CHAPTER 6

837 93 4
                                    

Jungkook mengendarai motornya dengan kecepatan penuh yang diikuti jimin dan taehyung dari belakang. Untungnya jalanan saat ini sepi sehingga jungkook tak perlu berhati-hati. Namun aksinya tak bisa lepas dari mata seorang polisi yang mereka bertiga lewati tanpa sadari sehingga saat ini mereka bertiga dikejar polisi. ‘sial!’ jungkook semakin melajukan motornya dan tanpa sadari mereka sudah dikepung. Mereka bertiga memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan diri.
Dikantor polisi, mereka bertemu seorang polisi yang sudah mengenal mereka, terutama taehyung. “lihat para berandalan ini. Sudah berapa kali kalian terkena masalah, eoh? Kemarin-kemarin aku sudah bersabar dan menyuruh kalian sekedar membayar uang. Tapi kali ini aku sudah tak tahan melihat kelakuan kalian. Ikuti aku”  mereka bertiga mengikuti polisi dengan tag nama ‘KIM NAMJOON’. Mereka berempat sampai di sebuah lapangan yang terletak dibelakang kantor ini. “kenapa kau membawa kami kesini?” namjoon menatap tajam jimin yang berbicara banmal (informal) padanya yang notebenenya lebih tua darinya. Ingin sekali ia menjitak anak-anak ini. “aku minta kalian mengumpulkan sampah disekitar lapangan ini. Jangan ada yang tersisa. Sebelum tempat ini bersih kalian dilarang pulang dan untuk sementara, motor kalian kami sita selama 2 minggu” taehyung menatap tajam namjoon namun segera mengalihkan pandangannya karena balik ditatap tajam polisi itu.

“ini salah kalian karena selalu berbuat masalah. Cepat, lakukan hukumanmu” jungkook, jimin dan taehyung melakukan hukuman mereka dengan malas. Namjoon tersenyum puas melihatnya. “hyungmu itu menyebalkan, taehyung-ah” ujar jimin kepada taehyung. “ahh, pasti dia melaporkan hal ini pada appa. Matilah aku”.

Sementara itu so hyun sedang sibuk mengelap meja disalah satu kafe tempat ia kerja. “so hyun-ah, tolong antarkan ini dimeja no.3.” so hyun segera melakukan pekerjaannya. “selamat menikmati” ucap so hyun setelah menaruh makanan dimeja sang pelanggan. Setelah itu ia mencuci piring-piring kotor yang sangat banyak dan menyelesaikannya dengan cepat. Setelah pekerjaannya selesai semua, ia duduk dikursi khusus untuk karyawan dan memejamkan matanya. Ia menghela napas, cukup lelah karena pelanggan dikafe akhir-akhir ini ramai. “so hyun, kalau kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu, kau bisa pulang” so hyun mengangguk kepada ahjumma pemilik kafe ini.

Ia lalu pergi ke lokernya dan melepas celemek beserta topi khusus dari kafe ini lalu mengambil tasnya. “aku pulang dulu, ahjumma” sang ahjumma tersenyum. “terima kasih atas kerja kerasmu” so hyun berjalan keluar kafe. Ia mengingat hari ini ia akan mulai mengajar jungkook dirumahnya. “semoga aku tak menyesal” gumam so hyun dan berjalan kearah kerumahnya untuk membersihkan badannya. Ia hanya memiliki waktu 1 jam untuk bersiap-siap.

Jungkook sedang menunggu bus bersama jimin dan taehyung di halte. Ia melirik jam tangannya, “hyungdeul, aku pulang dulu” jimin menatap heran jungkook. “kenapa terburu-buru?” tanya jimin namun jungkook hanya nyengir. “ra.ha.si.a” jungkook langsung masuk kedalam bus meninggalkan jimin dan taehyung. Jungkook duduk didekat jendela dan menatap langit sore yang indah. Sesampainya dirumah jungkook langsung berlari kedalam kamar dan membersihkan tubuhnya.

So hyun menatap dirinya dicermin. Celana jeans dan sweater kuning melekat ditubuhnya, serta rambutnya ia ikat. Segera ia menyambar tasnya yang tergeletak dikasur miliknya. Ia menghidupkan ponselnya dan mengecek pesan yang dikirim ‘calon murid’nya. ‘daerah gangnam ya?’ pikir so hyun. Ia segera keluar rumah dan menunggu bus dihalte.

**

So hyun berdiri mematung didepan sebuah pagar besar nan tinggi. Ia bisa melihat sebuah mansion besar didepan. “a-apa benar ini alamatnya?” gumam so hyun dan berulang kali mengecek ponselnya apakah alamat yang dikirim anak itu benar atau tidak. Seorang namja yang berpakaian serba hitam membuka pagar itu. “apakah anda kim so hyun?” tanya namja itu, so hyun hanya mengangguk. “masuklah, tuan muda jungkook sudah menunggu anda didalam.” So hyun berjalan bersama yang ia yakini penjaga mansion ini.
Dengan hati-hati, so hyun masuk kedalam rumah megah itu. bahkan ruang tamunya saja sangat luas. So hyun hanya bisa memandang ruang tamu itu dengan pandangan kagum. “oi, apa kau akan berdiri saja disana?” sebuah suara membuyarkan lamunan so hyun. Ia bisa melihat jungkook tengah melangkahkan kakinya turun dari lantai dua. So hyun menatap namja itu lekat-lekat, yang ditatap membalas dengan tatapan heran. “kenapa kau memandangiku seperti itu?” so hyun hanya menggeleng. “boleh aku masuk?” jungkook hanya mengangguk.  Saat ini so hyun dan jungkook sudah terduduk disofa empuk rumah itu. “ahjumma, bisakah kau mengambilkan beberapa cemilan dikulkas?” sang maid yang disuruh segera melaksanakan perintah tuan mudanya.

“bisakah kita mulai?” tanya so hyun kepada jungkook. Dimeja rumag tamu itu terdapat buku-buku pelajaran jungkook yang sudah dipersiapkan sang pelayan. “aku akan mulai jika kau mulai” so hyun menghela napas kasar. Ia masih sadar ini bukan rumahnya jadi ia berusaha sabar. Pelajaran demi pelajaran so hyun ajarkan kepada jungkook namun jungkook sama sekali tak serius dalam belajarnya membuat so hyun kesal sekali. “hei, apakah kau mengerti bagian rumus ini?” jungkook hanya mengedikkan bahunya sambil memainkan pulpennya.

SO HYUN POV.

Aku meremat buku yang kupegang. Kugulung buku itu dan,

PLAK

Kupukul kepalanya menggunakan buku itu. ia mengadu sakit, “apa-apaan kau ini?” aku menatapnya jengah. “dengar ya pangeran yang terhormat, aku dibayar untuk mengajarmu, bukan untuk melihatmu malas-malasan seperti ini. Awalnya aku berniat untuk bersikap baik hari ini. Namun karena kau tak menanggapi serius pekerjaanku, aku tak akan segan-segan menghajarmu” jungkook menatapku dengan  jahil. “benarkah? Uh, aku takut~” ucap jungkook sambil berakting pura-pura takut. “sudahlah, jangan banyak bercanda. Perhatikan baik-baik bagian ini..” aku melanjutkan penjelasan materi pelajarannya kepada jungkook. Perlahan-lahan namja itu menanggapi penjelasanku.

Tak terasa jam kerjaku sudah habis. “besok kita lanjutkan, awas saja kau kabur” jungkook tak menghiraukan perkataanku dan itu membuatku jengkel sehingga aku menjitak kepalanya. “aw!”

“jangan main-main denganku jungkook-ssi.” Ucapku. “bisakah kau berhenti memukul kepalaku? Lama-lama aku menjadi bodoh karenamu” aku menatapnya yang tengah mengelus kepalanya. “bukankah dari awal kau memang bodoh?” ia menatapku tajam. “yak!!” aku mengambil tasku. “sudahlah, aku pulang dulu” aku hendak melenggang keluar sebelum seorang maid yang tadinya membawakan kami cemilan memanggilku. “ahgassi, tunggu sebentar” aku membalikkan badanku. “ini, bawalah pulang bersamamu” ahjumma itu menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang. “apa ini ahjumma?”
“ini beberapa kue beras yang tersisa saat acara kemarin. Terimalah” aku mengambil kotak itu. “wah, terima kasih ahjumma. Aku akan memakannya” ahjumma itu tersenyum padaku. “kalau begitu aku akan pulang dulu. Selamat malam” saat berjalan menuju rumahku, aku menatap kotak dalam peganganku. ‘setidaknya aku memiliki cemilan untuk malam ini’ batinku senang. Seseorang yang lewat disebelahku tak sengaja –mungkin- menabrak bahuku hingga aku sedikit terdorong kebelakang. Aku menatap namja itu. “apa kau lihat-lihat? Mau kucolok matamu” aku menatapnya jengah. “ku tidak meminta maaf?” namja itu tertawa. “meminta maaf? Yeoja sepertimu, cuih. Kau tak pantas mendapatkan permintaan maaf dariku”
Aku melihat sepatuku yang diludahinya, aku memejamkan mataku dan menatap namja itu tajam. Ia mendekatiku dan menampar pelan pipiku. “berhentilah menatapku dengan pandangan menjijikanmu itu, sepertinya kau membawa sesuatu. oi, ambil kotak itu.” namja itu memang tak sendiri. Ada 2 namja lainnya yang berada dibelakangnya. Salah satunya mengambil kotak kue beras yang kupegang dengan paksa. “bos, sepertinya ada kue beras didalamnya”

“kuberikan kalian 5 detik untuk mengembalikan kotak itu”

”hei, sadar diri. Kau itu yeoja dan kami namja. Jangan sok kuat deh” ia kembali menampar pipiku. Ia hendak kembali melakukannya sebelum itu aku sudah mengenggam pergelangan tangannya dan merematnya kuat hingga Ia meringis kesakitan. “cepat berikan!” aku melepaskan tangannya dan ia berjalan mundur. “apa-apaan kau ini?” aku menatap jengah orang-orang itu. “5..4..3..2..1” aku mengepalkan tanganku. “baiklah, kalian yang memaksaku menggunakan kekerasan!”

TBC 
Jangan lupa voment ya!!!

The Hidden WoodsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang