Kina melambaikan tangannya tepat di depan wajah vanya. Gadis berkuncir satu itu menoleh ke Kina sambil mengerutkan dahi.
"Jangan bengong lo ah. Dengerin tuh penjelasan guru"
"Rasanya gue pengen bolos kin"
"Hah? Gue ngga liat pake headset"
Vanya hanya mendengus. Hari ini ia sudah lelah sama perlakuan lucas ke dia. Yang dingin lah terus tiba-tiba ramah dan dingin lagi.
Maunya lucas apa sih?
Sebisa mungkin vanya harus jaga jarak sama lucas. Ia harus menjaga hatinya buat mark. Walaupun vanya tidak tahu hati mark buat siapa. Tapi dia yakin mark juga seperti itu.
Seketika vanya cemberut. Tapi sekarang mark sudah berubah. Dia bukan anak kecil lagi yang akan melindungi vanya. Pasti perasaan mark juga sudah berubah.
So?
"Baiklah anak-anak cukup segini dulu ya. Silahkan hal 127 untuk tugas rumah. Minggu depan dikumpulkan,"
"Baiikkk bu"
"Hah, akhirnya"
"Vanya!"
Vanya maupun Kina sama-sama menoleh ke arah pintu waktu haechan teriak. Di sana udah ada haechan yang cengengesan sama mark yang sedang main hape.
"Ciyee tuh udah ditunggu. Sana gih"
"Hei, emang lo ga pulang apa sama haechan?"
"Oh ya pulang sih. Haechan udah janji mau beliin gue ramen. Kalah main dia kemarin"
Vanya mengangguk. Ia segera membereskan bukunya lalu keluar kelas diikuti sama Kina.
Tapi suara lantang membuat vanya berhenti. Mark langsung berdiri tegak dan menatap vanya. Haechan melongo di tempat.
"vANYA PACAR GUE! JANGAN LO GANGGU MARK!"
Sedetik kemudian ada yang menarik vanya ke belakang.
Lucas memeluk lehernya, memandang mark datar sambil mengangkat satu alisnya.
Mark tersenyum miring.
"Sejak kapan lo pacaran sama vanya? Lo siapa sih, ngaku-ngaku aja. Ga laku ya sampe ngaku kalo vanya pacar lo?"
Mark berjalan ke arah vanya. Vanya hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.
Vanya bisa merasakan hembusan nafas dan detak jantung lucas yang tidak beraturan.
Saat mark ingin menarik vanya, tanpa babibu lucas langsung memutar tubuh vanya dan menciumnya.
Chu~~~
wHATTTTT???!!!!
"Kurang ajar!"
Bugh.
Vanya terperanjat saat lucas terdorong ke belakang sampai kepalanya terbentur meja keras.
"Van ayo pulang!"
Mark segera menarik tangan vanya dengan kasar.
"Bentar mark, itu lucas-"
"Dia udah berani nyium lo. Kenapa masih dibelain?"
Aksi Mark yang memukul Lucas sampai terbentur meja membuat seisi kelas maupun orang di luar kelas berebutan untuk melihat. Vanya yang risih hanya bisa pasrah dibawa mark keluar.
Sedangkan Lucas, ia tersenyum miring sambil mengelap darah di sudut bibirnya. Dan ia baru sadar satu hal, tubuhnya agak limbung, penglihatannya memudar. Lucas segera berlari dan menabrak Vanya yang ada di depan koridor.
"Akh!"
"Maaf van,"
Suara lirih Lucas membuat vanya berhenti sambil memandang punggung lucas yang berlari ke lapangan.
"Van?"
"Lo seharusnya ga langsung main tonjok mark. Lo anak baru, gue ga mau citra lo langsung buruk"
"Dia udah nyium lo, itu setimpal kali van"
"Ya tapi kan cuma di pipi mark, bukan di bibir"
"Kalo dibibir mungkin udah gue habisin tuh anak"
Vanya meringis, sejak kapan mark jadi sekasar ini.
"Lo ga papa kan?" Mark memegang pipi Vanya.
Blushh
Pipi Vanya memerah. Melihat Mark dengan jarak dekat seperti ini membuatnya salah tingkah.
"Ngg..ga papa kok mark. Udah yuk pulang."
Line!
Lucas : ini baru awal nya, bkn apa-apa kalo gue ditonjok Lucas : mungkin itu rintangan gue buat dapetin lo Lucas : lo akan secepatnya suka ma gue
/read/
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________________________
| jadi, cause tgas banyak. Uas, responsi, laporan (': W jadi jarang update.