Chapter 8 - Child (1)

852 86 52
                                        

[ Author PoV ]

Matahari memancarkan cahayanya yang terik. Kehangatannya memancar ke seluruh penjuru. Menambah hawa panas di musim panas yang baru menampakkan dirinya. Suara serangga terdengar saling bersahut-sahutan, menyambut musim baru.

Siswa Utaite High School baru saja selesai mengikuti pelajaran kedua. Suhu yang tinggi membuat semangat belajar mereka menurun. Bahkan pendingin yang berada di dalam kelas tidak memberi pengaruh banyak pada suhu ruangan. Hal itu membuat para siswa makin kewalahan. Banyak diantara mereka yang melakukan berbagai hal untuk menyelesaikan masalah yang satu ini. Ada yang izin ke kamar mandi setiap 5 menit sekali untuk membasuh kepalanya dengan air hingga menghabiskan satu tangki air. Ada juga yang membawa kipas angin dari rumah dan menggunakannya di kelas untuk dirinya sendiri.

Bahkan ada yang membawa kulkas ke sekolah, agar dia bisa mendinginkan badannya dengan duduk di depan pintu kulkas yang terbuka. Tidak banyak pula yang memutuskan untuk membolos. Bahkan pernah dalam satu kelas yang berisi 25 orang, hanya ada satu orang yang hadir. Itu saja orangnya tidur sepanjang pelajaran. Sehingga guru-guru yang mengajar saat itu memutuskan untuk mengabaikan kelas tersebut pada hari itu.

Memang, musim panas tahun ini termasuk sangat panas. Namun, biasanya panasnya akan berkurang beberapa hari setelahnya. Karena itulah, ada beberapa siswa yang masih sabar menunggu suhunya menurun. Termasuk Soraru, Mafumafu, Sakata, dan kawan-kawan. Mereka masih setia menunggu sambil berharap suhunya akan menurun secepatnya.

Saat itu kelas mereka baru saja selesai mengikuti pelajaran kimia yang diajarkan oleh Pak Silvana. Sebenarnya umur Pak Silvana masih genap 20 tahun, jadi ia tidak pantas disebut Pak. Namun, karena dia seorang guru itu hanya untuk formalitas saja. Pak Silvana adalah guru yang bisa dibilang jenius. Dia sering mengikuti akselerasi ketika masih di bangku sekolah. Dia juga menyelesaikan kuliah hanya selama 2 tahun dengan nilai yang sempurna. Sebenarnya kalau dia meninggalkan kebiasaannya, dia akan menjadi ilmuwan terkemuka. Ya, dia memiliki SATU kebiasaan yang membuat banyak pihak menolaknya. Walaupun dia seorang jenius sekalipun.

Dan kebiasaanya itu adalah melakukan eksperimen. Bagi seorang ilmuwan melakukan eksperimen adalah hal yang lumrah. Namun, eksperimen yang dilakukan oleh Pak Silvana sangat berbahaya. Mungkin Pak Silvana masuk dalam list ilmuwan gila. Eksperimen yang dilakukannya PASTI akan memakan korban. Entah korbannya berubah menjadi makhluk jadi-jadian, atau bahkan korbannya berakhir meregang nyawa. Bahkan terakhir kali Pak Silvana melakukan sebuah eksperimen, lebih tepatnya membuat suatu proyek.

Dia berniat untuk membantu suatu desa yang terkenal miskin saat itu. Niatnya memang baik, tapi proyek tersebut berakhir buruk. Desa itu memang berubah menjadi desa yang paling canggih. Semua barang serba otomatis, bahkan warganya banyak yang menggunakan  'Premium Suit'. Itu adalah semacam pakaian yang didesain bisa menambah kemampuan manusia. Desainnya yang seperti mesin membuat pemakainya terlihat seperti cyborg. Namun, pakaian ini sangat membantu bagi orang-orang disana, terutama lansia yang sudah tidak bisa bergerak dengan bebas. Mereka jadi dapat melakukan banyak hal, bahkan yang tidak bisa dilakukan manusia. Seperti terbang dan melompat sejauh 10 meter.

Awalnya semua berjalan lancar. Para warga merasa sangat terbantu dan mendukung penuh proyek tersebut. Namun, suatu hari terjadi sebuah insiden. Karena ketidaksengajaan seorang anak terbunuh oleh salah seorang warga. Karena tidak terima keluarganya berusaha melawan orang tersebut untuk membalaskan dendamnya, dan berakhir Sang pelaku tewas. Hal yang sama dilakukan oleh keluarga Sang pelaku. Dan akhirnya terjadilah perang saudara yang sangat dahsyat.

Berbagai alat canggih yang mereka dapat membuat peperangan ini tidak kalah hebatnya dengan perang dunia 1. Hingga akhirnya perang berakhir tanpa pemenang. Semua warga tewas karena bom yang mereka pakai kekuatannya diluar perkiraan. Padahal Silvana sudah memperingatkan bahwa bom itu masih dalam tahap percobaan. Namun, dendam menguasai mereka. Dan akhirnya proyek yang sedang ditekuni Silvana menjadi hancur seketika. Dan desa itu sekarang terkenal dengan Desa Mati. Dan sejak itulah Silvana terkenal sebagai ilmuwan gila. Karena itulah dia sulit untuk mendapat pekerjaan. Hingga pada akhirnya dia diterima menjadi guru di Utaite High School. Entah kenapa kepala sekolah menerima orang seperti Silvana.

Setelah pelajaran kimia selesai, Sakata, Soraru, dan Mafumafu disuruh Pak Silvana membawa buku kimia yang baru saja dipakai untuk dikembalikan ke ruangannya. Buku tersebut sangat tebal, mungkin tidak kalah tebalnya dengan KBBI. Dengan hati-hati mereka membawa buku itu ke ruangan Pak Silvana yang berada satu lantai lebih tinggi dari kelas mereka. Sesampainya disana tanpa pikir panjang, mereka langsung meletakkan buku-buku itu diatas meja. Karena buku yang berat, ditambah lagi hawa yang panas membuat mereka sangat kelelahan. Rasa haus menguasai mereka saat ini. Sakata melihat sebuah botol Aqu* diatas meja Pak Silvana. Tanpa minta izin, Sakata langsung menyambar botol itu dan menegak airnya. Karena kehabisan banyak tenaga Soraru-san tergoda dengan Aqu* ditangan Sakata. Setelah Sakata selesai minum, dia langsung menyambar botol itu dan meminum airnya tandas. Melihat hal itu Mafumafu menjadi jengkel.

" Itu kan punya Pak Silvana, kok kalian ga izin!? Mana gue ga dikasih lagi! Dasar ga setia kawan! Gue kasih tau Pak Silvana baru tahu rasa kalian!" Gerutu Mafumafu tidak terima.

" Habis, haus banget. Panas lagi, tapi kok airnya rasanya rada aneh ya?" Ujar Sakata.

" Gue pikir karena lidah gue yang bermasalah, ternyata Lo juga ngerasain. Tapi yang tadi itu air putih kan? Warna airnya juga sama bening, botolnya juga Aqu*. Paling itu air putih biasa.." lanjut Soraru.

Beberapa saat kemudian Pak Silvana masuk ke ruangannya." Terimakasih ya, sudah membawa bukunya ke ruangan saya."

Pak Silvana kaget setelah melihat botol Aqu* yang ada diatas mejanya sekarang kosong," lho? Kenapa botolnya kosong?"

" Ano..maaf pak, tadi saya sama Soraru minum airnya. Habis haus banget habis bawa buku, boleh kan?" Ucap Sakata.

" Kalian minum ini?" Pak Silvana menunjuk botol di tangannya, dibalas anggukan Sakata dan Soraru." Yang kalian minum itu ramuan yang saya buat, bukan air putih. Warnanya emang sama sih. Tapi itu ramuan yang sedang bapak uji coba." Mendengar jawaban Pak Silvana, Sakata dan Soraru mematung seketika.

" Kalau itu ramuan kenapa ditaruh situ Pak? Kan bahaya!" Seru Sakata.

" Makanya bahaya, kalau bapak taruh di gelas Beker kan malah nanti dikira minuman, gelas Beker kan mirip gelas  biasa warna airnya juga kayak air putih. Makanya bapak taruh di botol, biar ga kayak minuman." Jawab Pak Silvana.

" Bukannya malah kebalik ya Pak? Bapak ini bego atau jenius sih?" Lanjut Soraru.

" Emang itu ramuan apa Pak?" Tanya Mafu.

" Ini ramuan yang bisa bikin seseorang tubuhnya kembali 10 tahun lebih muda,"

" Itu berarti.." Sakata dan Soraru saling pandang.

POOOFFF

Asap tiba-tiba menyebar ke seluruh ruangan. Asap tersebut semakin menipis perlahan. Dan terlihat Sakata yang terduduk kebingungan dalam wujud anak kecil umur 5 tahunan. Hal yang sama terjadi pada Soraru. Seragam yang mereka pakai menjadi terlihat kebesaran di badan mereka. Melihat hal itu Mafumafu menjadi panik.

" Ah..sudah kuduga.." ujar Pak Silvana seraya menatap dua anak kecil dihadapannya dengan tatapan iba.

" Apa-apaan ini!!??" Seru Mafu kemudian.

Utaite High SchoolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang