A6

3.8K 226 29
                                        


kita kembali asing, di hati masing-masing

Jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Adnan pun sudah bangun. Hanya saja ia masih duduk dan memandangi Adel yang masih tertidur pulas sambil membelakangi dirinya. Tangan Adnan mengelus lembut rambut Adel.

"Maaf karena belum bisa bikin kamu bahagia, Del," gumam Adnan.

Adel menggeliat. Ia berganti posisi menjadi menghadap kearah Adnan. Namun tak berselang lama, Adel membuka matanya.

"Eh? Udah bangun?" tanya Adel pada Adnan sambil mengucek matanya.

"Hari ini aku ngajar," jawab Adnan kemudian bangkit beranjak dari kasur untuk menuju kamar mandi.

Adel kemudian bangun. Ia keluar dari kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Adel membuka kulkas. Ia berinisiatif untuk membuat sarapan.

"Sarapan pake apaan, ya?" pikir Adel.

Tanpa pikir panjang, Adel mengambil susu dan roti. Ia kemudian memanggang roti terlebih dahulu dan menyiapkan susu hangat untuknya dan Adnan. Setelah selesai menyiapkan sarapan, Adel kembali ke kamar dan melihat Adnan yang sudah rapi.

"Dari mana kamu?" tanya Adnan heran karena sebelumnya tidak menemukan Adel di kamar.

"Nyiapin sarapan buat kita," jawab Adel seadanya.

"Kita?" Adnan sedikit kaget dengan penggunaan kata 'kita' yang baru saja terucap dari mulut Adel.

"Iya. Kenapa?" jawab Adel.

"Akhirnya kamu ngakuin aku," tutur Adnan pelan, namun masih bisa terdengar oleh Adel.

Adel mengerutkan keningnya. Tetapi ia tak berkomentar dan hanya berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Adel telah siap dengan seragamnya. Ia kemudian menyisir rambutnya. Setelah itu Adel memakai bedak. Tak lupa pula memakai maskara dan liptint. Adnan terus memperhatikan gerak-gerik Ade.

"Kamu ini mau sekolah apa fashion show sih. Pake make up segala," Adnan berkomentar. Adel langsung mendelik kearah Adnan.

"Suka-suka gue dong," sahut Adel tak suka.

"Kamu itu baru 17 tahun, Adelia. Tampil natural aja," kata Adnan memberi nasehat.

"Oh ya, liptint gue mau abis. Beliin ya?" pinta Adel tanpa memperdulikan nasehat yang baru saja dilontarkan oleh suaminya barusan.

"Berapa?" tanya Adnan.

"Paling 100 ribu," jawab Adel. Adnan langsung membulatkan matanya.

"Gila. Cuma liptint doang harganya 100 ribu? Cuma buat bibir, kan? Sehat?" protes Adnan karena menurutnya harga untuk sebuah pewarna bibir terlalu mahal. Adel menatap tajam kearah Adnan.

"Namanya juga cewek. Keperluannya banyak," jawab Adel tak terima. "Kalo gue cantik, lu nya kan gak malu juga punya istri kek gue."

Adnan mengulum senyum. Adnan memang tak terima dengan harga liptint yang mahal, menurutnya. Tetapi disatu sisi, ia juga membenarkan ucapan Adel barusan. Setulus-tulusnya cowok, mereka pasti bangga punya cewek cantik. Ya, kan?

"Iya, aku usahain..." kata Adnan pasrah.

"Jangan pake lama, ya?" balas Adel.

Setelah sarapan, Adel dan Adnan berangkat ke sekolah. Meskipun tujuannya sama, mereka tetap berangkat masing-masing. Adnan berangkat dengan motornya, sedangkan Adel berangkat dengan naik bus. Mulai hari ini Adel belajar berhemat dengan naik bus.

Adel tiba di sekolahnya. Luna yang kebetulan baru tiba juga, langsung menghampiri Adel karena melihat Adel yang datang ke sekolah tidak menggunakan mobilnya.

Mi dispiace (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang