3

130 4 0
                                    

Dengan masih mengenakan handuk, Rei duduk di sebelah Adi, obrolan mengenai hari Senin dimulai Rei sambil tangannya mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah.
Sambil ngobrol mereka berdua menikmati cemilan dan Teh yg dibuatkan oleh Ibunya Rei. Rei kemudian beranjak dari tempat duduknya, menghampiri lemari dan mengambil kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek boxer berwarna putih agak transparan. Dilepasnya handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya lalu dilemparkan begitu saja ke atas kasur ke dekat Adi yang sedang duduk. Kemudian Rei berpakaian lalu menyambar handuknya tadi untuk kemudian disimpan dibesi jemuran. Pakaian kotor yang masih tergeletak di lantai, lantas dia ambil dan dimasukan ke dalam tempat cucian kotor. Ketika Rei berjalan ke arah pintu, langkahnya dihentikan oleh teguran Adi.

"Rei, kok aku ditinggal?" Wajah Adi sedikit cemberut.
"Hahahaha...aduh sorry Di, sampai lupa kamu ada disini." Rei tertawa lepas dan mentertawakan diri sendiri, bagaimana bisa dia sampai lupa bahwa Adi ada disitu bersamanya.
Adi semakin cemberut dengan kepala agak tertunduk. Melihat sahabatnya agak murung, Rei menghampiri Adi kemudian menggodanya dengan mencubit dagu Adi.

"Cieeee...tuan putri marah nih yee..." Rei sedikit memonyongkan bibirnya.
"Udah ah...nyebelin." Adi makin cemberut.

Tapi Rei malah makin usil, dia gemas dengan kelakuan Adi yang sedikit kekanak-kanakan. Rei mencubit kembali sahabatnya itu, tapi kali ini dipipinya.

"Diperhatiin kamu ternyata manis juga ya Di." Sikap usil Rei tambah kumat.
"Udah...udah...kalau gak berhenti aku pulang nih!"
"Iya sayang aku berhenti usilin kamu deh..." Rei mengakhiri keusilannya.
"Apaan sih pake panggil sayang...sayang segala." Adi menggerutu. Bibirnya semakin manyun tanda kekesalannya makin bertambah.
Rei hanya tertawa kembali melihat tingkah laku sahabatnya itu yang semakin menggemaskan. Kemudian Rei menarik tangan Adi dan mengajaknya keluar kamar menuju meja makan dimana sang Ibu pasti telah menunggu.
Dan ternyata benar, Ibunya Rei sudah menunggu sambil menuangkan minum air putih ke dalam gelas.

"Selamat malam Tante." Adi berusaha sopan.
"Selamat malam Nak Adi, ayo mari silahkan duduk disini di sebelah Tante!"
"Ibu...lalu aku mau duduk dimana?" sikap manja Rei mulai muncul disaat dia melihat Ibunya malah mengutamakan orang lain dari pada dirinya.
"Sayang, kan kamu masih bisa duduk di sebelah kiri Ibu, jadi kalian sama-sama dekat dengan Ibu kan?" Ibu menimpali.
"Iya deh iya..." Sekarang giliran Rei yang berubah agak cemberut dengan bibir manyun.
"Rasakan...dapat pembalasan!" Adi tertawa kecil. Rei hanya memandang sekilas kepada Adi, lantas Rei menjulurkan lidahnya sedikit tanda dia mengejek Adi, setelah itu Rei kemudian duduk dan mulai makan.
Melihat kelakuan Rei dan Adi, Ibunya Rei hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana persiapan kalian untuk hari senin?" Ibu memecah kesunyian diantara mereka. Secara bergantian, Rei dan Adi menjawab pertanyaan tersebut. Suasana mulai mencair dan obrolan pun mengalir. Kehangatan sebuah keluarga mulai terbentuk dan mengisi penuh acara makan malam bersama tersebut.

***

Suasana ruang makan kembali sepi, kini berpindah ruangan menjadi ruang tengah yang ramai oleh suara televisi yang sedang kami tonton bersama. Ibu duduk di sofa panjang dengan posisi badan agak direbahkan. Sedangkan aku dan Adi duduk di lantai beralaskan karpet lembut berwarna merah kesukaan Ibu. Tak berselang lama, jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Ibu mulai terlihat mengantuk, matanya mulai sayu dan menguap. Namun bertolak belakang dengan kondisi kami berdua yang belum mengantuk sama sekali.

"Bu, kalau Ibu sudah mengantuk tidur duluan saja!" Rasa sayang Rei kepada Ibunya, membuatnya tak tega melihat Ibunya kelelahan.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu tidur duluan ya. Oh ya Ibu lupa memberitahu mu bahwa besok Ibu harus pergi ke Bandung, ada tugas meeting dari kantor tempat Ibu bekerja."
"Oh iya Ibu, tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku bisa jaga diri kok Bu." Rei berusaha meyakinkan Ibunya.
"Baiklah Ibu percaya padamu." Ibunya tersenyum lalu berdiri.
"Bu...!" Rei menoleh pada Ibunya.
"Iya sayang..."
"Besok dari pada aku bete di rumah, boleh gak kalau aku pergi berenang?"
"Boleh Nak, boleh kok sayang. Tapi ingat jangan pulang terlalu siang ya dan jangan telat makan!"
"Siap Bu. Lagi pula aku berenangnya di rumah Adi kok bukan ke luar. Kebetulan Adi juga sendirian di rumahnya karena besok orang tuanya harus menghadiri undangan seminar sampai malam jadi itung-itung menemani Adi."
"Iya boleh kok." Ibunya Rei mengangguk.
"Di, kalau Rei nakal nanti lapor saja sama Tante ya!"
"Siap Tante, tenang saja. Pasti aku lapor Tante kalau Rei nakal."
"Ih...kalian apa-apaan sih! Sekongkolan nih.."
"Hahaha..."
Ibunya Rei dan Adi tertawa bersamaan. Kemudian ibunya Rei berlalu meninggalkan Rei dan Adi di ruang tengah.

***

Adi mulai terlihat mengantuk, begitupun dengan Rei. Keduanya setuju untuk pergi tidur. Sesampainya di kamar, Rei membantingkan tubuhnya ke atas kasur, lalu menarik selimut sampai pundak. Adi mengikuti langkah Rei, kemudian mereka terlelap tidur dan terbawa ke alam mimpi masing-masing.

***

Suara kokok ayam jantan yang nyaring membuat mata Rei terbuka perlahan. Rei menguap dan mengucek matanya tanda dia masih merasa mengantuk. Rei merasa ada sesuatu yang memberatkan pinggangnya. Ketika dilihat, sebuah tangan melingkar dipinggangnya, tangan yang tidak asing baginya. Seketika Rei baru menyadari bahwa tangan tersebut milik sahabatnya yang dari semalam menginap dan tidur bersamanya. Rei memalingkan wajahnya ke belakang, dia melihat sahabatnya masih tertidur lelap dan mungkin masih berada di alam mimpinya. Rei tersenyum sendiri kemudian dengan perlahan Rei melepaskan pelukan tangan sahabatnya itu. Rei beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.

"Zzrrrrsssshhhh...." Suara air yang turun dari keran memecah keheningan kamar mandi.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan dengan cepat Adi masuk lalu menurunkan celananya untuk buang air kecil. Tanpa Adi sadari Rei sedang memperhatikannya dari belakang. Rei yang kaget dengan masuknya Adi secara tiba-tiba ke dalam kamar mandi, sontak membuatnya menghentikan kegiatan menyabuni wajahnya. Hingga saat ini, busa sabun masih menempel di wajahnya. Matanya mulai terasa perih, segera ia membilas busa sabun tersebut. Dengan mata masih terpejam dan kepala masih menunduk, Rei mengambil handuk wajah yang berada disebelah kanannya. Dilapnya air di wajahnya hingga kering.
Kemudian dia membalikan badan. Tanpa Rei sadari justru keadaan sekarang berbalik. Dengan ekspresi kaget Adi sedang memperhatikannya. Rei jadi tertawa geli melihat ekspresi wajah Adi saat itu. Rei semakin keras tertawa saat melihat ke arah bagian bawah badan Adi. Kini Adi yang terlihat tidak menyadari apa yang terjadi sebenarnya.

"Rei...ternyata ada kamu di dalam!" kalimat tersebut seketika meluncur bebas dari mulut Adi.
"Iya...lagi pula kamu sih buru-buru masuk." Timpal Rei sambil terus menahan geli.
"Apa yang kamu tertawakan, hah?!" Adi menginterogasi Rei.
"Itu lho celana mu masih di bawah...ppfftt..." Rei menutup mulutnya karena tidak ingin disebut meledek sahabatnya itu.

Sesuai arahan Rei, Adi menundukan kepalanya dan terpampang jelas bahwa celananya masih dilutut dan alhasil terlihatlah 'senjata' andalannya yang masih tegang tanpa terhalang oleh apapun. Tanpa dikomando Adi langsung menarik celananya tersebut ke atas.
"Sue...!" Gerutu Adi.
"Salah sendiri maen masuk aja, gak ketuk dulu...uweeee." Rei menjulurkan ujung lidahnya tanda dia meledek.
"Mana aku tahu ada kamu di dalam, lagi pula aku ingin sekali buang air kecil karena sudah tidak tahan makanya langsung masuk saja." Jawab Adi tidak mau kalah.
"Ok...ok...kita impas, tapi ngomong-ngomong ukuran punya mu boleh juga tuh...hihihi." Rei kembali usil.
"Sudah ah...minggir aku mau ikut cuci muka."

Rei menyingkir dan keluar dari kamar mandi meninggalkan Adi yang sedang mencuci muka. Rei mengambil tas punggungnya lalu memasukan handuk, pakaian ganti dan keperluan lainnya untuk persiapan berenangnya nanti bersama Adi. Tak lama kemudian Adi sudah muncul dibelakangnya Rei. Adi mendekati Rei dan duduk di kursi meja belajar. Tanpa memperdulikan Adi yang duduk didekatnya, Rei merapikan tasnya lalu menutup resletingnya. Persiapan selesai, pikir Rei.
Terdengar ketukan di pintu, kemudian Ibunya Rei masuk,  tanpa ba-bi-bu, Ibunya pamit untuk berangkat ke Bandung. Serta menasehati Rei dalam segala hal tentunya untuk kebaikan anak kesayangannya tersebut.

***

SEBUAH PENGORBANAN By MatchaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang