Khilaf dan lupa memang bawaan manusia. Tapi jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk sebuah kesalahan. (Arkan Rizal Wiguna)
---
Aku masih ingat benar ekspresi terkejut yang berlebihan dari Nenek dan Tante Marta. Bagaimana tidak, setelah melambungkan Aidan dengan banyak pujian dia langsung terdiam tanpa suara setelah lelaki tak banyak suara itu mengatakan bahwa dirinya adalah jobless, pengangguran. Sungguh, jika tidak mementingkan kesopanan aku akan tertawa dengan kencang.
Malam kemarin Aidan mengatakan yang aku inginkan, jadi cukup membuatku tenang. Baik Tante Marta atau Nenek tidak menanyakan hal-hal menjurus kepada sebuah hubungan, jadi aku bersyukur tidak membuat orang berbohong karena diriku.
Aku ingat Aidan pernah bilang bahwa dia datang atas keinginan sendiri, itu bukan kebohongan bukan? Pasalnya aku tak sedikitpun memaksa lelaki itu untuk mengantarku. Tunggu dulu, ada hal yang terlupakan kemarin. Dari mana Aidan tahu alamat rumah Bunda? Padahal aku belum menyebutkan alamat hanya mengatakan bahwa aku ingin diantar ke rumah Bunda. Bukankah ada yang terlewat? Benar bukan? Aku tidak salah.
"Mbak," aku terkejut mendengar teriakkan Rora. Aku menoleh ke arahnya sambil melotot.
"Mbak pulang saja deh kalau sakit," kata Rora.
"Siapa yang sakit? Aku sehat." Aku kembali pura-pura menekuni lembaran laporan yang ada di depanku.
"Mbak, sadar gak sih dari tadi Mbak melamun." Aku mengangkat bahu lalu aku membalik kertas lembar demi lembar.
"Hati-hati kalau bicara, saya sehat. Kamu itu ucapan adalah doa, kamu mau mendoakan saya sakit." Aku mengatakan itu dengan lancar, lalu aku terdiam. Ah, itu adalah ucapan Aidan kala dia mau pulang dan aku mengatakan bahwa aku bisa gila jika tidak ada dirinya. Dan dia dengan santai dan datar mengatakan bahwa ucapan itu dia jadi berhati-hatilah dalam berbicara.
"Itu melamun lagi," kata Rora, aku menoleh lalu meringis.
"Aku tidak melamun hanya berpikir." Menyangkal itulah yang sedang aku lakukan, sungguh sejak pagi tadi aku merasa tak bisa berpikir jernih otakku selalu membawaku kepada ingatan seputar Aidan, Aidan dan Aidan.
"Ya sudahlah, aku mau kembali duduk." Aku mengangguk tanpa menoleh, aku menggaris bawahi beberapa hal yang tidak padu dalam laporan.
"Oh ya Mbak, di mana kenal Bang Aidan?"
"Aku pernah bertemu dengannya di Makassar beberapa tahun yang lalu." Aku menghentikan ucapanku, lalu aku menoleh ke arah Rora dan hendak berbicara tapi tak bisa. Tunggu dulu, aku baru saja mengatakan bahwa aku sudah kenal Aidan lama. Apa tadi?
"Kapan Mbak ke Makassar?" Aku menghadap ke depan lalu menoleh lagi ke arah Rora.
"Kayaknya aku asal bicara." Aku menghela napas lalu menunduk, ada apa denganku? Bagaimana bisa aku mengatakan itu.
"Tapi aku percaya, karena dulu Bang Aidan memang bekerja di sana. Tapi sejak adiknya menikah dia memilih mengundurkan diri dan tinggal di rumah orang tuanya." Aku mengerutkan keningku. Aku belum pernah bertemu dengan Aidan bukan? Iya, pasti belum pernah. Ini hanya khayalan saja.
"Sudah lupakan. Cepat kerja." Aku mengusir Rora dengan jelas, aku tak ingin membahas semua itu sebab otakku sedang tak berada pada jalurnya. Bagaimana bisa aku memiliki pikiran pernah bertemu dengan Aidan .Ya Allah sepertinya aku sudah mulai tidak waras lagi, aku perlu segera berobat, mungkin.
---
Sore kian menyapa dengan ditandai warna sang Mega yang menyoroti melalui kaca, langit tampak lebih bercahaya udara kian dingin menyapa setiap kulit-kulit anak manusia. Angin sepoi-sepoi terhembus dengan pelan dan memikat, seolah tengah berjalan bersama dengan sang sinar senja.
"Ra balik yuk," aku mengajak Rora untuk pulang, tubuhku sudah lelah jadi tak mampu lagi untuk menyelesaikan semuanya.
"Aku masih banyak yang perlu diprint out." Aku mencebik mendengar teriakkan yang berisi jawaban dari Rora. Biasanya saat kami lembur maka dia yang akan sibuk merengek mengajak pulang, tapi hari ini kenapa jadi sok sibuk.
"Kalau begitu aku pulang duluan," kataku mengambil kunci di laci lalu menenteng tas di tangan kiriku.
"Ok." Aku menghela napas lalu berjalan menuju lift. Jika pukul enam lebih lift cenderung sepi.
"Hai Mbak," aku mendengar sapaan bernada ceria, aku menoleh ke arah kanan dan kutemukan Rizal sedang tersenyum.
Aku menatapnya lalu kembali menatap pintu lift yang perlahan terbuka, entah harus bersyukur atau mengumpat lift dalam keadaan kosong dan artinya aku hanya akan berdua bersama dengan Rizal beberapa waktu kedepan.
"Masuk Mbak," aku tersadar lalu segera masuk ke dalam, aku memencet B2 dan mengabaikan Rizal, entah dia tak memencet apapun.
"Kemarin Mbak sama siapa?" tanya Rizal menghentikan pikiranku yang berkecamuk di mana-mana.
"Oh, teman." Aku menjawab dengan santai meski aku merasa ada aura berbeda di antara kita berdua. Ya Allah ada apa dengan jantungku, kenapa dia berdetak tak karuan seperti ini?
"Teman kok Mbak sentak gitu," aku menoleh ke arah Rizal lalu mengangkat bahu. Semoga dia tidak merasakan perubahan yang ada pada diriku.
"Dia orang yang dijodohkan dengan Mbak Khansa?" Aku membuang muka lalu mengeluarkan napas yang cukup kencang. Tanganku rasanya gemetar ada rasa takut atau lebih tepatnya cemas menyerang diriku. Tidak, aku sudah sembuh. Aku sudah tidak mengidam gangguan panik.
Lift terbuka aku langsung berjalan, bisa kurasakan tubuhku terasa nyeri, baik di dada atau perutku. Ya Allah, jangan! Aku mohon jangan perlihatkan kelemahan yang aku miliki kepada sembarangan orang.
"Mbak Khansa baik?" tanya Rizal cukup terlihat khawatir. Aku menatapnya lalu mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Mbak Pucat sekali," aku menyentuh pipiku yang terasa dingin.
"Bisa antar pulang? Kayaknya aku terserang sakit kepala." Aku mengatakan itu dengan jelas. Aku harus segera pulang dan mengurung diri, tidak akan kubiarkan rasa ini kambuh di depan khalayak umum.
"Mbak sudah makan?" tanya Rizal bersuara setelah beberapa meter keluar perkantoran. Bagiamana aku tahu? Karena setiap keluar kantor mobil berhenti di pos satpam untuk absen.
"Entahlah, aku lupa." Aku menjawab pelan, sejak sampai di dalam mobil aku hanya memejamkan mataku dan diam.
"Mbak, makan itu kebutuhan manusia. Kenapa bisa lupa?"
"Maaf, khilaf."
"Lupa dan khilaf memang bawaan manusia tapi bukan berarti dia dijadikan kambing hitam." Aku hanya tersenyum tipis lalu mengabaikan segala ocehan adik beruang kutub itu. Ah, kalau boleh memilih saat ini aku lebih baik bersama manusia kutub dari pada adiknya.
---
jeng....jeng.....
Pendek ya?
Hehehehe....
Bantu cek typo yaa....
Kediri, 21 Agustus 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Menenun Asa (Terbit)
SpiritualSilakan baca dan komentar selagi masih Going on, sebab saya tidak janji akan tetap memajang cerita ini di sini.... Hehehe.... ---- Khansa Adelia, dia adalah seorang wanita karir yang bisa dibilang sukses dan berjaya. Dia memiliki segalanya tetapi me...
