3. Brondong Salah Paham

3.1K 205 6
                                        

Bukan tampang yang nomor satu. Tapi dompet tebal yang menjadi kebanggaan dalam daftar calon mantu.

(Kru Jomblo)

---

Pagiku tampak suram hari ini, kami terpaksa harus menjaga si kembar semalaman karena si kembar tiba-tiba menangis kala kami sedang asyik bercerita dan hasilnya tidak tidur semalaman dan pagi ini mataku masih terasa pedas.

Aku bukan perempuan workholic yang tahan lembur hingga tidak tidur, bukan dan jelas saja sangat bukan. Karena aku hanya seorang pegawai yang senang menyelesaikan segala pekerjaan di kantor dan tidak betah dengan rasa yang bernama mengantuk. Di antara patah hati dan mengantuk, aku lebih tak bisa menahan mengantuk karena selama ini saat diputuskan oleh pacarku dengan tidur aku sudah kembali ke good mood. Sehingga, aku tak berdaya jika harus menahan kantuk semalaman.

Aku berjalan menuju dapur, di sana aku melihat Aisyah yang sedang mengaduk minuman yang sudah mengepul di udara.

"Sudah bangun?" Aku mengangguk lalu mengambil minuman itu begitu saja.

"Sa, gimana dengan deadline yang ditentukan Nenekmu?"

"Entahlah, aku bingung." Aku menjawab dengan jujur, aku memang bingung cara mengatasi polemik ini.

"Kamu mau aku kenalkan salah satu temanku?"

"Gak deh, terima kasih." Aku menjawab dengan santai. Aku tidak tertarik dengan hal itu, bukan karena tak mau atau tak menghargai hanya saja aku sedikit trauma dengan sesuatu yang sudah pernah terjadi.

Dulu aku sempat dikenalkan dengan salah satu anak sahabat Bunda, tapi menurut cerita kalau anak teman bunda itu good boy, tapi ternyata bad boy. Bagiamana tidak? Di awal berjumpa cowok itu sudah melakukan skinship denganku meskipun dengan tegas sudah aku tolak. Dan sejak itu, aku tak pernah mau dikenalkan oleh siapapun.

"Dia pegawai bea cukai, lumayan PNS." Aku menoleh ke arah Aisyah. Aku heran sahabatku yang paling waras ini tiba-tiba berubah menjadi wanita matre.

"Sejak kapan kamu memikirkan harta, Ais?" tanyaku dengan wajah tak percaya.

"Sejak ingat ucapan kamu tentang suami sepupu kamu." Dia menjawab sambil nyengir.

"Aku gak peduli, yang aku butuhkan suami yang baik budinya kalau baik hartanya itu adalah bonus." Aku meneguk teh panas di depanku dengan pelan.

"Iya sih, tapi melihat suami sepupu kamu yang kebanyakan adalah anak pejabat atau pengusaha kamu gak minder?" tanya Hana yang sudah mengambil duduk di sebelah Aisyah.

"Gak, biasa aja." Bohong, kadang aku suka minder sebenarnya. Tapi aku tak mau menjadi orang yang amat tercela dengan mengutarakan kejujuran itu.

"Bohong banget," seru Rahma dengan nada mencibir. Aku menoleh ke arah Rahma yang menata rambutnya yang berantakan.

"Kalaupun kamu biasa saja tapi kami enggak. Kamu gak ingin kamu dijadikan bahan olokan sama mereka, " kata Aisyah membuatku terharu. Aku tidak menyangka bahwa dia secare itu denganku. Aku hanya mengangguk lalu berkata. " Yach, lihat saja nanti. Doakan saja kalau aku bertemu dengan cowok kece yang melebihi standar yang mereka miliki. Kalian tahu sendiri bukan kalau aku cewek highclass."

"Sudah, ayo sarapan." Aku harus mengucapkan terima kasih kepada Rahma yang sepertinya membungkam mulut Hana yang hendak mencemooh diriku. Aku tahu watak sahabatku yang satu itu, tapi aku tak pernah tersinggung karena jelas aku mengerti bahwa semua itu tak pernah dari hati.

---

Siang ini terasa membosankan, aku harus berbelanja dengan daftar belanja yang sangat panjang. Sungguh, Bunda kalau memerintah tak segan-segan.

Aku masuk ke dalam sebuah pusat perbelanjaan, aku menatap kembali daftar yang sudah aku tulis di sebuah kertas. Bayangkan ada 35 jenis bahan masakan yang harus aku beli dan kondisi saat ini sedang berbelanja seorang diri. Aku tahu bahwa ini adalah hukuman dari bunda karena sudah hampir tiga pekan ini tak pulang ke rumah. Ya, aku lebih memilih tinggal di kontrakan yang tak jauh dari kantor. Bukan tanpa sebab aku melakukan ini, hanya sedang tak ingin direcoki dengan pertanyaan seputar calon suami selain itu juga faktor waktu dan keadaan.

Aku menarik troli setelah menitipkan tas di luar, sambil membuka katalog dan mengecek barang sale aku berjalan menuju ke arah lorong yang menyediakan bumbu masak dan kawan-kawannya. Aku sudah mengelompokkan semua daftar belanjaan menurut jenisnya jadi hal ini lumayan membantu, mungkin ini juga bisa menjadi tips untuk kalian. Kalau belanja, tulis sesuai dengan jenisnya jadi tidak bolak-balik dari lorong masakan ke peralatan dapur lalu balik lagi dan sebagainya.

Setelah itu aku berjalan menuju lorong makanan instan, ibuku tercinta memang melarang aku makan makanan instan tetapi ini salah satu kebutuhanku. Aku memang tak makan makanan junk food, tetapi kadang kala aku masih makan mie instan satu kali dalam sebulan jika aku benar-benar ingin.

Aku menghela nafas panjang kala melihat belanjaan yang menggunung, padahal aku masih ingin membeli makanan dingin seperti es krim dan buah-buahan. Tapi, kalau melihat troli yang aku bawa sepertinya sudah tidak muat.

Aku mendesah lalu berusaha mendorong troli yang sangat berat, sungguh ini sangat berat. Bagaimana tidak di dalam troli ini ada minyak 5 liter dan juga gula pasir satu pak yang isinya 5 kilogram. Belum lagi bumbu dan juga sabun cuci yang jumlahnya tidak sedikit. Astaga, ibuku sungguh mengerikan.

"Butuh bantuan, Mbak?" Aku segera menoleh ke arah sesosok cowok yang berdiri di sampingku. Aku bisa melihat wajah Rizal yang sedang nyengir.

"Kalau tidak merepotkan." Aku melepas peganganku di troli lalu bergeser, membiarkan Rizal menggantikan tugasku.

Rizal adalah salah satu tetanggaku di rumah Bunda, kami tidak dekat tetapi kami cukup kenal dan akrab. Membingungkan bukan? Ya, kami akrab tetapi tak pernah sedetikpun cowok brondong itu bersentuhan denganku. Sungguh, keluarga itu anti sekali skinship.

"Belanja sebanyak ini kok sendiri?" tanya Rizal.

"Kalau gak sendirian sama siapa?" bukan menjawab aku malah balik bertanya.

"Benar juga, jomblo sih." Aku memutar bola mataku jengah, aku tak yakin dia tahu sebab pandangannya ke depan.

"Mbak masih belum move on dari Abang?" tanya Rizal mbuatku menaikan dua alis. Belum move on? Sejak kapan seorang Khansa Adelia yang perfeksionis dan anggun ini belum move on.

"Tunggu dulu, dari siapa tadi kamu bilang?" tanyaku dengan nada yang cukup tinggi.

"Bang Arkan Mbak," jawab Rizal santai. Aku berhenti sejenak menimang informasi yang baru saja aku terima. Sejak kapan aku terjerat pesona si manusia kutub? Tidak pernah, brondong ini mungkin sedang konslet otaknya.

Aku berlari menyusul langkah Rizal, membuat suara sepatuku menggema di lorong makanan ringan yang cukup sepi.

"Abang sudah bahagia, mungkin saatnya Mbak Move on." Aku mengerucutkan bibirku, aku tak menyangka apa yang diucapkan bocah ini. Aku biarkan si bocah dengan segala spekulasinya.

"Kata orang, move on paling mudah itu pindah ke lain hati. Kalau Mbak sudah siap move on, aku terima kok hati Mbak jika mau pindah ke tempatku." Aku menoleh cengo ke arah Rizal. Aku menerka-nerka semua hal yang pernah terjadi dan sekarang aku sedang menyimpulkan bahwa bocah satu ini terjerat pesona seorang Khansa Adelia.

----

Kediri, 6 Agustus 2018

Menenun Asa (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang