Chapter 10 - Play (1)

631 84 26
                                        

[ Soraru PoV ]

Setelah memutuskan pergi ke taman bermain, aku, Sakata, dan kakak-kakak pergi ke FUNNY LAND. Oh ya, hampir lupa. Kami semua tadi sudah saling mengenal ketika di perjalanan. Lebih tepatnya mereka yang mengenalkan diri.

Kita semua pergi kesana menggunakan bis umum. Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju. Suara pengunjung yang ramai dapatku dengar dari jauh. Pemandangan yang mengerikan terpampang di hadapanku. Tempat yang penuh dengan orang-orang. Ugh.. menjijikkan batinku dalam hati. Kulangkahkan kakiku mengikuti Kak Amatsuki. Tangan kanannya menggenggam tanganku.

Kak Un:c terlihat tengah membayar karcis bersama Kak Shoose. Kualihkan pandanganku kearah pintu masuk. Terlihat sebuah gerbang dengan tulisan 'FUNNY LAND' di bagian atasnya. Jangan lupa sebuah kepala badut tepat di bagian tengah tulisan. Entah kenapa badutnya terkesan menakutkan bagiku. Menurutku itu bukanlah senyuman menyenangkan, akan tetapi senyuman psikopat. Ditambah lagi matanya yang lebar, membuat kesan perhatian badut itu tajam kepada orang yang melihatnya. Hal ini membuat firasatku memburuk. Apakah mereka sama sekali tidak curiga dengan taman bermain ini!?

Setelah beberapa saat, akhirnya kami masuk ke dalam taman bermain tersebut. Berbagai wahana bermain terlihat ramai. Suasana disana sangat ramai, ditambah lagi teriakan pengunjung yang menakutkan menambah kesan ricuh.

" Waaahhh~ kak! Aku mau naik itu!" Jari kecil Sakata menunjuk kearah roller coaster yang terlihat sangat curam, dan diduga sebagai sumber teriakan mengerikan olehku.

" Eh? Tidak boleh, itu bahaya untuk anak kecil." Ujar Mafumafu.

" Kan Cakata bukan anak kecil! Tapi belum becal!" Sanggah Sakata. Entah kenapa jawabannya membuatku kesal.

" Ga boleh Sakata, nanti aja kalau udah besar. Ya?" Rayu Shoose.

Mendengar jawaban Shoose, membuat mata Sakata berkaca-kaca. Pipinya menggembung. Butiran air mulai muncul dari sudut matanya. Senjata andalan.. batinku dalam hati.

" Eh!? Iya iya, Sakata boleh naik kok. Jangan nangis ya?" Ucap Amatsuki cemas.

" Benalkah? Cakata boleh naik!? Yeeaayy~" seru Sakata riang.

Kami memutuskan untuk pergi menuju wahana roller coaster. Walaupun kami merasa cemas akan wahana itu. Namun, aku tidak peduli. Lagipula aku datang bukan untuk bermain. Ketika kami hampir sampai di wahana roller coaster, tiba-tiba Sakata berteriak.

" Whoooaaa! Ada kuda!" Manik Sakata menatap wahana komedi putar yang berada tidak jauh dari roller coaster.

" Aku mau naik itu aja kak!" Rengek Sakata kemudian.

" Ehmm..baiklah, itu lebih baik." Gumam Mafumafu.

Akhirnya kami melangkah menuju wahana komedi putar yang terlihat cukup ramai oleh anak-anak. Setelah kami mencapai wahana tersebut, tersisa beberapa langkah lagi, tiba-tiba teriakan Sakata kembali mengagetkan kami.

" Waahh! Mobil! Cakata suka mobil!" Tanpa pikir panjang Sakata berlari menuju wahana yang ia incar.

Dengan terpaksa kami mengikuti Sakata dari belakang. Sebenarnya aku tidak ingin mengikuti Sakata. Namun, apalah daya, tanganku dalam genggaman Kak Un:c. Sesampainya disana kami sama sekali tidak menemukan keberadaan Sakata. Dengan panik, kakak-kakak lain mencari keberadaan Sakata. Mereka mencari keberadaan Sakata dengan detail, bahkan kolong odong-odong tidak luput dari pencarian mereka.

Hingga akhirnya Kak Amatsuki berteriak ia menemukan Sakata di wahana pancingan. Tanpa basa-basi kami langsung berlari menuju tempat tersebut, termasuk diriku tentunya. Sesampainya disana kami kembali kehilangan sosok Sakata.

Kami kembali mencari Sakata dengan terengah-engah. Hingga akhirnya Kak Shoose menemukan Sakata di wahana tembak-tembakan. Kami langsung melesat menuju wahana tersebut tepat setelah Kak Shoose selesai memberitahu kami. Dan ketika kami sampai disana hasilnya nihil. Secepat apa kau pelgi Cakata!? Batinku frustasi. Tenagaku benar-benar hampir habis. Keringat sudah terlihat bercucuran di keningku, begitu pula dengan kakak-kakak lain.

Dan akhirnya salah satu kakak memberitahu kalau dia menemukan Sakata. Dan ketika itulah kami segera menuju ke tempat yang dia beritahu. Kami terus melakukan itu hingga 3 ke tempat lainnya. Kami sempat mendapat tatapan aneh dari beberapa pengunjung lain. Mungkin mereka mengira kita datang kesini hanya untuk lari marathon.

Saat kami dalam perjalanan menuju tempat selanjutnya, aku menyadari sesuatu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak ikut berlari bersama kakak-kakak lain. Kuhentikan langkah kakiku. Melihatku terdiam, Kak Un:c membalikkan badannya.

" Ada apa Soraru? Ayo cepat! Kita harus menemukan Sakata!" Seru Un:c frustasi.

" Tidak pellu mencali Cakata kak," jawabku.

" Apa maksudmu?" Tanya Mafumafu heran.

Kuletakkan tangan kananku di depan perutku," aku lapal. Aku ingin makan bulgel!"

Awalnya kakak-kakak lebih memilih untuk mencari keberadaan Sakata. Namun, berkat tatapan memelasku dengan beberapa perdebatan antara anak kecil dan anak kecil berbadan besar, akhirnya mereka menuruti kemauanku. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah restoran cepat saji. Aku memesan satu burger dengan segelas susu. Setelah pesanan kami datang, kami segera menyantapnya. Walaupun kakak-kakak terlihat tidak menikmati makanannya karena cemas, aku tidak peduli. Lagipula aku yakin perkiraanku benar.

Setelah beberapa menit terlewat, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sosok yang muncul dari samping meja kami. Surai merahnya menyembul dari bawah meja. Manik senadanya menatap melas kearah kami. Tangannya memegang perut yang terlihat mengenaskan.

" Kakak, aku lapal." Ujar Sakata.

" Kan? Bukankah cudah kubilang, tidak pellu mencali Cakata. Dia akan mencali kita cendili kalau dia lapal." Ucapku tanpa mengalihkan perhatianku dari burger yang tengah kugenggam.

Ah, kali ini kakak-kakak pasti baru menyadari kalau mereka melupakan kebiasaan anak kecil yang satu ini. Apalagi anak kecil seperti Sakata. Berterimakasihlah kepadaku, karena berkat diriku kalian tidak perlu membuang tenaga kalian sia-sia.

Karena baru menyadari hal itu, kakak-kakak lain hanya menatap Sakata dalam diam tanpa memberi respon apapun. Melihat respon yang tidak sesuai keinginannya, Sakata kembali merengek. Sedangkan aku masih setia dengan makananku. Sakata sama sekali tidak menyadari bahwa pemandangan di hadapannya adalah krik krik moment.

Utaite High SchoolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang