"Gue bisa aja jadi random untuk beberapa hal."
"Misalnya?"
"Lo."
Sejemang, dua huruf yang terlontar dari katup Renjun itu terasa menggema. Butuh beberapa detik hingga aku berhasil mencerna ucapannya.
Aku menutup wajahku dengan sebelah tangan, terkikik kemudian tergelak.
Apa, sih? Ada-ada aja.
Aku menggeser kotak martabakku lebih dekat ke arah Renjun. "Udah, kalau masih lapar ambil aja. Nggak usah pake acara gombal segala."
Alis Renjun naik sebelah. Ia kemudian mendengus geli. "Dasar. Orang lagi serius juga."
Entah kenapa suara jangkrik tiba-tiba terdengar lebih nyata. Mungkin, karena setelah itu tidak ada dari kami yang bersuara. Aku dan Renjun masing-masing mengambil satu potong martabak yang tersisa. Kami makan dalam diam.
"Seret. Ini nggak ada minumnya?" tanya Renjun setelah menghabiskan bagiannya.
Itu air kolam banyak.
Aku berdiri lalu beranjak dari kolam. "Sini naik. Kita pindah. Jeno nggak bolehin main air."
"Oh? Terus yang dari tadi namanya apa?"
"Cuci kaki."
Akhirnya kami berdua berpindah menjauhi kolam. Aku berjalan lebih dulu, Renjun mengekor di belakangku. Kami berdua duduk di gazebo. Renjun mengambil satu gelas air mineral yang ada di dos lalu meminumnya.
"Ren, boleh pinjam hp?"
Renjun merogoh saku celananya. "Buat?"
"Punya gue di kamar."
Renjun memberikan hpnya padaku. Aku mencari kontak Jeno dan membuat panggilan.
"Gim—"
"Udah, gibahnya nanti aja. Martabaknya kurang."
"Loh, Jen? Kok—"
"Dibilangin nanti aja. Katanya kalau mau tambah tinggal ngomong?"
"Em ... Oke. Mau tambah apa?"
Aku menjauhkan hp Renjun dari telingaku. "Masih mau martabak apa yang lain aja?"
"Terserah."
"Pisang goreng nugget yang cokelat putih dua. Yang spesial tapi, jangan yang biasa."
"Itu aja?"
"Iya."
"Hpnya kasih Renjun dulu. Gue mau ngomong."
Aku mengembalikan benda itu pada pemiliknya. "Masih nyambung, katanya Jeno mau ngomong."
Renjun menempelkan layar hpnya ke telinganya. Pembicaraan mereka berlangsung cukup singkat. Tidak ada tanggapan selain kekehan yang keluar dari mulut Renjun hingga sambungan itu terputus. Aku jadi penasaran, kira-kira apa yang mereka bicarakan?
"Kenapa?"
"Nggak ada."
Aku mencebik. Bukannya terlalu percaya diri, tapi aku merasa apa yang mereka bicarakan ada kaitannya denganku. Tapi kalau dia sudah bilang begitu, memangnya aku bisa apa?
Aku berdeham. "Ren, ini serius. Kenapa sampai datang ke sini?"
"Mm, gue mau liat seberapa hancurnya lo karena berita ini."
Oke. Dia menyebalkan.
"Seyakin itu?"
"Iya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aoratos | Jaemin
Fiksi PenggemarHanya sebuah cerita singkat yang menegaskan bahwa tidak semua rasa suka harus berakhir bersama Dan tidak semua tokoh utama punya cerita yang berakhir bahagia "Gak usah kepedean. Dia baik sama semua orang." ©2018
