2 bulan kemudian ...
Hari ini masih terbilang sangat pagi ketika kami sekeluarga sudah ada di bandara. Ayah dan Bunda sibuk dengan obrolan mereka di kursi sebelah. Sedangkan aku, sibuk membujuk Jeno yang masih belum mau berhenti dari mode ngambeknya.
"Udah kek! Nggak lama lagi flight, nih!"
Jeno—untuk kesekian kalinya—mengabaikanku, pura-pura fokus pada game di hpnya—tetris. Dia masih mempermasalahkan soal aku yang kemarin lama di luar rumah padahal sepagi ini sudah akan berangkat meninggalkan Indonesia.
Aku menghela napas pasrah. Jeno yang sedang ngambek itu memang merepotkan.
Terdiam sejenak sambil mengamati sekitar, hpku tiba-tiba bergetar. Ada video call yang masuk. Saat kucek siapa pelakunya, nama Haechan tertera di sana. Aku melirik Jeno sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Ha—"
"Wah gila ya lo?!" semburnya.
Aku kontan tergelak. "Masih pagi kali, Chan."
"Ya justru itu! Gue aja baru bangun! Nih, muka gue masih belum beres. Tapi gue bela-belain buat ngehubungin lo! Video lagi! Wah, parah. Nggak nyangka gue, Jen."
"Hehe, Jeno yang ngomong, ya?"
"Ya iyyalah! Duh, gila banget pagi gue. Mana gue baru tidur jam 4 subuh. Harusnya gue bisa tidur sampai siang, tapi malah kebangun jam segini."
"Kan bukan gue yang bangunin lo, Chan."
"Emang bukan lo, tapi gara-gara berita tentang lo."
"Ya udah, maaf. Lanjut tidur lagi sana."
"Enak aja! Kenapa nggak pernah ngomong, sih? Gue kira Jeno bercanda doang pas dia bilang lo nggak ikut SBM. Taunya beneran. Mana mau lanjut di luar lagi. Wah, gila. Gue tersakiti loh Jen, lo nggak ada ngomong-ngomong gitu. Apa selama ini cuma gue sendiri yang menganggap lo sebagai tem—"
"Bacot!" potong Jeno. Dia mengarahkan layar hpku ke arahnya hingga Haechan tidak bisa melihat keberadaanku.
Haechan mendecih. "Ya ampun ini orang muncul mulu. Heh! Minggir lo! Gue mau ngomong sama Jeni dulu, bukan sama lo! Ganti muka, ganti!"
Aku melirik Jeno. Wajahnya masih tertekuk, jadi aku merangkulnya dan merapatkan posisi kami agar dapat muat di layar. "Udah gini aja. Jangan berantem. Gue nggak pasang headset."
"Ya makanya dipasang atuh, Mba Jeje."
"Males. Biar kalian nggak ribut."
Haechan merotasikan bola matanya. "Oke, terserah. Pokoknya gue marah ya, Jen. Untung Jaemin nggak berhenti nelpon gue sampe bangun. Coba nggak, terus lo udah main berangkat gitu aja? Wah! Nggak gue izinin lo nyentuh tanah air Indonesia lagi!"
"Heh, siapa lo? Presiden juga bukan."
"Kunyuk diem, ya. Gue lagi nggak ngomong sama lo."
"Bodo amat. Mulut mulut gue."
Aku berdeham menengahi. Mereka itu berisik sekali. Bikin malu saja.
"Eh, ini kalo gue ke bandara sekarang keburu nggak?"
"Kayaknya nggak deh, Chan. Lagian nggak usah juga, sih. Kan cuma gue. Jenonya nggak pergi."
"Ya gue emang niatnya buat lo, bukan buat Jeno. Kalo Jeno yang mau pergi mah bodo amat. Mending gue tidur lagi."
"Heh, nanti di Bandung lo tinggal sendiri, ya! Nggak ada nebeng-nebeng gue!"
"Dih, oke! Gue sama Renjun! Lo sendiri. Jomblo! Jones!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aoratos | Jaemin
FanfictionHanya sebuah cerita singkat yang menegaskan bahwa tidak semua rasa suka harus berakhir bersama Dan tidak semua tokoh utama punya cerita yang berakhir bahagia "Gak usah kepedean. Dia baik sama semua orang." ©2018
