6. Alasan di Baliknya

2.5K 164 25
                                        

Sabar, orang yang sabar banyak teman. Dan orang sabar gak akan kena tekanan darah tinggi, mungkin. (Kru Jomblo)

-----

Aku tak tahu apa salah dan dosaku hingga hal ini menimpaku secara berturut-turut. Aku bukan orang yang berilmu tinggi dan juga bukan orang yang ahli ibadah. Aku hanyalah seorang perempuan karir yang mungkin dikaruniai sebuah kata kesempurnaan. Tapi, hidupku yang selama ini tertata seolah mulai goyah bak sebuah ladang padi yang tertera angin kencang lalu bergoyang dan berserakan. Sungguh, hidup damaiku sepertinya akan sulit kudapatkan.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyaku dengan nada tak bersahabat. Sudah, jangan komentar soal tata katana saat ini sebab aku saat ini pada kondisi mood yang sudah amburadul.

"Assalamualaikum, Mbak Khansa." Aku menoleh pada sosok perempuan yang saat ini perutnya sedang terlihat besar. Aku mulai berpikir, bagiamana rasanya mengandung? Apa nanti aku juga akan merasakan hal yang sama?

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Aku kembali menoleh kepada sosok yang menjadi pemicu angin puting beliung dalam hidupku.

"Kenapa pagi-pagi ke mari?" tanyaku pada sosok manusia kutub.

"Mahya yang ingin ketemu kamu." Aku memutar bola mataku, jengah dengan alasan yang selalu digunakan Arkan. Lelaki itu mungkin tak memiliki ide sama sekali, sifat kreatif yang dia miliki mungkin sudah hilang. Dasar di wajah dan otak datar.

"Terus?" tanyaku sambil berjalan menuju pintu.

"Jangan begitu, istriku sedang hamil." Aku memutar pintu lalu membukanya. Lalu, kalau istrinya sedang hamil apa peduliku? Saudara juga bukan kenal juga ga baru-baru ini. Aku memang mengagumi istrinya tapi bukan berarti aku selalu legowo dengan segala hal yang mereka lakukan.

"Aku menerima istrimu, tapi kamu harus pergi jauh-jauh." Aku masuk dan meletakkan belanjaan di meja. Sungguh hari ini tak pernah kuduga sebelumnya. Aku pikir hari ini akan menjadi self day, tapi ternyata ada tamu tak diundang.

"Aku ganggu Mbak Khansa ya?" tanya Mahya membuatku dirundung perasaan tak nyaman. Ah, calon ibu muda ini sedikit sensitif.

"Enggak kok, cuman aku sedang malas melihat wajah suamimu. Masuklah dan tutup pintunya." Aku melepas jaket yang dikenakan lalu menoleh ke arah Mahya yang baru saja masuk. Entah apa yang direncanakan dua orang itu yang penting aku mulai mencium konspirasi terselubung antara suami istri itu.

"Aku mau mandi dulu, kamu kalau haus ambil sendiri. Anggap saja ini rumahnya aku." Aku berlalu meninggalkan Mahya yang hanya terdiam di ruang tengah.

Sudah, abaikan dahulu ibu hamil itu saat ini sebaiknya aku membersihkan diri. Aku yakin ibu hamil itu tidak akan membuat rumahku porak-poranda.

Saat tubuhku sudah segar aku keluar dari dalam kamar, aku mencium bau sedap makanan. Siapa yang memasak? Aku baru ingat bahwa istri beruang kutub sedang ada di rumahku. Aku segera menuju dapur, takut-takut dapurku berubah menjadi kapal pecah saat melihat ibu hamil sedang duduk santai sambil memakan kue cucur ku aku sudah bisa bernapas lega.

"Maaf ya Mbak, aku makan kuenya." Aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju dapur dengan santai, aku ingin melihat dapurku dan aku patut bersyukur karena istri Arkan tidak membuat masalah denganku.

"Kamu sudah sarapan?" tanyaku dengan membawa dua cangkir teh.

"Belum Mbak." Aku mengangguk lalu menaruh teh itu di depan Mahya.

"Mbak ada acara hari ini?" Aku menaruh cangkir yang baru saja ku kecup bibirnya. Aku tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala.

"Jadi aku gak ganggu jadwal Mbak 'kan?"

Menenun Asa (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang