8. Tanpa Rencana

2.3K 177 20
                                        

Bukankah Tuhan ada di mana-mana? Lalu ke mana Dia kala aku berseru memohon kerukunan untuk Ayah dan Ibu? (Khansa Adelia)

Mungkin ini salah satu rencana Allah untuk mengujimu. Allah mungkin menangguhkan doamu untuk kebaikanmu. (Muhammad Aidan)

---

Aku menatap bingung mobil yang berjajar di parkir dekat lobi, bagaimana tidak? Aku tak tahu mobil yang dikendarai oleh Mas sopir. Aku menggigit kuku telunjuk tangan kanan sambil menoleh ke kanan atau ke kiri, siapa tahu sopir itu memarkirkan mobilnya di tempat lain. Mencoba peruntungan tidak ada salahnya.

"Mbak Khasanah belum pulang?" Aku menoleh dengan cepat ke arah kanan, aku menghela napas lalu menerbitkan senyum terbaik sebisaku.

"Belum Sar, ini lagi menunggu jemputan." Aku menjawab seraya mengeluarkan ponsel.

"Wah, berarti rumor kalau Mbak Khansa mau menikah itu benar?" Aku menoleh cepat ke arah Sarita. Apa tadi dia bilang? Rumor tentang aku yang mau menikah? Sejak kapan rumor itu ada?

"Siapa yang bilang?" tanyaku dengan nada sedikit ketus, bukan sedikit mungkin banyak. Aku hanya tak suka menjadi bahan gosip warga kantor apa lagi kalau yang digosipkan itu sesuatu yang sensitif atau sesuatu hal yang kebenarannya tidak terbukti, sungguh menyebalkan.

"Tadi waktu makan siang anak-anak bahas hal itu." Aku mencebik, siapa juga dalang di balik rumor tidak jelas itu. Aku menghela napas lalu menatap kembali ke arah tasku, aku harus menemukan ponselku. Aku tak ingin membahas hal itu lebih jauh lagi, aku cukup sadar bisa saja Sarita mengada-ada atau bisa saja nanti Sarita menjadi narasumbernya, jadi aku harus berhati-hati dalam berbicara.

" Mbak, dicari." Aku mendongak.

"Siapa?" Aku melihat Sarita memberi kode dengan dagunya, aku membalikkan badan dan di sana ada sosok lelaki gagah sedang berdiri di depanku. Kenapa wajahnya terasa familiar ya? Seperti pernah bertemu, tapi di mana?

"Baru saja saya mau menghubungi," aku mengatakan itu sambil memperlihatkan ponsel yang baru saja aku temukan di dalam tas.

"Ayo." Aku melongo saat cowok itu berbalik meninggalkan aku yang masih terkejut.

"Saya duluan Sarita, bye!" Aku segera berlari kecil untuk menyusul langkah kaki jenjangnya. Sungguh, aku memang terhitung sebagai perempuan yang tinggi tapi langkahku masih kalah lebar dengan langkah si Mas sopir Grap. Mungkin inilah penyebab seorang perempuan tak sebanding dengan lelaki.

---

Malam semakin larut tapi kemacetan jalan belum kunjung surut, maklum bulan Agustus adalah bulan paling sibuk di kota ini. Mulai dari awal Agustus hingga akhir selalu ada saja acara yang dibuat dan dilakukan sehingga menciptakan kemacetan panjang.

"Maaf Mas sudah menunggu lama." Aku mengatakan itu supaya tak terdengar hening di dalam mobil.

"Iya." Aku menoleh ke arah Mas sopir, dia lelaki aneh yang pernah aku temui. Mengapa? Biasanya sopir Grap yang mengantarku selalu ramah baru kali ini terlihat datar dan dingin.

"Mas marah sama saya?" tanyaku tak yakin. Pasalnya wajahnya datar sedatar papan tulis waktu dulu sekolah.

"Tidak." Aku mencibir lalu membuang muka ke arah kiri, aku melihat ada penjual makanan dan entah mengapa rasanya perutku tiba-tiba keroncongan.

"Kamu lapar?" Aku menoleh ke arah satu-satunya orang yang ada di dalam mobil.

"Iya," jawabku pelan. Lalu mobil tiba-tiba berjalan, aku pikir lelaki itu akan menawari makanan atau diajak ke kedai makanan tapi ternyata tidak.

Menenun Asa (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang