-
-
-
-
-
-
-
-
-
2014
-
-
-
-
-
-
-
-
-Pagi ini, Ali bangun pagi-pagi untuk melihat kedua orang tua Prilly pergi ke luar negeri, urusan kerjaan katanya, sekitar 2 bulan mereka disana.
Mereka ingin, Ali merahasiakan ini dari Prilly. Tapi bagaimana caranya? Kan cepat atau lambat Prilly akan tau? Apalagi, saat nanti mereka berangkat sekolah? Atau saat sarapan pagi? Atau suasana rumah yang tidak seperti biasanya? Kan pasti Prilly akan cepat mengetahui keadaan rumah. Dan pasti Ali yang akan kena imbasnya.
Papa Prilly memberikan kunci rumah dan kartu kredit untuk Ali pakai. Ali sempat menolak, namun benar juga, di rumah ini tidak ada orang selain dirinya dan Prilly. Bibi sedang pulang kampung dan satpam lagi pulang ke rumahnya karena ada musibah yang terjadi dari salah satu anggota keluarganya yang tinggal di luar kota.
Ali menatapi kunci rumah dan kartu kredit yang kini sudah ada di depan matanya, "Papa sama Mama yakin, selama Pak Satpam sama Bibi belum balik kesini lagi, kamu bisa jagain Prilly. Anggap aja dia perempuan yang Tuhan titipkan untuk kamu jaga dan sayangi. Jangan buat dia nangis ya Li. Prilly gampang nangis apalagi kalau lagi terluka. Pokoknya kami yakin, kamu memang laki-laki yang bertanggung jawab. Jangan tinggalkan Prilly"
Papa Rizal mengelus kepala Ali dengan lembut dan kasih sayang. Seraya mengecup keningnya hangat, "Dan Papa yakin, kamu orang yang pas untuk membahagiakan Prilly"
Bunda Ully tersenyum menangis, menatap Ali dan kamar Prilly yang terletak di lantai dua secara bergantian. Tak tega meninggalkan mereka sendiri disini. Ali yang melihat bunda Ully menangis, memeluknya, "Hei, Bunda kenapa nangis? Kan Bunda yang bilang, kalau perpisahan menyapa kita, kita nggak boleh nangis, harus strong! Karena suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Bener kan Bunda?"
Sekali lagi Bunda Ully menggeleng tak percaya, apakah Tuhan yang terlalu baik padanya? Mengirimkan seorang pemuda yang sangat baik untuk Putrinya? Bunda Ully melepaskan pelukannya dengan Ali lalu menatapnya, "Iya Ali bener. Jagain anak perempuan Bunda ya. Kamu memang anak yang paling ganteng dan baik yang pernah Bunda kenal. Bunda beruntung bisa merawat kamu sampai sebesar ini Ali."
Ali refleks menutup kedua matanya, mengecup kedua pipi Bunda Ully dan keningnya pelan dan cukup lama. Ali belum pernah merasakan kasih sayang sesungguhnya dari seorang ibu. Prilly sangat beruntung karena mendapatkan kedua orang tua yang masih lengkap dan sangat menyayanginya dengan tulus.
"Maaf saya mengganggu, pesawat sebentar lagi akan perangkat Tuan, bisakah kita berangkat sekarang juga?"
Papa Rizal memberikan isyarat kepada istrinya untuk segera mengikutinya masuk kedalam mobil. Ali menggeleng geleng kuat seraya menutup kedua matanya. Tak ingin melihat mereka pergi. Bunda Ully memeluk Ali dan mencium seluruh permukaan wajahnya.
Sebelum pintu mobil tertutup, Ali berlari menghampiri Papa Rizal dan memeluknya. Setelah merasa Ali sudah kelewatan, takutnya mereka akan telat, Ali merenggangkan pelukannya dan membiarkan mereka pergi.
***
Sekarang jam menunjukkan pukul 4 pagi. Prilly terbangun karena ada suara berisik dari arah dapur. Apakah tikus atau maling? Pikirnya.
Perlahan Prilly berjalan menuju dapur dengan membawa sapu. Tapi langkahnya terhenti setelah mendengar suara isakan pilu di dapur. Prilly meletakkan kembali sapunya dan melihat siapa yang ada di dapur. Pasti Ali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Inginku Memilikimu
RomanceWalaupun aku tahu, aku sudah berkali-kali membuat kesal bahkan marah. Dan saat kamu kecewa denganku, aku datang dengan wajah tidak berdosa. Disaat aku sedih, kamu yang ada disampingku. Saat aku bahagia pun, kamu merasa bahagia walau aku tahu, tersir...