7

62 0 0
                                    

Sampailah mereka di sebrang sebuah bangunan berwarna cream, bangunan tersebut cukup besar, namun minimalis. Papan nama bangunan tersebut menunjukan 'SMA X'. Setelah menengkok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat kemudian mereka menyebrang. Sesampainya di sebrang, mereka perlahan memasuki gerbang sekolah tersebut, kemudian Rei berdiri mematung sambil fokus pada sala satu bagian dari bangunan sekolah tersebut. Adi yang melihat sikap Rei tersebut menjadi bingung. Ditengah kebingungan Adi, tiba-tiba Rei terpekik kaget.
"Ya ampun Di!" Rei sedikit berteriak.
"Kenapa Rei?" Tanya Adi.
"Bangunan ini....bangunan ini..." Rei malah mengulang kata-katanya.
"Bangunan ini ...kenapa?" Tanya Adi gemas.
"Ternyata Bangunan ini lah yang aku dapatkan dalam penglihatan ku saat aku bersama ibu ku pergi ke toko peralatan sekolah."
"Terus..terus...?" Tanya Adi lagi penasaran.
"Bagian ini yang aku lihat!" Rei menjawab sambil menunjukan ke arah bagian bangunan sekolah yang dia maksud.
"Oh..aku faham sekarang Rei, jadi waktu kamu pergi bersama ibu mu, kamu mendapatkan penglihatan dan ternyata sekarang penglihatan tersebut sudah terjawab? Begitukan maksudmu?" Adi coba mengurai makna dibalik penglihatan Rei.
"Iya benar Di, itu benar sekali." Jawab Rei.
"Terus apa lagi yang kamu lihat?" Adi mencoba membantu Rei mengingat.
"Ada Di, satu lagi. Tapi nanti aku jelaskan ya, sekarang kita harus segera masuk untuk daftar ulang di meja panitia OSIS." Seru Rei.
"Ayo Rei, takutnya kita terlambat." Adi mengiyakan.

Mereka berdua lalu masuk ke gerbang sekolah bagian dalam dan disambut oleh meja panitia daftar ulang.

"Silahkan tulis nama kalian disini dan asal sekolah kalian ya!" Sala satu panitia pendaftaran ulang menyuruh Rei dan Adi mengisi buku daftar siswa baru.
"Baik Kak!" Jawab Rei dan Adi bersamaan.

Setelah mereka mengisi buku tersebut, kakak panitia menyematkan sebuah pita merah-putih dibahu lengan sebelah kiri mereka tepat di atas logo sekolah mereka sebelumnya sewaktu SMP. Kemudian mereka diarahkan untuk memasuki sebuah ruangan kelas dimana ruangan tersebut nanti akan menjadi kelas tetap mereka.
Saat sampai di depan pintu, mereka berdua mengetuk pintu sebanyak 3x, tak lama pintu dibuka dari dalam oleh seorang kakak pembina dari OSIS. Mereka dipersilahkan untuk masuk. Begitu mereka berdua masuk ke dalam, ternyata sudah banyak siswa baru yang menempati bangku-bangkunya masing-masing di kelas tersebut. Mereka berdua belum diperkenankan untuk duduk karena kakak pembina menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.

"Nah sekarang silahkan perkenalkan diri kalian terlebih dahulu ya, agar teman-teman kalian akrab dengan kalian!" Seru kakak pembina.
"Baik Kak!" Jawab mereka bersamaan.
"Mau siapa dulu nih?" Tanya kakak pembina.
"Saya dulu saja Kak." Dengan PDnya Adi menawarkan diri.
"Baik, silahkan!" Kata kakak pembina.
"Halo...teman-teman semua, perkenalkan nama saya Adi dari SMP Z." Adi mulai bicara.
"Dan saya sendiri Rei dari SMP Z juga." Sambung Rei.
"Oh jadi kalian dari satu sekolah yang sama ternyata?" Tanya kakak pembina.
"Iya Kak benar." Jawab mereka berdua.
"Baik, sekarang kalian silahkan menuju ke kursi kalian disebelah sana." Perintah kakak pembina.

Karena bangku kosong hanya tinggal 1 maka mereka akhirnya duduk bersama dalam satu meja. Tapi mereka senang karena tidak perlu lagi mencari teman sebangku yang baru. Kakak pembina melanjutkan orasi didepan kelas, dari mulai memperkenalkan sejarah SMA X tersebut, kemudian seluk-beluk bangunan mengenai denahnya dan posisi kantor-kantor utama seperti ruang kantor Kepala Sekolah, ruang kantor Wakil Kepala Sekolah, ruang Guru, ruang Guru BP, Perpustakaan, UKS juga kantor Administrasi sekolah yang kita kenal dengan TU.

Jam kegiatan pertama akhirnya selesai dimana waktu istirahat akan tiba. Yang namanya siswa baru tentu masih saling mencoba mengenal satu sama lain. Belum akrab dan belum berani terlalu dekat. Akhirnya ketika waktu istirahat pertama tiba, para siswa baru hanya berkelompok dengan teman lama mereka masing-masing. Karena masih belum terlalu mengenal sekolah barunya, Rei dan Adi hanya duduk dan mengobrol di kelas. Seseorang menghampiri mereka, tanpa mereka sadari karena keasyikan mengobrol berdua.

SEBUAH PENGORBANAN By MatchaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang