Sejak kejadian tadi siang, Prilly berjanji tidak akan meninggalkan Ali lagi. Dan Prilly sudah berniat untuk tetap memperhatikan Ali walaupun suatu saat nanti dirinya disibukkan oleh sesuatu.
Setelah dokter memeriksa keadaan Ali, Prilly merasa lega. Karena tidak ada luka dalam. Hanya perawatan pipi Ali. Karena pipinya robek lumayan besar.
Ali tersenyum, Prilly selalu memegang tangannya. Hangat. Dari mobil, turun dari mobil, membawanya ke dalam kamar, tangan Ali dan Prilly tak pernah lepas. Bahkan Digo dan Dava hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada.
Prilly menyiapkan bubur dan air putih. Walaupun Ali sangat membenci bubur, Prilly akan berusaha membuat Ali menghabiskan buburnya.
Ali melihat Prilly membawa makanan untuknya. Ali senang, namun kesenangannya pudar saat tau Prilly membawa BUBUR! Makanan yang sangat dibencinya. Ali pun pura-pura tidur. Semoga Prilly membawa turun lagi itu BUBUR menyebalkan.
"Li bangun, makan dulu yuk"
"Li, Li.." Prilly melihat wajah Ali. Terlihat Ali hanya pura-pura tidur. Hh. Prilly mencoba untuk membangunkannya. Tapi gimana caranya?
Tiba-tiba Digo dan Dava menyuruh Prilly keluar dari kamar Ali. Lalu memberi cara agar Ali bangun dengan sendirinya.
Prilly tertawa, mereka memang tau semua tentang Ali. Dari kesukaan Ali sampai ketakutan Ali. Prilly mulai menjalankan rencananya dan berterima kasih kepada Dava dan Digo.
Prilly menyiapkan satu balon yang cukup besar dan satu buah peniti. Lalu membawanya ke kamar Ali. Digo dan Dava yang melihatnya, hanya menahan tawa. Mereka sudah tau reaksi Ali nanti.
Prilly meletakkan balonnya tepat di depan wajah Ali. Ternyata Ali belum mau kalah, dia masih pura-pura tidur. Dan.. 1.. 2.. 3..
DOR!
Ali bangun dan langsung memeluk Prilly. Badannya bergetar. Lalu Ali bergumam.
Ali takut please! Jangan tinggalin Ali! Ali sendiri sekarang. Mama ke luar negeri dan entah kapan pulang. Papa sudah bahagia diatas sana bersama Tuhan. Sekarang? Disini Ali sendiri. Please jangan tinggalin Ali. Ali takut!
Ali mengeratkan pelukannya. Prilly yang mengerti keadaan Ali hanya membalas pelukannya dan membalas gumaman Ali.
Tenang Ali. Ada aku disini. Ada mama papa yang menyayangi kamu seperti anak mereka sendiri. Dan ada sahabat-sahabat kamu yang selalu ada buat kamu. Jadi jangan anggap kamu sendiri disini. Aku menyayangimu.
Ali melepaskan pelukannya dan menatap Prilly. Apakah yang dikatakannya barusan benar-benar tulus dari hati kecilnya atau hanya untuk menenangkannya?
Prilly menatap mata tajam Ali. Mata yang penuh kesulitan. Walaupun Ali sering tertawa, namun Prilly yakin, tersirat kesedihan didalamnya.
"Kamu yakin?"
"Yakin!" Ucap Prilly mantap.
"Yaudah sekarang makan ya."
Ali memalingkan wajahnya. Enggan untuk melahap makanan yang dipegang Prilly. Menatapnya saja sudah membuatnya ingin muntah. Selera makannya hilang begitu saja.
"Ali, perut kamu belum kuat makan apa-apa. Cuma bubur. Ini cuma untuk hari ini. Besok aku janji masakin apa yang kamu mau. Ya?"
Ali masih diam dan menutup mulutnya dengan tangan. Digo dan Dava bertindak. Mereka lelah berdiri menyaksikan Ali Prilly yang asik berduaan. ALIAS NYAMUK.
Digo Dava memegang kedua tangan Ali. Menyimpannya di ketek mereka. Ali terkejut. Apa yang sedang mereka lakukan?
"Udah Pril, masukin aja makanannya. Tangannya udah aman" Dava tersenyum kecil dan menatap sinis ke arah Ali yang sudah menatapnya tajam.

KAMU SEDANG MEMBACA
Inginku Memilikimu
RomansaWalaupun aku tahu, aku sudah berkali-kali membuat kesal bahkan marah. Dan saat kamu kecewa denganku, aku datang dengan wajah tidak berdosa. Disaat aku sedih, kamu yang ada disampingku. Saat aku bahagia pun, kamu merasa bahagia walau aku tahu, tersir...