"Sejak lama, Kris sering memukuliku. Jika suatu hal yang Kris inginkan tidak tercapai. Pria itu akan melampiaskan kemarahannya padaku," kata Seungwan.
Seungwan menghela napas. Gadis itu memejamkan mata seolah ingin menghilangkan kenangan mengerikan itu di benaknya.
"Setiap malam dia datang ke kamarku. Ia membekap mulutku dan memukulku. Namun, esoknya dia akan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa di depan ayah dan ibu," lanjutnya.
Itulah alasanku sering mendengar Seungwan menangis dulu. Aku juga teringat samar-samar, jika dahulu aku pernah melihat lengan dan kaki Seungwan yang memar, tapi dia mengelak tanpa memberitahu kenyataan. Kemudian mengatakan bahwa memar itu akibat terjatuh dari kamar mandi. Aku tidak menyangka. Kris berani melakukan itu pada keluarganya sendiri.
"Malam itu, kita ada janji, kan? Di taman."
Aku menganggukan kepala.
"Aku bergegas untuk pergi, tapi Kris memanggilku. Untuk pertama kalinya, aku melawan dia. Dan malam itu Kris sedang mabuk padahal dia masih dibawah umur. Dia mulai melukaiku dengan senjata tajam."
"Ayah dan ibu terbangun akibat tangisan dan teriakanku. Mereka marah pada Kris. Mereka membelaku. Namun, Kris begitu kuat hingga akhirnya ia membunuh ibu dan ayah dengan pisau di tangannya."
Kedua tangan Seungwan ia gemetar. Meski matanya berapi-api membayangkan sosok Kris di hadapannya. Aku yakin, dia benar-benar marah dan juga takut mengingat itu sekarang.
"Dia sakit jiwa! Kris begitu licik, hingga ia bisa memalsukan bukti-bukti pembunuhan yang terjadi pada kedua orangtuaku. Aku tidak menyangka bahwa dia akan menyalahkan itu semua padaku."
Netra gadis itu yang sedari tadi menampung bulir-bulir air mata di kelopak matanya, akhirnya terjatuh juga. Ia menangis terisak begitu sedih.
"Aku tidak tahu, bagaimana bisa ia mempunyai pistol di tangannya," kata gadis itu. Kemudian ia menatapku.
Aku mengusapkan rambutku dengan frustasi. "Aku minta maaf, Swan. Seharusnya aku—"
"Itu bukan salahmu Chanyeol. Bagaimanapun juga, aku akan tetap mati di tangan Kris."
Aku frustasi. Kepalaku begitu sakit setelah kuingat momen mengerikan itu. Dadaku terasa sesak. Aku menatap Seungwan yang duduk di ranjang tepat di hadapanku.
Dia hantu. Setelah mengetahuinya bahwa gadis yang kini di hadapanku adalah tidak nyata, aku pun tersadar jika Seungwan dan aku benar-benar berbeda. Wajah gadis itu begitu pucat. Dan hanya ada kesedihan yang terpancar di paras cantik Son Seungwan.
"Aku begitu bodoh karena tidak mengingatmu," kataku.
Ia mendekat padaku. Kemudian gadis itu menggenggam tanganku. Aku menatap tangannya. Sungguh, semua hal yang indah yang kualami, tiba-tiba saja diterpa oleh tsunami dengan begitu cepatnya. Kemudian berakhir dengan menyedihkan. Hatiku sangat perih.
"Aku senang bisa melihatmu lagi, Chanyeol," kata gadis itu. "Sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini."
Aku terkejut menatapnya.
"Kau akan pergi?" tanyaku.
"Iya, aku harus pergi. Bagaimana pun dan apapun caranya, kita tidak akan bisa bersama."
Jantungku mencelos. Aku tidak mempunyai kekuataan lagi. Kueratkan genggaman Seungwan seolah-olah aku tidak ingin melepas ia pergi.
"Aku akan pergi bersamamu," kataku.
Seungwan terkejut. "Apa? Tidak Chanyeol!"
"Kau adalah duniaku! Kebahagiaanku hanyalah kau, Swan. Aku sudah mendapatkan putri di hatiku dari dongeng yang kubuat. Kau adalah Rapunzelku. Dan tidak akan kubiarkan dongeng itu berakhir menjadi akhir yang menyedihkan. Aku akan ikut bersamamu, karena hanya kau hidupku."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Rapunzel
Fanfic[COMPLETE] Aku mempunyai tetangga. Namanya Son Seungwan, tapi aku memanggilnya Swan. Dia cantik seperti angsa putih. Ketika dia tersenyum, saat itu juga aku jatuh cinta padanya untuk pertama kalinya. Started : 11 juni 2018 Finished : 8 oktober 2018
