Warning!⚠ : Chapter ini mengandung sedikit unsur horror. Enjoy the story~ 😊
[ Mafumafu PoV ]
Setelah bermain wahana permainan selama berjam-jam, akhirnya kami sampai di wahana terakhir yang akan kami naiki. Wahana yang sudah ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti. Apa lagi kalau bukan rumah hantu. Rumah hantu disini memang terkenal salah satu rumah hantu yang paling menakutkan. Karena disini hantunya terkenal dengan make up yang menakutkan. Justru itulah yang menjadi daya tariknya.
Kami sudah sampai di depan gedung tempat rumah hantu tersebut. Gedungnya seperti gedung sekolah yang telah lama. Mungkin hantu-hantu di dalam bertema sekolah. Deretan antre yang lumayan panjang terlihat di depan pintu gedung. Sepertinya kami akan sedikit menunggu. Tak ingin menunggu lebih lama gue memutuskan untuk segera ikut mengantre. Namun, tiba-tiba tangan gue dicekal oleh seseorang. Gue segera memalingkan wajah untuk memastikan siapa pelakunya.
" Mafu, jangan kesana gih. Gue takut," gumam Shoose dengan wajah memelasnya.
" Gue penasaran. Mumpung disini, pengen coba. Kalau Lo ga mau, ga usah ikut juga ga papa. Nunggu disini aja," jawab Gue kemudian.
" Eh, Mafumafu tunggu! Lo jahat amat sih sama temen sendiri!" Seru Shoose seraya berlari mengikuti gue karena tidak mendapat balasan apapun.
Karena kebanyakan dari kami ingin mencoba masuk rumah hantu, gue akhirnya mengabaikan omelan Shoose yang protes. Gue mengambil antrian dengan yang lain. Manik gue beralih ke dua bocah yang berada di belakang gue. Yang satu tengah melumat permennya dengan tenang, sedangkan salah satu lainnya tengah sibuk mengganggu Amatsuki yang dihadiahi omelan yang terkacangkan.
" Eh, Soraru sama Sakata emang mau ikut masuk?" Tanya Mafumafu lembut.
Si surai navy hanya mengangguk kecil, sedangkan si surai merah terlihat semangat." Iya kak! Kan aku ga takut," ucapnya seraya menyengir lebar.
" Trus Lo gimana Shoose? Ikut ga?" Mafumafu beralih ke pemuda yang sejak tadi terlihat gelisah.
" Ikut aja Shoose, masa Lo kalah sama anak kecil." Ujar Un:c menggoda.
" Iya deh iya! Gue ikut!" Seru Shoose terpaksa.
Tak lama setelah itu giliran kami tiba. Segera gue membeli tiket masuk untuk 6 orang. Petugasnya bilang ke gue kalau masuk ke rumah hantu ini maksimal berdua. Akhirnya terpaksa kita masuk di waktu yang berbeda. Gue bareng Soraru, Sakata bareng Shoose, dan Amatsuki bareng Un:c. Setelah membeli tiket kami bergegas ke depan pintu masuk. Setelah sampai, gue langsung balik badan menghadap temen-temen gue.
" Jadi, siapa yang mau masuk duluan?"
Setelah keenam kata itu terucap, terciptalah keheningan. Angin berhembus diantara kami. Entah kenapa terasa lebih dingin. Membuat bulu kuduk gue sedikit meremang. Oke, gue merasa ga kuat dengan keheningan ini. Terlebih lagi tatapan ganas dari antrian manusia disana. Maaf saja, tapi gue ga tertarik bergabung untuk memeriahkan rumah hantu ini dengan menjadi hantu gentayangan.
" Oke, gue duluan yang masuk. Ayo Soraru!" Seru gue seraya menarik tangan Soraru untuk segera pergi dari kumpulan manusia penghening cipta.
Gue melangkah masuk beriringan dengan Soraru. Pemandangan yang cukup mengerikan terlihat di hadapan gue. Gue menelan ludah, berusaha menghilangkan kegugupan. Sedangkan anak kecil di samping gue terlihat santai.
" Kamu ga takut Soraru?" Ucap gue penasaran.
Soraru menggelengkan kepalanya lucu," ga. Kan hantunya boongan, jangan mau diboongin kak!"
" Gitu ya?" Sebenarnya gue sedikit tidak mengerti dengan jawaban Soraru, ah tapi sudahlah. Gue harus cepet-cepet keluar dari sini.
Tangan gue mengeratkan genggaman. Kemudian gue mulai menyusuri rumah, tidak lebih tepatnya sekolah berhantu itu. Kami tengah menyusuri koridor paling atas. Rute yang kami lalui memang dari lantai atas, berjalan turun hingga lantai terbawah agar bisa keluar. Setiap peserta juga diharuskan untuk mencari sebuah boneka beruang sebelum keluar. Oke, itu adalah strategi biar pengunjung masuk ke setiap ruangan.
Deretan ruang kelas terlihat di koridor lantai 3. Gue memutuskan untuk memeriksa ruang kelas pertama. Gue putar kenop pintu dengan perlahan. Namun, hasilnya nihil. Pintu tersebut tetap bergeming.
" Lho? Dikunci ya?" Gumam gue pelan.
" Jangan masuk ke sana.." suara aneh sekaligus menyeramkan menggema di koridor.
Spontan gue mencari sumber suara itu. Tapi penglihatan gue tidak menemukan apapun disini. Sampai tiba-tiba tangan kanan gue yang tengah menggenggam tangan Soraru terkena sesuatu. Bercak cairan merah pekat terlihat mengotori lengan atas gue. Gue menggerakkan manik gue keatas perlahan-lahan. Tenggorokan gue tercekat setelah melihat pelaku yang membuat suara mengerikan tadi.
Suatu makhluk, berbadan manusia. Pakaiannya sudah tercabik-cabik. Posisinya merayap diatas, seperti cicak. Terlihat banyak luka di badannya. Dan yang paling mengerikan adalah lehernya yang sudah setengah terputus, ditambah rahang bawah yang tidak menyatu dengan benar dengan rahang atas. Membuat mulutnya menganga lebar.
Sebenarnya gue tahu itu robot, tapi luka-luka itu kelewat mirip dengan aslinya. Logika gue seakan menghilang setelah melihat pemandangan itu. Gue seketika berteriak sambil berlari menjauh. Tidak lupa dengan Soraru yang menatap gue bingung, sepertinya dia tidak lihat makhluk yang tengah berdiam diri tepat diatas kami. Gue tidak menyadari suara gue terlalu memekikkan, sampai membuat bulu kuduk manusia yang tengah mengantre disana merinding. Ditambah salah satu manusia yang merengek untuk kembali karena awalnya dia takut untuk masuk kesini, ya kalian tahulah siapa dia.
Setelah berlari ke entah berantah, gue berhenti di depan sebuah ruangan. Pintu ruangan tersebut terbuka. Setelah mengatur nafas, gue masuk ke dalam bersama Soraru yang masih sibuk dengan lolipopnya. Ternyata ruangan itu adalah sebuah perpustakaan. Keadaan perpustakaan itu sedikit berantakan. Gue melangkahkan kaki masuk perlahan. Mata gue menyusuri ruangan dengan detail. Berharap menemukan sosok imut yang terbuat dari kapas itu. Bukannya menemukan boneka beruang, gue malah menemukan penampakan lain.
Sebuah boneka perempuan, yang penuh noda bercak merah dibadannya. Wajahnya tersenyum mengerikan, manik merahnya menatap tajam kearah kami. Lebih tepatnya melotot. Boneka itu melangkah mendekati kami seraya mengeluarkan suara tertawa yang mengerikan. Oh tidak, gue paling benci boneka menyeramkan daripada hantu. Tanpa disadari gue berlari menjauh dari sana seraya membawa Soraru yang terlihat kaget bersama gue, tak lupa suara teriakan gue yang membahana. Saat itu juga gue berharap bisa segera mengakhiri permainan ini. Dan hanya satu kata yang dapat gue keluarkan saat itu juga.
" EMAAAKKKK!!"
Oke, sepertinya part ini lumayan panjang. Aku ga nyangka akan menjadi 3 part. Semoga aja kalian ga bosen ya 😂
Oh ya, sekedar memberitahu. Siapa tahu diantara kalian ada yang bingung. Kadang aku pake bahasa non formal, kadang engga. Chap sebelumnya pake bahasa lebih fromal karena sudut pandangnya Soraru. Sementara dia adalah anak kecil. Kan rada gimana kalau anak kecil bahasanya gue Lo 😂 nah, kalau Mafumafu dkk lagi ngomong sama anak kecil juga bahasanya formal. Tapi karena chapter ini sudut pandang Mafumafu, bahasanya kembali non formal. Jadi jangan bingung ya! 😄
Sekian, jangan lupa voment kawan ❤
- Vaughn
KAMU SEDANG MEMBACA
Utaite High School
RandomKetika para Utaite sekolah di Utaite High School, sekolah yang dipenuhi orang-orang yang tidak peka sekaligus tidak 'beres'. Kejadian gaje yang haqiqi terjadi setiap harinya. Dan inilah kisah para Utaite ketika sekolah di Utaite High School. Can you...
