Part 15 {Ending}

1.3K 91 3
                                        

.

.

.

.

Ruangan yang terang dengan dipenuhi bau hio yang dibakar dan disusun. Bau hio menguar ke seluruh rumah orang yang menyalakan hio atau dupa tersebut.

Seseorang dengan mulut yang membaca mantra dengan cepat didepan sebuah peti.

"Ku mohon kembalilah," Ucap seorang pria.

"Maaf dia telah tiada..." Ucap seseorang dengan jubah hitam.

"KRIST..." Teriakan histeris dikeluarkan oleh Singto berkali-kali. Anak yang baru lahir menangis begitu saja saat ibunya dinyatakan meninggal.

"Sing... Jasad Krist harus segera dikremasi. Ikhlaskan saja Sing..." Ucap Arm dengan kepala menunduk.

"Aku tidak bisa mengikhlaskannya begitu saja. Dia nafasku. Aku serasa sesak saat dia meninggalkan ku untuk selamanya," Ucap Singto dengan suara tercekat.

"P'Krist... hiks... kau sudah janji akan berlibur ke Bali bersama ku setelah kau melahirkan... hiks... Kenapa kau pergi Phi..." Rune menangis semakin keras setelah menyelesaikan perkataannya.

Senyum dan tawa yang datang di kebahagiaan Singto hilang selamanya. Suaranya yang manja kini tidak lagi didengar oleh Singto. Mata bulat nan indah yang selalu membuat Singto terpesona kini telah tertutup selamanya. Kulit Krist yang putih semakin putih dan pucat. Wajah yang selama ini tersirat senyuman sudah lenyap selama-lamanya. Mulut yang sangat cerewet kini hanya diam tidak bersuara. Kini Krist hanya terbujur kaku.

"Kenapa tidak dikuburkan saja," Ucap Mook.

"Kita ini Vampire. Tubuh kita tidak mudah hancur. Seandainya dikuburkan, jasadnya akan hancur selama 1000 tahun," Ucap Sune menjelaskan.

"Sune, kita tenangkan mae mu. Mae Jane sangat terpukul atas kepergian Krist," Ujar Mook.

Jane, ibu dari Krist menangis saat anaknya terbujur kaku tanpa nyawa. Yoan menghampiri Jane dan menenangkannya.

"Ikhlaskan anakmu Jane. Biarkan dia pergi dengan tenang." Yoan menenangkan Jane yang menangis.

"Mae jangan menangis lagi," Ujar Sune yang  memeluk ibunya.

"Krist ku telah pergi... Dia yang dulu selalu menguatkan ku saat aku terpuruk... Dia–." Jane pingsan dengan badannya yang sangat lemas. Sune membawa ibunya ke kamar.

Kedua bayi yang tadinya menangis, kini hanya diam saja.

"Punpun.... Arthit..." Panggil Peck seraya menepuk-nepuk pipi kedua bayi Krist dengan hidungnya.

"PUAEN...OI...BANTU AKU GENDONG BAYI INI!!" Suruh Peck pada Puaen sahabat Rune sekaligus sepupu Peck. Puaen mengambil Arthit dan Punpun. Peck memeriksa nafas si bayi.

"Bayinya tidak bernafas... Bagaimana ini?" Peck sangat bingung dan panik.

"Apanya yang tidak bernafas?" Tanya Singto yang muncul tiba tiba.

"Bayimu." Jawaban Peck membuat Singto memanggil Mook yang sudah biasa mengurus bayi yang ada di panti asuhan dunia Vampire. Mook langsung datang dan mengecek bayi yang ada di gendongan Puaen.

"Aku harus mengatakan yang sesungguhnya padamu. Bayimu bisa jadi kedinginan atau ada hal lainnya," Ucap Mook.

"Maksudmu?" Tanya Singto penasaran. Mook menghela nafasnya.

"Bayimu telah tiada," Ucap Mook.

Singto berpikir sejenak dan lututnya lemas seketika. Cobaan yang sangat berat untuk seorang Singto. Kehilangan istrinya saja sudah menangis histeris, apalagi kehilangan kedua anaknya. Rasanya kebahagiannya akan dimulai. Mengapa harus hilang dalam waktu sehari? Tidak cukupkah hanya istrinya saja yang tiada? Kesalahan apa yang dulu dilakukan Singto?

Memejamkan mata. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Singto. Beberapa menit lagi, upacara kremasi jenazah istri dan anaknya akan dimulai. Jika bisa, Singto rela mengorbankan nyawanya demi anak dan istrinya. Tatapan mata Singto terlihat kosong. Singto menyalahkan dirinya. Andai saja Singto tidak menjadikan Krist istrinya dan menerima Na saat itu, pasti Krist masih hidup. Setidaknya bisa hidup sampai 200 tahun lagi. Matanya yang sembab mengeluarkan liquid bening untuk sekian kalinya. Singto terus menyalahkan dirinya.
Suara pintu membuka membuat Singto menoleh.

"Sing... Krist dan anakmu akan segera dikremasi. Lihatlah Krist dan anakmu untuk terakhir kalinya." Ucapan Arm membuat Singto keluar dari kamarnya.

Di luar terlihat jasad Krist dan kedua anaknya di atas kayu. Singto mendekati keduanya dan mengecup dahi Krist dan kedua anaknya. Api terlihat sangat besar saat jasad Krist dan anaknya dibakar.

"Semuanya menjauh. Api semakin besar. Cepat padamkan apinya!" Perintah Arm.

Api tidak padam dan malah semakin membesar ketika di siram air.

"Singto apa yang kau lakukan?! Jangan mendekati api itu!" Ucapan Yoan tidak didengar. Kakinya tidak bisa dihentikan.

Bila kalian ingin membawaku pergi...
Bawalah aku...
Bila takdir berkehendak...
Aku ingin dilahirkan kembali bersamamu Krist...
Aku harap...
Semua yang kita alami hanyalah mimpi...
Mimpi indah yang akan terkenang...
Hanya mimpi semata...

TBC

Ini ending-nya memang sad ending sih...😭😭

Tapi kita lihat epilognya ya...

Apa memang sad ending atau tidak...

Love Stepbrother [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang