Mari mundur sedikit ke belakang. Ada sesuatu yang aku ingin kalian pahami sebelum cerita ini berakhir. Mungkin, akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru setelah ini. Mungkin juga, beberapa pertanyaan kalian malah terjawab di sini. Termasuk kenapa Jeno mendukung saat aku tidak ingin ikut liburan ke Bandung. Apa pun itu, kuharap kalian tidak menyalahkan siapapun setelah ini. Percayalah, sebenarnya mereka semua adalah orang-orang yang baik.
• Aoratos •
Tok! Tok!
Jeno membuka pintu kamarku bahkan sebelum aku sempat mengizinkan. Ya sudahlah. Mau kusuruh keluar sekarang pun juga apa gunanya?
Aku tidak berbicara, hanya mataku saja yang mengikuti pergerakannya. Mulai dari dia menutup pintu, duduk di atas karpetku, sampai mengeluarkan makanan dari kantong plastik yang ia bawa.
"Sebenarnya gue lagi kesel. Tapi gue nggak mau lo ngira gue marahnya sama lo. Jadi, kalo aja gue nggak sengaja kebawa emosi, jangan simpan dalam hati," jelasnya.
Alisku naik sebelah. "Jadi," aku menjeda, mengamati martabak jamur dan pisang goreng nugget cokelat putih yang Jeno bawa. Ini persis seperti yang ia beli kemarin. Bedanya, kali ini ada jus alpukatnya. "ini sogokan?"
Jeno menggeleng. "Gue cuma nggak tau obat patah hati lain selain makanan."
Kernyitan di dahiku semakin dalam.
Ini dia belajar dari mana lagi?
Aku turun dari tempat tidur, ikut melantai di sebelahnya dan mulai menyeruput jus alpukatku. "Jangan dibahas terus. Nanti lukanya nggak sembuh-sembuh."
"Makanya nggak usah sok kuat. Gue cuma capek liat lo selalu pura-pura. Padahal gue tau semuanya. Se-mu-a-nya. Dan itu yang bikin gue makin kesel."
"Katanya lo bukan marah sama gue, tapi kenapa gue ngerasa lo lagi nyudutin gue?"
"Tadi gue udah bilang, jangan disimpan dalam hati."
Aku memutar bola mata malas. "Jadi sebenarnya, lo itu marahnya sama siapa? Gue masih nggak dapat poinnya."
Jeno mendengus. Ia merebahkan tubuhnya, berbaring dengan posisi miring menghadapku. "Nggak tau. Mungkin, sama keadaan."
"Oh, kalau gitu nggak boleh. Itu sama aja lo nyalahin takdir."
"Terus kenapa? Kalo emang keadaan yang salah, gue bisa apa?"
Aku terdiam. Terkadang, ada hal-hal yang tidak aku mengerti. Contohnya, jarak lahir kami ke bumi yang hanya beberapa menit saja bisa membuat perbedaan sejauh ini. Jeno itu kurang pengertian.
"Tuhan nggak pernah menciptakan keadaan yang salah. Cuma manusia aja yang terlalu congkak untuk menerima. Terlalu serakah saat sesuatu nggak terjadi sesuai keinginan mereka. Padahal, masing-masing ada jalannya."
"Terus lo itu apa? Jelmaan malaikat? Jangan ceramahin gue, Jen. Gue cuma ngewakilin lo yang nggak pernah mau jujur sama perasaan lo sendiri."
"Itu urusannya situ. Kan, daku nggak pernah nyuruh."
Jeno mendecak sebal. "Jen, waktu gue bilang gue tau semuanya, gue beneran tau semuanya. Termasuk chat lo sama Heejin, chat lo sama Renjun, dan chat lo sama Jaemin."
"Lo ngotak-ngatik hp gue, ya?!"
"Lo terlalu asik ngomong sama Renjun di belakang sampe hp lo kedinginan sendirian di kamar."
Aku mengusap wajah pelan. "Nggak sopan."
"Bodo amat." Jeno bangun dan kembali bersila. "Gue butuh penjelasan sejelas-jelasnya. Karena penjelasan lo yang bakal nentuin sikap gue ke mereka ke depannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aoratos | Jaemin
FanfikceHanya sebuah cerita singkat yang menegaskan bahwa tidak semua rasa suka harus berakhir bersama Dan tidak semua tokoh utama punya cerita yang berakhir bahagia "Gak usah kepedean. Dia baik sama semua orang." ©2018
