Kurasa ini adalah keputusan yang baik untuk berteman dengan Seungwan. Kemarin, tak sadar aku memanggil gadis itu dengan sebutan Swan. Seungwan pun terlihat bingung ketika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Namun, rupanya dia tidak ingin mempermasalahkan itu semua. Dia tidak peduli orang memanggilnya apa, tapi yang jelas Seungwan pasti senang berteman denganku. Malam itu, hanya sampai di sana pembicaraanku dengannya.
Pagi ini aku berangkat ke sekolah. Aku benar-benar tidak semangat untuk sekolah. Aku mengeluarkan sepedaku dari bagasi. Ya, aku berangkat dengan sepeda. Sudah sejak lama, sepeda ini adalah teman baikku. Kuberi dia nama karena rasa sayangku pada benda ini. Namanya Regina. Iya, dia perempuan karena warnanya merah. Regina adalah pemberian dari nenekku.
"Mau ke mana?" teriak seorang perempuan dari kejauhan.
Aku menoleh ke sumber suara. Seungwan duduk di jendela kamarnya lagi. Dia memandangku dengan raut cantiknya itu yang penasaran. Dia pasti heran karena tiba-tiba aku pergi karena dari kemarin aku selalu di rumah seharian. Melihat dia, entah kenapa aku jadi bersemangat.
"Berangkat ke sekolah. Apa kau libur?" balasku.
Tanpa senyuman dia berkata, "Oh sekolah, ya? Kalau begitu semangat."
Dia memberi semangat dengan nada rendah. Aku tidak yakin jika dia benar-benar menghiburku. Wajahnya pun terlihat lesu lagi. Ke mana senyuman indah itu? Menghilang dengan cepatnya. Seungwan pun pergi meninggalkan kamarnya lagi.
"Ya! Terima kasih," jawabku meski Seungwan sudah tidak ada di sana.
Aku pun menaiki sepedaku dan pergi meninggalkan tempat ini. Kurasa, pagi ini Seungwan memberiku kekuatan. Aku tersenyum memikirkannya.
🍃🍃🍃
"Di mana kau tinggal?"
"Di perumahan victoria."
"Apa?! Aku tahu tempat itu!"
Aku tidak lapar lagi. Suara Baekhyun terdengar begitu nyaring hingga aku merasa kenyang dan melupakan makananku di atas meja. Baekhyun, si pendek bermata sipit yang sangat cerewet ini tiba-tiba mengajakku berkenalan. Ya kurasa dia adalah orang yang supel. Dia sangat baik dan sangat suka berbicara. Tak apa, setidaknya aku mempunyai teman di sekolah terpencil ini.
"Rumahmu dekat dari sana?" tanyaku.
Baekhyun menggelengkan kepala. Lelaki bermata sipit itu melirik ke kanan dan ke kiri, seolah-olah memastikan agar orang-orang tidak melihatnya sekarang. Dia mendekatkan wajahnya padaku lalu berbisik di telingaku. "Di sana pernah ada pembunuhan."
Aku terkejut mendengarnya. "Pembunuhan?"
"Sekelompok orang dibantai habis-habisan oleh seorang remaja."
Sungguh, aku tidak pernah mendengar ini semua dari kakek dan nenek. Mengapa mereka tidak memberitahuku?
"Apa motifnya? Apa remaja itu sudah ditangkap?"
"Motifnya jelas sekali, jika dia adalah psikopat. Namun, remaja itu sama sekali tidak tertangkap. Dia melarikan diri."
"Apa?"
Baekhyun mengernyitkan dahi sambil memandangku. Dia terlihat bingung dengan ekspresiku yang begitu terkejut. "Kau tidak mengetahuinya sama sekali?"
"Kau tahu aku pendatang. Mana mungkin aku mengetahuinya."
"Kukira sudah tidak ada yang tinggal di sana. Mereka semua yang tinggal di perumahan itu pun pindah karena ketakutan. Banyak juga yang bilang perumahan itu angker."
Aku terdiam. Jadi inikah alasan penghuni di perumahan itu tidak ada yang keluar dan selalu terlihat sepi? karena semua orang sudah pergi dan pindah dari tempat itu. Apa mungkin yang tinggal di sana hanyalah aku dan Seungwan saja?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Rapunzel
Fanfiction[COMPLETE] Aku mempunyai tetangga. Namanya Son Seungwan, tapi aku memanggilnya Swan. Dia cantik seperti angsa putih. Ketika dia tersenyum, saat itu juga aku jatuh cinta padanya untuk pertama kalinya. Started : 11 juni 2018 Finished : 8 oktober 2018
