7. Permainan Tanpa Suara

2.5K 168 6
                                        

Bila sudah terlanjur kehujanan, lebih baik sekalian main air, hujan-hujan. (Khansa Adelia)

---

Aku masuk ke dalam mobil yang berhenti tepat di depan mobil buntut Rizal, aku tak menoleh untuk kedua kalinya saat meninggalkan Rizal seorang diri. Please, ini bukan sinetron cinta-cintaan. Ini salah kehidupan seorang Khansa Adelia, si primadona kantor devisi marketing khususnya.

Aku membuka pintu depan lalu duduk dengan santai, aku memilih jok depan dibandingkan dengan jok belakang.

"Jalan Mas, ke ruko perkantoran Sudirman." Aku mengeluarkan ponselku lalu mengecek beberapa pesan di WhatsApp juga di Email. Aku menoleh sekali lagi ke arah sopir Grap yang tak kunjung menjalankan mobilnya.

"Mas, saya sudah terlambat ini." Aku mengatakan itu sambil memberi kode menunjuk ke pergelangan tangan kananku yang ada jam tangannya.

"Saya antar, tapi Mbak bisa pindah ke belakang?" Aku menghela napas lalu mengeluarkan berkas yang ada di map.

"Jalan saja Mas, jangan banyak bicara. Saya harus presentasi pagi ini jadi saya mau mempelajari naskah dulu." Aku mengabaikan ucapan Mas supir, aku lebih memfokuskan pada berkas yang aku pelajari.

Tak berapa lama aku merasakan kendaraan itu mulai berjalan, ada sedikit rasa senang menghampiri diriku hingga tanpa kusadari aku sudah menerbitkan senyum yang terasa aneh. Mengapa aku begitu bahagia? Apa karena aku lepas dari Rizal atau karena apa yang aku inginkan terpenuhi?

Aku mengabaikan semua itu lalu aku mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet.

"Ini kartu nama saya, nanti malam tolong jemput sebelum pukul tujuh." Aku mengatakan itu lalu langsung keluarkan mobil berhenti tepat di depan lobi. Heran, kok bisa? Biasanya mobil kendaraan umum akan drop di pintu samping, kenapa mobil ini bisa lolos hingga pintu lobi?

Aku mengabaikan segala kejanggalan itu lalu segera berjalan menuju lift. Hingga satu suara yang cukup aku kenal terdengar di telingaku. Aku menghela napas lalu menoleh ke belakang.

"Mbak Khansa."

"Ada apa?" tanyaku dengan nada santai.

"Tumben terlambat?" tanya Rora, si gadis manis.

"Tadi mobil mogok." Aku menjawab dengan santai lalu masuk ke dalam lift, saat lift sudah terbuka.

"Mbak Sa kenal Bang Aidan?" tanya Rora.

"Iya." Aku menjawab dengan nada lelah lalu aku menyandarkan tubuhku ke dinding lift.

"Mbak Khansa juga berlangganan di bengkel Bang Aidan?" Aku menoleh ke arah Rora, sungguh aku tidak paham maksud dari pertanyaan Rora. Tunggu dulu, sejak kapan si kunyuk Aidan punya bengkel? Bukankah dia seorang jaksa? Apa dia ganti profesi? Tidak mungkin, sebulan yang lalu aku masih bertemu dengannya di sidang kasus pencurian di As shop. Lalu, bagaimana bisa sekarang dia membuka bengkel mobil?

"Aku tidak tahu kalau Aidan punya bengkel." Aku menjawab dengan jujur. Benar bukan kalau aku tidak tahu.

"Dla, terus bagaimana Mbak bisa kenal sama Bang Aidan?" Aku berjalan keluar lift saat lift sudah sampai di lantai tempat aku bekerja.

"Dia teman SMP." Aku membuka pintu, heran kenapa Rora mengikutiku?

"Teman SMP? Bagaimana bisa? Bukannya jarak umur Bang Aidan dan Mbak Khansa lima tahun?" Aku menghela napas lalu mendongak. Aku mencoba berpikir, Aidan lima tahun di atasku? Bukankah kami satu angkatan saat SMP? Kalaupun ada selisih mestinya hanya satu atau dua tahun karena aku mengikuti program akselerasi.

Menenun Asa (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang