Page | 12

2 0 0
                                        

Fatma berada di markas Alan untuk di introgasi, gadis itu mengatakan ia tidak tahu tentang pemuda aliansi yang di bicarakan Alan, "aku tidak pernah tahu soal itu."

Kemudian Alan menceritakan apa yang akan terjadi pada Dirman dan Malik dan juga tentang jebakannya untuk menangkap kedua pria itu, "kau benar-benar umpan yang pas untuk menangkap orang-orang itu."

"Menjijikan, kau bahkan tega menghianati negaramu sendiri." Fatma menanyakan kenapa Alan melakukan itu, pria itu mengatakan Fatma tidak perlu tahu yang pelu gadis itu katakan hanyalah informasi yang diketahuinya tentang pemuda aliansi, dan juga hubungannya dengan Dirman.

"Bukankah dia ketuanya."

Fatma tak ingin mengatakan apapun ia memilih diam, dari sorot matanya terlihat jelas bahwa sampai matipun Fatma tidak akan memberitahukannya pada si penghianat negara itu.

"Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain."

Sementara Dirman dan Malik, serta anggota pemuda aliansi yang lain sudah kembali ke tempat persembunyian mereka setelah penyerangan berakhir.

Salah satu dari mereka bertanya apa Malik terluka, pria itu bilang ia tidak apa-apa hanya luka sedikit yang tidak terlalu serius. Lalu Malik mengomando mereka untuk bergerak cepat.

Seperti rencana mereka sebelumnya, setelah penyerangan di pesta itu polisi Jepang pasti akan curiga karena tidak menemukan Malik ataupun Dirman. Karena itu mereka semua harus melarikan diri ke tempat yang aman agar tidak tertangkap.

Meski ada beberapa dari pemuda sepejuangan mereka yang tidak selamat dalam insiden itu, namun Malik mengingatkan mereka untuk tidak takut dan tetap ingat pada tujuan mereka, "saat kita memutuskan berjuang demi kemerdekaan negara kita, adalah saat dimana kita menyerahkan nyawa kita. Itu adalah takdir kita."

Malik menatap Dirman yang kini juga sedang menatap kearahnya. Malik baru saja mengatakan apa yang pernah Dirman katakan kepadanya 5 tahun lalu saat ia harus kehilangan saudaranya karena insiden yang sama.

Lalu anggota lain datang dan memberitahu jika saat ini polisi Jepang sedang mengepung setiap wilayah untuk mencari Malik dan Dirman. Setelah mendengar kabar itu, dalam hatinya, Dirman memikirkan Fatma. Ia berharap gadis itu sudah sampai di sana dengan selamat bersama dengan Utari.

Keduanya saling teringat untuk tetap hidup dan bertemu kembali di tempat yang mereka janjikan sebelum Dirman menjalankan misinya. Dalam hatinya, Fatma yang saat ini berada di penjara, mengatakan ia akan kembali dalam keadaan hidup bagaimanapun caranya.

│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫

Setelah mendengar kabar Fatma ditangkap rasanya Malik tidak bisa berdiam diri, dia sudah memberitahu Dirman tapi jawaban pria itu benar-benar membuatnya terkejut.

"Fatma hanyalah umpan untuk menangkap kita."

"Lalu maksudmu kau akan membiarkannya begitu saja?!"

"Apa kau ingin membahayakan semua orang hanya untuk menyelamatkan gadis yang tidak ada sakut-pautnya dengan tujuan kita!"

Malik nampak begitu kesal tapi ia tidak bisa apa-apa. Dirman kembali menjelaskan rencana pelarian mereka. Sebelum itu mereka memerlukan senjata untuk pertempuran selanjutnya.

Malik rasanya tidak bisa berpikir dengan tenang, bahkan hatinya juga merasa tidak karuan setelah apa yang Dirman katakan. Bukankah Dirman mencintai Fatma tapi sikap pria itu benar-benar membuat Malik kesal. Sebenarnya, jika Dirman tidak pedulipun Malik juga tidak terlalu memikirkannya, tapi sekarang ini yang ia khawatirkan hanya Utari, yang ikut disandera oleh para pihak Jepang.

Karena itu, keesokan harinya Malik menemui Alan dan menanyakan dimana Fatma, jika ia bisa menyelamatkan Fatma maka Utari juga akan selamat. Alan tertawa ia meminta maaf karena tidak bisa melakukannya.

Malik menyengir, "Jadi itulah jebakannya."

"Benar, sayang sekali kalau kau baru menyadarinya."

Malik menatap kearah Alan. Namun tatapannya kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya, terlihat begitu tidak bersahabat. Malik bertanya apa Alan ingin menukarnya dengan pemimpin pemuda aliansi.

Alan hanya menatapnya, ia benar-benar tidak bisa mempercayai pemuda itu. Seseorang seperti Malik, mustahil mengkhianati organisasinya.

"Aku bisa melakukan papun, jika harus menyelamatkan orang yang kusukai." ucap Malik terdengar begitu meyakinkan Alan.

│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫ █ ♪│▌♫

Malik berada di markas Alan. Pria itu bertanya jika Malik benar-benar pemimpinya, "kau pasti mengenal anggotamu lebih dari siapapun."

Tapi Malik bilang, meskipun ia pemimpinya, ia tidak mengenal anggotanya.

"Mungkin kau tidak tau anggota tingkatan terendah tapi kau pasti tau anggota pentingnya." desak Alan.

"Aku tidak tahu."

Alan seperti tak percaya dan meminta anak buahnya membawa Fatma masuk. Malik nampak terkejut melihat penampilan gadis itu yang terlihat seperti habis dipukuli.

Alan mendekati Fatma dan bertanya pada gadis itu, apa Malik benar pemimpinya. Seperti Malik, gadis itu bersikeras bahwa ia tidak tahu. Alan nampak kesal dan memukul Fatma, tidak peduli lagi meski orang yang ia pukul sekarang adalah wanita.

Malik kesal dan hendak melawan tapi anak buah Alan menendang kakinya hingga terjatuh. Alan menyuruh anak buahnya membawa Fatma keluar.

Dalam hatinya gadis itu memohon agar Malik tidak memberitahu siapa pemimpinnya.

Alan kembali bertanya siapa pemimpinya. Namun Malik bersikeras kalau ia adalah pemimpinya. Alan menendang meja dengan keras mengancam Malik bahwa ia akan menyiksa Fatma sampai gadis itu memohon sendiri untuk dibunuh, kalau Malik tidak segera memberi tahunya.





‎‎‎‎‎‎‎‎‎‎‎‎‎

PRAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang