A3

4.5K 286 87
                                        


Bukannya boros, tapi hidup memang perlu banyak biaya, kan?


Happy Reading ❤️



Hari dimana mimpi buruknya menjadi kenyataan akhirnya tiba. Adel benar-benar tidak menyangka bahwa hal gila seperti ini terjadi padanya. Adel menatap dirinya yang mengenakan baju pengantin berwarna putih di cermin. Gaun yang sangat sederhana, sama sekali bukan gayanya. Bahkan pernikahannya hanya dihadiri oleh kedua orangtuanya saja. Adel sendiri bingung kemana orang tuanya dari calon suaminya itu. Apakah dia seorang yatim piatu?

Al memang sengaja melangsungkan acara pernikahan Adel sesederhana mungkin karena usia Adel yang masih terlalu muda dan juga posisi Adnan yang belum mantap dan ini bisa membuat harga sahamnya turun.

Selama pengucapan janji, Adel terus saja cemberut. Bahkan tak ada cincin pernikahan yang diberikan Adnan pada Adel. Benar jauh berbeda dengan bayangan Adel tentang pernikahan mewah bak negeri dongeng. Hal ini tentu membuat Adel semakin membenci Adnan. Ditambah lagi, setelah menikah Adel harus ikut Adnan tinggal di kost kecilnya. Adel benar-benar merasakan dunianya berubah tanpa perlu menunggu Daddy nya bangkrut terlebih dahulu.

Adel menatap jijik kost yang akan ditinggalinya bersama Adnan. Sangat kecil dan sederhana. Mungkin hanya sebesar kamar mandinya di rumah orangtuanya.

"Lu yakin kita tinggal disini?" tanya Adel. Sekarang Adel sudah tidak berbicara formal lagi pada Adnan yang sekarang sudah menjadi suaminya yang miskin.

"Kenapa? Ada masalah?" Adnan justru berbalik bertanya.

"Gue tidur dimana?" tanya Adel lagi.

"Yaiyalah sama aku," jawab Adnan dengan santai.

"Gue gak mau! Sempit!" tolak Adel sarkartis.

"Iya aku tau kamu masih sempit..." jawab Adnan enteng. Wajah Adel memerah. Ia langsung melempari Adnan dengan bantal  yang berada tidak jauh darinya.

"Sekali lagi lu ngomong vulgar, gue abisin lu!" ancam Adel sambil menunjuk ke arah Adnan. Pria itu justru tertawa.

"Mandi sana cepat!" suruh Adnan kepada Adel.

"Siapa lu nyuruh-nyuruh gue?" gusar Adel berkacak pinggang.

"S-U-A-M-I mu," jawab Adnan penuh penekanan.

"Gue mau mandi. Awas lu ngintip!" Adel memperingatkan Adnan.

"Kamu ngasih aku ide bagus," sahut Adnan bercanda. Adel langsung mendelik kearahnya. Adnan tertawa kemudian memilih keluar kamar.

Setelah mandi, Adel mengenakan baju kaos kebesaran dan hotpants. Ia kemudian keluar dari kamar untuk mencari sosok Adnan.

"Kamu mau makan?" tanya Adnan begitu Adel menghampirinya. Adel mengangguk.

Adnan kemudian menghampiri Adel dan menariknya menuju meja makan.
"Tunggu disini, aku bikinin omelette..." tutur Adnan.

15 menit kemudian omelette buatan Adnan telah siap. Ia menyajikan di piring kemudian memberikan kepada Adel yang sudah menunggu.

"Bisa makan omelette, kan?" tanya Adnan memastikan. Pasalnya ia tahu istrinya ini dibesarkan dengan kemewahan oleh orang tuanya, ia harus benar-benar memastikan bahwa Adel memang bisa makan makanan olahannya.

"...." Adel hanya diam kemudian memotong omelettenya dan memasukkannya kedalam mulut.

"Gimana?" tanya Adnan. "Enak?"

"Hm..." Adel hanya bergumam.

"Hm? Maksudnya?" tanya Adnan lagi.

"Enak," jawab Adel singkat. "Cuma ini?"

Mi dispiace (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang