[COMPLETE]
Aku mempunyai tetangga. Namanya Son Seungwan, tapi aku memanggilnya Swan. Dia cantik seperti angsa putih. Ketika dia tersenyum, saat itu juga aku jatuh cinta padanya untuk pertama kalinya.
Started : 11 juni 2018
Finished : 8 oktober 2018
Aku terus berpikir. Awalnya aku memang memikirkan tentang pembantaian di victoria yang Baekhyun katakan. Kemudian ketika aku tahu bahwa berita itu hanyalah kabar burung yang omong kosong, aku mulai melupakannya. Namun entah mengapa aku kembali memikirkan tentang hal itu lagi sekarang.
Bagaimana jika itu semua benar-benar terjadi? Jika iya, siapakah pembunuh yang berani membantai sekelompok orang? Pertanyaan yang cukup penting sekarang adalah, Di mana letak rumah yang jadi korban pembantaian itu? benar-benar sebuah teka-teki.
Malam ini, aku enggan untuk menaiki sepedaku atau mengayunnya. Aku hanya mendorongnya pelan menuju ke rumahku. Pikiranku sedang kacau dan tidak sanggup untuk mengendarai sepeda. Bisa-bisa aku akan menabrak sesuatu jika aku mengendarainya sekarang.
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Berusaha menyingkirkan pikiranku yang mungkin tidak masuk akal sekarang. Tidak mungkin bahwa Seungwan memegang pisau tadi malam. Aku jelas sekali melihatnya, kalau Seungwan benar-benar tidak membawa sebuah pisau yang berlumuran darah. Jika iya dia membawa pisau itu. Bukankah seharusnya darah itu menetes ke jalanan? Atau jika dia menyembunyikan pisau itu di kantong dressnya. Bukankah darah yang basah itu akan menjiplak ke pakaiannya? Aneh. Aku benar-benar tidak mengerti.
Langkahku terhenti, ketika aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku berbalik dengan cepat, tapi aku tidak melihat siapa-siapa di sana.
Terulang lagi....
Akhir-akhir ini aku merasa ada seseorang yang sedang mengikutiku dan mengintaiku diam-diam. Pertama kalinya ketika aku sadar bahwa ada yang mengikutiku adalah malam itu, di semak-semak di samping rumahku. Awalnya aku mengira itu kucing putih yang gesit sedang bersembunyi di sana, karena kucing itu berlari keluar dari semak-semak.
Namun, kucing putih itu lari pasti bukan tanpa sebab. Kemungkinan kucing itu melihat orang asing dan membuatnya berlari ketakutan. Seperti pertama kali aku bertemu kucing itu. Dia berlari setelah aku menggendongnya.
Aku pun mengunci sepedaku. Kemudian aku berjalan perlahan mendekat ke arah pohon besar yang tidak jauh dariku.
Seseorang bersembunyi di sana. Aku yakin.
"Siapa?!" teriakku sedikit kesal.
Dan dalam hitungan detik. Seorang pria memakai hoodie berwarna abu-abu pun berlari menghindariku. Sudah kuduga!
"Hei!! Siapa kau?!!"
Aku berlari berusaha mengejar pria itu. Pria berhoodie itu berlari begitu kencang. Aku tak mau kalah mengejar dia. Pria itu belok ke suatu gang. Aku terus mengekorinya dari belakang. Dalam hati aku menggerutu. Hal-hal aneh mulai terjadi lagi. Siapa dia? dan kali ini apa lagi? Sungguh! Membuatku sakit kepala!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkahku terhenti ketika aku sudah belok ke gang itu. Kemudian pria berhoodie abu-abu tak tampak. Dia menghilang. Aku kehilangan jejaknya yang begitu cepat.