"Psst psst! Jen, bangun, ih! Anak-anak lo dateng, tuh!" Somi menyikut lenganku yang terkulai di atas meja.
Aku mengangkat kepala. Kulihat barisan anak hits itu sudah datang. Haechan berjalan paling depan dengan wajah yang berseri-seri, di tangannya ada jus alpukat yang masih baru. Entah kenapa perasaanku tidak enak soal ini. Di belakangnya ada Jeno yang sedang menguap. Sepertinya dia baru saja makan sampai kekenyangan di kantin. Paling belakang ada Renjun yang ... uhm, entahlah. Kalau diingat-ingat, rasanya aku hampir tidak pernah melihatnya tersenyum—padaku. Dan seperti biasa, hanya ada mereka bertiga di sana. Belakangan ini Jaemin benar-benar jarang bergabung dengan mereka. Aku malu mengakui ini, tapi aku mulai merindukan saat-saat mereka berempat berkumpul bersama. Yah, walaupun posisiku hanya sebatas penonton saja.
"Gue ngungsi dulu, ya. Salam sama Koko gue." Somi mengedipkan sebelah matanya lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Good afternoon my hunny bunny sweety Lee Jeni!" sapa Haechan.
Aku tertawa hambar menyambut sapaan cringe Haechan. Dari sini saja aku sudah bisa menebak apa maunya.
"Jijik," cibir Renjun.
Haechan mengabaikan Renjun. Ia lalu menyodorkan jus yang ia bawa. "Mba Jeje pasti haus, ya? Capek ya abis belajar? Nih, Haechan bawakan minuman kesukaannya Mba Jeje! Monggo, diminum."
"Wah, padahal nggak usah repot-repot loh, Chan."
"Woya nggak repot, dong! Buat lo apa sih, yang nggak?"
"Halah, bacot."
Haechan mendesis. "Tolong ya, Anda yang sirik di sana mending jauh-jauh dari kehidupan saya. Komen mulu kerjaannya. Dasar netijen salty!"
Jeno merotasikan bola matanya malas. Ia meraih jus alpukat yang diberikan Haechan padaku dan meminumnya.
"Lah lah? Kenapa jadi lo yang minum, Nyet?" protes Haechan.
"Punya Jeni ya punya gue juga. Kenapa? Nggak terima lo?"
Haechan mendecak. "Yeeu, dasar anjing penjaga."
"Heh, ngomong apa lo barusan?"
"Nggak ada, Beb. Gue bilang i love you."
Aku memijat batang hidungku. Mereka ini memang suka tidak tau tempat. Suka lupa diri kalau tidak sedang berada di kandang sendiri. "Udah udah! Mau minta soal doang, kan?"
Haechan menyengir. "Duh, Mba Jeje peka banget, deh! Padahal kan gue belom ada ngomong apa-apa. Susah sih, ya kalo emang dasarnya orang baik mah. Jadi sayang."
Jeno dan Renjun kontan memelototi Haechan.
"Ngapa lo? Awas matanya lepas."
Aku terkekeh. Jadwal ujian pertengahan semester untuk kelas 12 memang tidak dijadwalkan seperti semester-semester sebelumnya karena di semester akhir ini, ada banyak sekali yang harus diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas. Hasilnya ya ada kelas yang ujian lebih dulu dan ada yang belakangan. Meski tetap dilaksanakan di hari yang sana, kemungkinan untuk kebocoran soal itu tetap ada. Kebetulan hari ini kelasku mendapat giliran ujian fisika saat pagi hari. Setelah istirahat giliran kelas Jeno, dan setelah itu baru kelas Haechan.
Aku memijat layar hpku beberapa kali, hendak membuka galeri. "Tadi sempat foto, sih. Cuma ini ada jawabannya sekalian soalnya baru sempat ngambil pas ujiannya udah mau selesai. Tapi nggak usah diikutin, habisnya ini kayaknya ada beberapa nomer yang salah."
"Eiih, santai aja. Dapet soalnya doang aja gue bersyukur, Jen. Apa lagi ini udah lo jawab juga. Salah benar mah, belakangan. Pak Johnny juga nggak bakalan percaya semisal gue bener semua."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aoratos | Jaemin
FanfictionHanya sebuah cerita singkat yang menegaskan bahwa tidak semua rasa suka harus berakhir bersama Dan tidak semua tokoh utama punya cerita yang berakhir bahagia "Gak usah kepedean. Dia baik sama semua orang." ©2018
