Page | o4

3 0 0
                                        

"Oh ya, ngomong-ngomong apa kau masih memimpikan gadis itu?"

Dirman tidak berkomentar ia hanya diam di kursinya sambil melamun dan sesekali memainkan pulpennya. Pria yang bersama Dirman kembali berucap, "kau bilang gadis itu mengatakan sesuatu padamu, kalau tanah air kita pasti akan merdeka."

"Hmm seperti itulah."

"Wah! Kalau mimpimu itu benar rasanya aku sudah tidak sabar untuk melihat hari itu."

Bahkan Dirman pun juga memikirkan hal yang sama. Jika memang apa yang gadis dalam mimpinya itu katakan benar, rasanya Dirman sendiri sudah tidak sabar untuk melihat hari itu.

Tiba-tiba Malik menepuk punggung Dirman membuat pria itu tersadar dari lamunannya, "jangan memikirkannya sendiri, mari kita memikirkannya bersama-sama, aku sangat yakin kalau negara kita pasti bisa merdeka."

"Hmm, tentu saja."

"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Utari?"

"Kenapa?"

"Tidak, aku hanya penasaran pada sesuatu."

"Apa?"

"Kau...membiarkan seorang wanita asing tinggal di rumahmu sedangkan dia tidak memiliki hubungan darah apapun denganmu,  sementara istrimu juga ada disana. Apa kau pernah sekali saja merasa bersalah ada Utari?"

"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"

"Kalau begitu lupakan saja." jawab Malik tanpa berani menatap langsung ke mata Dirman, "tapi....apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya? Kudengar kau tidak pernah mencintai Utari."

Dirman malah menatapnya sinis tanpa berkomentar apapun. Malik paham maksudnya, sehingga ia tidak akan mengatakan apapun lagi. Namun tidak lama kemudian pria itu kembali bicara omong kosong yang tidak ingin Dirman dengar, "Alasan seseorang tidak pernah jatuh cinta karena jodohnya tidak berenkarnasi, apa kau percaya itu?"

"Apa?"

Ngomong-ngomong tentang renkarnasi, Malik merasa penasaran dengan jawaban Dirman, "bagaimana kalau seandainya kau tidak bisa terlahir kembali di kehidupanmu selanjutnya?"

"Tentu saja aku akan terus berenkarnasi, aku tidak bisa membiarkan orang yang kucintai hidup seorang diri." jawaban yang Dirman ucapkan membuat Malik kagum padanya.

Dirman belum selesai dengan ucapannya, lalu ia pun melanjutkan, "tapi.....kalau pun aku tidak bisa lagi berenkarnasi. Aku akan tetap menemaninya di dunia ini."

"Jawabanmu itu terdengar sedikit menakutkan, tapi kuakui kau pria yang romantis." ucapnya menyahuti perkataan Dirman. Malik berjalan mengambil topinya meninggalkan ruangan yang menjadi tempat persembunyian mereka. Tepat di depan pintu, tiba-tiba langkah Malik berhenti ia berbalik untuk mengatakan sesuatu yang hampir ia lupakan, "jangan lupa katakan itu pada orang yang kau sukai....."

Rasanya Dirman tidak perlu mendengarkan ucapan pria itu. Namun anehnya ucapan Malik siang tadi, terus saja terngiang-ngiang dalam benaknya. Dirman terus saja melamunkan hal itu sampai ia tidak sadar kalau sejak tadi Fatma memperhatikannya melamun di depan teras. Ia ingin menegukan hatinya bahwa seorang pejuang tidak boleh jatuh cinta.

"Sedang memikirkan apa?" Gadis itu membawa kopi hitam untuk Dirman yang terlihat begitu lelah.

"Bukan apa-apa." jawabnya.

Melihat Dirman yang terus melamun, Fatma pun mencoba untuk mengajaknya mengobrol. Ia menggunakan bintang-bintang di langit sebagai topik pembicaraan. Tanpa diduga ia menemukan satu bintang jatuh, ia pun segera menyatukan kedua tangannya untuk berdoa membuat sebuah permohonan.

Sementara Dirman malah sibuk memperhatikan Fatma tanpa ikut melakukan apa yang sedang sedang gadis itu lakukan. Sesaat Dirman merasa terpesona oleh Fatma apalagi saat kata-kata Malik tiba-tiba mendominasi hati dan pikirannya, rasanya Dirman tidak bisa lagi berpikir dengan jarnih. Dirman ingin mengakuinya kalau ia menyukai gadis itu.

Fatma mendapati Dirman hanya diam memperhatikannya langsung menegur pria itu, "Baiklah! Akan kulakukan." akhirnya Dirman menyerah, ia pun langsung membuat permohonan seperti keinginan Fatma.

"Katakan padaku apa permohonanmu."

"Kenapa aku harus memberitahumu."

"Kalau aku.... aku berdoa agar kau selalu sehat dan di limpahkan dengan umur yang panjang dan aku juga berharap negara kita bisa segera merdeka. Aku sudah memberitahumu keinginanku, kau juga harus memberitahuku."

"Kau mau tahu."

"Hmm."

"Ini." tiba-tiba Dirman meraih telungkuk Fatma dan menariknya mendekat sehingga ia bisa menciumnya, bibir mereka saling menempel satu sama lain dengan cukup lama, Bahkan Fatma tidak menolaknya tapi malah membalas ciuman Dirman padanya.

'Aku berharap...agar selalu di pertemukan denganmu bukan hanya di kehidupan ini tapi untuk setiap kehidupan yang kudatangi, aku ingin selalu bersamamu dan mencintaimu.'

‎‎

PRAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang