Dunia itu sempit

16 1 0
                                        

"Mau ya ya Cil,please...."bujuk Elisa entah untuk yang keberapa kalinya.
Sebenarnya aku mau saja membantunya,tapi aku sedang ingin menggoda si seksi ini lebih lama.

"Hahaha,mpus!"ledek Dion senang melihat wajah cemberut Elisa.

"Cil,bantuin ya ya,pokoknya aku janji ini yang terakhir.Kalo nanti ada tugas lagi aku bakalan selesaikan secepatnya,please ya ya"Elisa memasang wajah mengiba.
Aku tertawa begitu pula dengan Dion dan Bintang.

"Jangan percaya sama dia Cil,otaknya tuh cuma mikirin pacaran aja"Dion malah makin mengejek.

"Apasih"sergah Elisa gemas.Ia memukuli Dion dengan buku tebalnya.
Dion berteriak sadis,mengganggu penghuni kelas yang lain.

"Aauch!sakit bek,kamu KDRT nikah aja belom.Nanti aku trauma loh"ucap Dion sambil mengusap-usap bahunya yang kena tabok.

Aku dan Bintang tertawa.

"Siapa yang sudi nikah sama kamu,ngomongmu aja ngelantur gini"ucap Elisa dongkol.

"Eh uda,ntar ku paketin kalian berdua ku kirim ke kantor KUA,biar nikah benaran!"kata Bintang terlihat geli melihat tingkah mereka.

"Ogah!"teriak mereka bersamaan.

"Uh so sweet,kompakan cieee"ledek Bintang membuat wajah Elisa semerah tomat.

Hahaha🤣

                              *****
Dan,kini aku dan Elisa berada di rumah Elisa dalam rangka mengerjakan tugas si seksi yang belum selesai,gara-gara si empunya keasyikan pacaran.

"Kamu di kamar aja ya,aku kedapur dulu nyiapin makanan untuk kita.Soalnya bibik lagi ada urusan keluarga jadi belum masuk kerja lagi"ujar Elisa seraya keluar kamar.
Aku menaruh tasku di atas meja belajar,membuka dan mengambil beberapa buku didalamnya.Lalu tidur tengkurap diatas kasur.

Ceklek!

Kupikir itu Elisa,jadi aku cuek aja.
Kasur disampingku bergerak turun.

"Hei sepupu,lagi apa?".

Deg!
Suara itu?

"Ck!dasar sombong!"
Aku belum sempat protes,ketika ia memeluk kepalaku begitu saja.

"Astaga,bang Igar ngapain?"

Mati!

Disana Elisa menatap kearah kami dengan tatapan terkejut.
Ia melepaskan pelukannya lalu menatapku dengan seksama.Aku beranjak dari kasur lalu keluar melewati Elisa yang masih sangat-sangat terkejut itu.

"Cil,hei...."Elisa berhasil menarik tanganku.Sekarang aku sudah berada di pintu depan setelah keluar dari kamarnya dan baru ingat jika tasku masih ada di kamar Elisa.

"Maaf soal tadi,dia sepupuku.Dia gak ada niat bikin kamu takut.Maaf ya...."Elisa memohon lagi.
Aku menatap Elisa dengan pandangan buram,aku syok.

"Cil...kamu marah?"tanya Elisa hati-hati.

"Please jangan nangis ya,aku mohon...ya ya".

Aku memeluk Elisa singkat lalu tersenyum tipis,agak maksa sih.

"Aku kerjain tugas kamu dirumah aja ya,aku mau balik sekarang"kataku pelan.

"Tapi,boleh gak tasku kamu ambil di kamar?".

Elisa terbahak pelan,dia mengangguk lantas pergi.

"Sorry"Igar mendekatiku tapi aku dengan otomatis segera mundur beberapa langkah hingga kini mencapai teras.

Ya Tuhan,kenapa Elisa sangat lama.

"Aku...."

"Bang Igar!"sela Elisa cepat.Ia mendekatiku lalu menyodorkan tasku.

"Aku antarin kamu sampai kedepan yah"ujar Elisa dan aku mengangguk saja.

"Dan kamu bang,kita perlu bicara.Jangan kemana-mana ya"intruksi Elisa terdengar seperti emak-emak.Aku ingin tertawa,tapi tidak bisa.

"Dunia ini emang sempit bek"gumamku membuat Elisa bingung.

When I Meet You,AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang