Disinilah Letta bersama Jesse di taman bermain, Jesse sedang membeli tiket untuknya dan untuk Letta. "Ayo masuk" ajak Jesse, tanpa basa-basi Letta mengikuti Jesse memasuki area taman bermain.
"Lo mau naik wahana apa dulu?" tawar Jesse
"Terserah lo" jawab Letta.
"Gue naiknya yang ekstrim-ekstrim loh, nanti kalau lo gakuat gimana?" sombong Jesse kepada Letta.
"Kita liat deh siapa sebenernya yang gakuat" tantang Letta.
Jesse berjalan menuju wahana rollercoaster dengan Letta mengekor di belakangnya. Setelah menunggu agak lama, mulailah giliran mereka. Sialnya mereka mendapatkan tempat duduk paling depan.
"Lo kalau gakuat bilang aja dari sekarang" ucap Jesse kepada Letta.
"Sorry, lo aja kali. Ngaca deh muka lo udah ketakutan banget" sebenarnya Letta juga sedikit ketakutan, tapi saat ia melihat muka Jesse dia tahu siapa yang akan kalah.
Rollercoaster sudah mulai berjalan, degupan jantung berdetak makin cepat. Pelan-pelan rollercoaster naik ke atas lalu sekitar 35 derajat turun kebawah dan menukik ke kanan, lalu terus berjalan. Membuat orang-orang yang menaikinya teriak histeris tanpa terkecuali Jesse dan Letta, terutama Jesse dia berteriak sangat keras melebihi teriakan cewe-cewe di belakangnya.
Beberapa menit kemudian Rollercoaster berhenti. Letta dan Jesse turun lalu duduk di kursi panjang sekitar wahana. Letta merasa perutnya sedikit mual dan kepalanya sedikit pusing. Tiba-tiba Jesse berlali menuju toilet terdekat, sudah dapat dipastikan apa yang terjadi dengannya.
"Jadi, siapa yang gakuat disini?" tanya Letta bangga saat Jesse sudah menghampirinya.
"Oke-oke, lo menang" aku Jesse sebari duduk dan masih memegangi perutnya akibat mual.
"Lo sih so jago" ucap Letta sebari meninju lengan atas Jesse dengan pelan dan tertawa.
"Aish... Akhirnya lo ketawa juga, gue seneng kalau lo ketawa" senyum Jesse kepada Letta
"Lo kira gue gabisa ketawa, yaudah yu lanjut" ajak Letta sebari beranjak dari kursi.
...
Kini Letta dan Jesse sedang berada di stand cofee setelah menaiki beberapa wahana yang selalu dimenangi oleh Letta. Letta beberapa kali menyesap Latte kesukaannya tanpa adanya obrolan dengan Jesse.
"Udah ini mau naik apa lagi?" tanya Letta memecah keheningan
"Hmm..." tanpak Jesse berfikir sejenak "Wahana seribu umat, yang wajib dinaikin kalau ke taman hiburan, apalagi kalau bukan bianglala" lanjut Jesse.
Sontak Letta terdiam mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang membuat ia trauma untuk menaiki bianglala. Kejadian yang berhasil merengut nyawa seseorang yang Letta sayang. Hatinya tiba-tiba terasa dingin, air matanya sudah menyeruak ingin keluar yang diatahan oleh Letta.
"Letta, lo kenapa? Hei!" Jesse menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Letta. Sontak Letta tersadar. "Lo gapapa? Lo kaya yang mau nangis gitu" sambung Jesse.
"Gue... gue punya kejadian tragis tentang bianglala. Orang yang gue sayang jatuh dari bianglala di depan gue" jelas Letta begitu saja.
"Yaudah kita gausah naik, oke?" tawar Jesse
"Tapi gue mau ngilangin trauma gue" tatap Letta kepada Jesse "Gue mau naik bianglala sekarang juga" tegas Letta. Lekas Letta beranjak dari kursi menuju antrean bianglala. Jesse mengikuti. Datanglah giliran mereka menaiki wahana itu. Letta masuk kedalam kapsul bianglala diikuti Jesse.
Letta terpenjam sebentar mengingat kejadian saat ia dan seorang cowo duduk berdua di dalam kapsul bianglala. Tanpa sepengetahuan mereka pintu kapsul tidak terkunci dengan benar. Akibatnya saat tangan cowo itu bersandar pada pintu, pintu pun terbuka membuat keseimbangannya hilang dan terjatuh dari ketinggian bianglala. Letta langsung teriak dan menangis histeris. Saat Letta turun, yang ia lihat hanyalah tangan cowo itu saja karena seluruh tubuhya sudah tertutup kain mayat. Letta berusah membuka kain penutup di wajahnya, dan yang Letta lihat hanyal wajah yang hancur tanpa bisa dikenali lagi. Tubuh Letta terduduk di lanta kembali menangis histeris, lalu semua gelap. Kejadian itu tidak pernah Letta lupa, kejadian yang merengut nyawa kekasihnya.
"Letta" panggil Jesse sebari menggenggam tangan Letta, sang pemilik tangan membuka matanya melihat wajah Jesse di hadapannya. "Bianglalanya udah jalan, kita gabakal kenapa-kenapa oke? liat pemandangan dari sini bagus" Jesse menengokkan kepalanya melihat pemandangan dan masih menggenggam tangan Letta.
Letta pun memberanikan diri mengikuti Jesse melihat pemandangan diluar kapsulnya. Ia tercengang dengan pemandangan itu. Letta mulai tersenyum lagi, dan Jesse tersenyum melihat pemandangan seseorang yang sedang tersenyum di hadapannya itu.
Beberapa menit kemudian Jesse dan Letta sedang berjalan dengan Letta yang membawa boneka hasil permainan melempar bola yang Jesse dapatkan. Hari sudah gelap mereka berencana untuk pulang.
"Makasih Jesse untuk hari ini." ucap Letta dengan senyumnya.
"No prob, lo pulang ke rumah?" tanya Jesse mengingat kejadian tadi siang.
"Gue pikir lagi ga deh, gue pulang ke apartemen Elena aja" jelas Alleta
"Elena?"
"Dia pacar kakak gue. Semoga dia mau nerima gue satu malem ini" jelas Letta dengan cengiran.
"Oke gue anter sampai sana, gabaik cewe jalan sendirian waktu malem" ucap Jesse
....
Kamar 208 lantai tiga, kini Letta dan Jesse menunggu sang empunya keluar dari sana. Terlihat perempuan berambut pirang sedikit lebih tua dari Letta dan Jesse membuka pintu.
"Hai Letta! Silahkan masuk" seperti biasa, Elena ramah kepada Letta. "dan siapa ini?" tanyanya menatap Jesse"
"Hai, Jesse. Temannya Letta" ujar Jesse memperkenalkan diri. "Letta mau minta tolong, kalau boleh Letta menginap disini semalam" jelas Jesse mendahului Letta
"Tentu saja boleh Letta" Elena memberikan senyuman hangat kepada Letta
"Kalau gitu, saya permisi pamit dulu. See ya" Jesse keluar dari apartemen Elena dan memberikan bunyi klik tanda pintu tertutup.
"Who is he Letta?" goda Ellena
"He is Jesse" jawab Letta
"Siapa lo?"
"Teman" jelas Letta lagi
"Yakin? Dia ngasih boneka, nganter kamu kesini..."
"Teman, tentu saja teman" potong Letta
"Oke oke, terus kenapa lo bermalam disini? ada masalah?" tanya Elena lagi.
"Ya, lo tau El pergi kemana?" kali ini Letta yang bertanya.
"Dia sekarang lagi nyewa kamar di lantai tujuh" jawab Elena.
Elena mengetahui tentang permasalahan keluarga Alleta. Jujur Elena merasa kasihan kepada Letta. Letta selalu menyimpan semua masalahnya sendiri, menyimpan rapat-rapat tanpa memberitahu siapa-siapa. Beberapa kali Elena memancing Letta agar mau bercerita, mungkin saja perasaannya sedikit lega saat suah bercerita. Tapi, ya begitulah Letta ia terlalu tertutup kepada semua orang. Letta adalah seorang gadis yang berjiwa keras pikir Elena.

KAMU SEDANG MEMBACA
Eternity
Teen FictionJika ada yang bertanya "apakah hidupmu berwarna Letta?" "Tentu berwarna, namun hanya warna gelap seperti hitam, dan abu-abu yang ada" Letta sang pengoleksi berbagai macam topeng penggambar emosi yang menyenangkan untuk ia gunakan di dunia luar. Hany...