Seola masih berkeluh kesah karena laporannya ga kelar - kelar. Mijoo udah tidur terduduk di sebelahnya. Junghwa yang bantuin mereka berdua juga udah terkantuk - kantuk di depan notebook. Setelah 30 jam tanpa tidur. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya, pukul 2 pagi. Seola meregangkan tangannya ke atas.
"Kak Seol? Tidur aja kak" ujar Junghwa beranjak dan menuju wastafel. Mencuci mukanya sambil menatap ponselnya. Ini udah 2 minggu dia mengiyakan pd lkt nya Taeyong.
"Duh yang lagi jatuh cinta, hp diliatin terus" bisik Seola menuangkan isi bungkus kopi hitam ke gelas kertas dan berdiri di samping Junghwa.
Junghwa tertawa. "Entah kak, aku menikmati prosesnya. Lagi pula aku sama Taeyong pernah temenan. Oh iya, aku denger dari Taeyong, Kak Seol ketemu Dongho di Tinder dan ga sengaja ketemu di rumah tante Boa?"
Seola tersenyum, dia masih tak percaya dengan bagaimana cara dia bertemu dengan Dongho. Tak terasa sudah 7 bulan dia dan Dongho pertama berkenalan secara iseng di aplikasi itu.
"Iya, ah pasti Bang Eunkwang nih yang cerita" keluh Seola menyecap kopinya.
"Dari kak Mijoo sih tapi paling semangat emang Bang Eunkwang. Kok bisa kak? I mean di Belanda pun chance dari aplikasi dating itu kan kecil" jawab Junghwa, rasa kantuknya hilang. Dia memang penasaran sejak lama, tapi Seola tidak dalam situasi mau menceritakan hal itu.
Pintu ruang jaga itu berderik. Seseorang yang mereka kenal masuk. Eunkwang menguap dan menyalakan lampu, membuat Mijoo terbangun.
"Seol! Ke UGD ada cowok lu, cepet" ujar Bang Eunkwang tergesa.
Seola mengedikkan bahu. Dongho ga bilang bakal datang, firasatnya ga enak. Dongho selalu tanya dia kalo mau ke rumah sakit. Lagi, Dongho bilang dia akan menjemput adiknya untuk liburan di Bandung. Dia langsung meninggalkan kopi yang baru dicecapnya dan berlari ke UGD.
Ada Dongho disitu, kacau. Kemeja yang digunakannya berlumur darah.
"Ka..kamu ini kenapa? Kenapa berdarah" tanya Seola panik. Ini masih terlalu pagi dia mengecek keadaan Dongho, tapi sepertinya darah itu bukan darinya.
"Seol, tolong. adikku dua duanya kena tabrak lari" ujar Dongho bergetar. Seola sontak memeluknya, tak peduli Dongho berlumuran darah dan itu akan transfer ke bajunya.
"DONGHO!" Sahut Mijoo dan Junghwa melihat betapa berantakan Dongho. Mereka awalnya omongan Bang Eunkwang tuh karena Dongho tiba-tiba iseng datang, tapi Bang Eunkwang dengan serius bilang kalo Dongho datang dengan ambulance.
"Seol, lo tenangin dia. Biar gua liat Mina ama Yena gimana, Junghwa? Lo bisa telp Taeyong ga? Lo telp kasih tau suruh dia, kasih tau tante kesini" Mijoo memang paling bisa berpikir jernih jika ada hal seperti ini. Alasan kenapa dia bisa menjadi seorang dokter.
Seola mendudukan Dongho di salah satu kursi dan kembali memeriksa apa ada luka. Untunglah dia hanya terluka ditelapak tangan karena tergesek aspal. Seola membersihkan bekas darah di tangan Dongho yang masih terlihat shock.
"Seol.." Dongho memanggil Seola lirih. Beberapa dokter jaga menatap iba kearah keduanya, semua sudah hafal jika Dongho datang membawa makanan atau sekedar menjemput Seola. Pria hangat yang akan selalu menyapa semua orang saat menunggu dan menemui Seola.
Seola tak berkata apapun. Benar kata Mijoo, dia harus fokus menenangkan Dongho. Siapapun akan shock melihat seseorang tertabrak di depannya. Sekali lagi Seola berdiri dan memeluk Dongho. Mengelus belakang kepalanya.
"Tenang, Tuhan sayang kita semua. Kamu berdoa buat Yena dan Mina. Tuhan bakal lindungi mereka, Dongho kamu punya Tuhan dan aku" ucap Seola pelan. Dia bisa merasakan Dongho menangis, kali pertama dia melihatnya menangis.
"Kak Seola, kak Donghonya suruh minum dulu kak. Ini aku buat teh manis. Dia butuh gula" ujar Jin, menyodorkan segelas teh manis.
"Makasih ya Jin. Masih tindakan apa gimana ya?" Tanyanya pelan.
Jin mengangguk. "Masih di observe. Tapi udah di jait sama Kak Mijoo sih, lagi di observe sama Dokter Luna.
"Makasih Jin" ujar Seola tersenyum. Duduk di sebelah Dongho dan mengenggam tangannya.
"Kamu tau kenapa aku mau jadi pacar kamu? Karena saat kita bahkan ga terlalu deket kamu rela nyembur ke air dingin karena tau aku fobia sama kolam renang. Dongho, bahkan disaat aku panik kamu selalu ada. Aku, yakin mereka kuat mereka akan sehat lagi. Please, tatap aku jangan kayak gini" Seola tahu, Dongho hilang akal. Dia sejak tadi tak henti menatap ke arah ruang tindakan.
Dongho melihat ke arah Seola dengan tatapan nanar. Nafasnya lebih teratur dan bahunya lebih rileks, dia juga balas mengenggam Seola. Seola tersenyum
"Boleh aku minta sesuatu?" Tanya Dongho pelan.
Seola mengangguk mantap. Dia sangat khawatir tapi dia adalah paramedis, dia tidak boleh terbawa suasana, harus menenangkan Dongho.
"Jangan kemana-mana, disini aja" ujar Dongho merekatkan genggaman tangannya. Seola mengangguk.
"Even ga kamu pinta. I will stay by your side. Kamu harus berdoa, Tuhan bersama kita"
Taeyong dan tantenya terlihat berhambur ke arah Dongho dan Seola. Seola langsung menyapa dan mempersilahkan duduk.
"Ya Allah anak tante. Kamu gpp Dongho. Ya Allah tante jantungan Tiwai bangunin katanya kamu kena tabrak lari di jalan depan situ" ucap Tante Boa dan mengelus kepala Dongho seperti anaknya sendiri.
"Ya Allah Ho, lu bener gak apa - apa. Gua langsung shaking bro" ujar Taeyong.
Mijoo menghampiri mereka dengan senyum lebar. Pertanda baik.
"hei, syukurlah ade lo gpp kok Ho. Mereka ga sadar karena kaget, cuman Mina emang bahunya difraksi dan Yena lengannya patah jadi mereka harus di gips. Mereka bakal boleh pulang setelah rawat inap sekitar 4 - 5 hari. Tan, boleh bantu minta ttd wali ga? Karena Dongho masih mahasiswa, kurang valid" Mijoo menarik tantenya ke tempat administrasi.
Dongho dan Seola juga Taeyong langsung masuk dan melihat Mina dan Yena yang masih tergolek lemas. Ada jahitan di lutut Yena dan dahi Mina.
"Abangggg. Sakit.." panggil Mina manja.
"Syukurlah kamu gpp dek, abang bisa gila kalo kalian kenapa - kenapa. Apa abang harus bilang sama Mamak" jawab Dongho lega.
Mina dan Yena sudah di pindahkan ke ruangan. Mijoo dan Junghwa berhasil membuat mereka berada di satu kamar. Sehingga Dongho tidak repot kesana kemari.
"Seol, kata Bang Eunkwang lo boleh jaga di ruangan A ga di poli, sekalian awasin adik ipar katanya" ujar Mijoo sambil menguap.
Selama beberapa hari, Seola mengawasi dan menjaga Yena dan Mina, karena Dongho juga ada kegiatan kampus. Malam itu, Dongho masuk dan melihat Seola tertidur di Sofa. Adik- adiknya sedang asik bermain handphone, kondisinya sudah membaik.
"Bang, tak perlu lagi izin dengan mamak. Mina setuju kalo abang nikah dengan kak Seola" ujar Mina. Dia yang paling manja pada kakak sulungnya itu.
"Yena juga. Malah harus, abang harus nikah sama kak Seola"
Dongho duduk di bawah sofa dekat kepala Seola. Seola sadar dan membuka mata.
"Hai" sapanya.
"Seol, gimana nih?" tanya Dongho.
"Kenapa?"
"Mereka maksa pengen kamu jadi kakak ipar mereka"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kost Tante BoA vol. 2
Short StoryMasih nyeritain seputaran dunia Hana plus pria - pria penghuni kost dirumahnya, sepupunya yang isinya nyaris cowok semua dan juga teman - teman kampus tercinta, ITB?
