. Emang lo nggak nyadar apa?”
“Nggak, tuh.”
“Haaah, dasar freak,” ledek Ayu. “Gila, ya, playboy banget
sih lo.”
Ditto hanya tertawa.
Ayu memilih diam kemudian beranjak berdiri, ingin
memesan segelas es teh manis. Saat ia kembali ke tempatnya
terdengar bunyi bel sekolah yang menandakan waktunya pulang.
Tak lama, seorang cowok bertubuh tinggi tegap dengan ranselyang dicangklong di satu bahunya, mendatangi meja mereka dan
duduk di samping Ayu.
“Lho, kok kamu udah di sini aja, sih?” tanya Arman begitu
duduk di samping Ayu. “Tadi aku ke kelas kamu, tapi kelasnya
udah kosong.”
Ayu tertawa. “Iya, tadi gurunya nggak ada, langsung cabut
aja, deh.”
Arman hanya tertawa sambil menggeleng, kemudian
menoleh ke depan, mendapati Ditto sedang menatap mereka
berdua. “Hai, bro,” sapa Arman. Keduanya bersalaman ala
cowok-cowok kebanyakan. “Lo bolos juga?”
Ditto menuding Ayu. “Diajakin si Ucha.”
Ayu hanya mendelik kesal. Sebelu ia sempat bicara,
Arman sudah lebih dulu meraih tangannya dan bangkit berdiri.
“To, gue mau ngajak jalan Ayu. Sorry ya kita tinggal.”
“Oh, nggak apa-apa,” sahut Ditto. “Gue juga mau ngajak
Asa jalan.”
Jelas kata-kata itu membuat Ayu memutar bola matanya.
Kalau sudah jadian begini, tinggal tunggu saja kapan Ditto akan
bosan dengan Asa—seperti yang sudah-sudah. Ibarat makanan,
hubungan Ditto selalu punya tenggat waktunya. Hubungan Ditto
pasti akan kadaluarsa.
“Duluan, ya.”
Ditto mengangguk. Ayu pun tidak menolak saat Arman
membawanya pergi dari Wartam.Ditto menatap kepergian Ayu dengan berbagai pikiran di
benaknya. Dari kejauhan seperti ini, ia masih bisa melihat Arman
yang menggenggam tangan Ayu.
Tangan sahabatnya itu.
Tangan itu sudah berkali-kali ia lihat menggandengan
cowok lainnya, tapi tidak pernah ada cowok yang membuatnya
tenang dan senang untuk bersama Ayu.
Ditto mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Sejak
kapan sih jadi begini terhadap sahabatanya sendiri? Dan sampai
kapan? Ia sudah berpacaran dengan beberapa cewek tapi tetap
saja, Ayu selalu menjadi sosok pertama yang melintas di
benaknya.
***
Maaf gengs klo aku update nya lama soalnya lagi sibuk bgt
.
.
.
Sorry yah, abis ini aku janji bakal lebih sering update

KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI MENIKAH
RomanceProlog "Gue kira lo nggak balik ke sini," ujar Ayu begitu melihat sosok Ditto. Perhatian Ayu kembali kepada Ditto. Saat kedua mata sahabatnya menatap tetap di manik matanya, Ditto tertegun sesaat. Kemudian, keberanian yang tak pernah terkumpul sela...