“Apa kau membunuh saudaraku?”
Jimin menatap Taehyung yang terdiam, dia menyadari perubahan wajah Taehyung. Jimin sendiri tidak ingin mempercayai semua ucapan Jungkook, dia percaya bukan Taehyung yang membunuh Jeongmin dan beranggapan bahwa Jungkook hanya bergurau. Tapi kenapa? Kenapa Taehyung diam? Taehyung tampak terkejut, dia menggigit bibirnya dan Jimin tahu sikap itu menunjukkan bahwa dia sedang berusaha menutupi sesuatu.
Apa semua yang diucapkan Jungkook itu benar?
“Kenapa kau diam, Tae?” tanya Jimin, “jawab aku. Apa kau membunuh saudaraku?”
Taehyung tetap diam, dan Jimin mulai tidak sabar. ‘Ayolah, Tae, jawab aku,’ batin Jimin resah, ‘jawab aku jadi aku tidak akan mempertanyakan apapun.’
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu kepada Taehyung, Jimin?”
Jimin dan Taehyung menoleh, Jimin menatap Lamia yang berjalan kearah mereka. “Bukan Taehyung yang membunuh Jeongmin,” ucap Lamia, “maafkan aku mengatakan ini tapi Namjoon yang membunuh Jeongmin, dibawah arahan Jungkook. Jangan pernah mempercayai pemuda itu, Taehyung...” Lamia menggenggam erat tangan Taehyung, “...dia tidak bersalah.”
Deg.
Jimin membelalakkan mata. Tidak, Lamia pasti berbohong. “Jungkook tidak mungkin melakukannya!” teriak Jimin, “jangan berbohong, Lamia!”
Lamia menghela napas, dia berucap, “Kau itu tinggal di kota besar, mendapat pendidikan yang bagus, tapi sepertinya otakmu tidak berfungsi dengan baik seperti Tuan Muda Jung. Menurutmu, bagaimana bisa Jung—“
“HATCHIU! OI, SIAPA YANG MEMBICARAKANKU?!”
Ketiga orang itu berjengit kaget mendengar teriakan Hoseok di lantai bawah. Lamia menghela napas, dia kembali menatap Jimin yang masih shock dan meneruskan ucapannya, “Menurutmu, kenapa Jungkook dan Namjoon tidak bergabung bersama kita? Kenapa mereka tidak disini? Dan Jungkook, kenapa dia tiba-tiba datang kemari hanya untuk mengatakan bahwa Taehyung membunuh saudaramu dan menghilang saat Bibi Hana muncul? Apa kau tidak memikirkannya?”
Jimin terdiam, dia menunduk merenungkan semua ucapan Lamia. Semua ucapan Lamia terasa masuk akal. “Saat ini, Taehyung juga mengalami masa berduka sepertimu, Jimin,” suara Lamia membuat Jimin kembali menatapnya, “kakak Taehyung, Tuan Muda Kim tewas di tangan Namjoon.”
Jimin menoleh kearah Taehyung, dia menyadari Taehyung tampak sangat rapuh dan seperti mayat hidup. “Tae...” Jimin mendekat, “...maafkan aku. Aku tidak tahu kakakmu...”
“Tidak apa-apa, Jimin,” sela Taehyung tersenyum, “tidak apa-apa.”
Jimin menatap Taehyung, pandangannya terhenti kepada manik mata abu-abu kawannya itu. Jimin mengenali mata itu, itu mata saudaranya. Setengah hati Jimin masih bertanya-tanya, kalau memang Taehyung tidak membunuh saudaranya, kenapa bolamata Taehyung berubah? Bolamata Taehyung berwarna coklat sebelumnya, bukan abu-abu. Tapi mengingat Taehyung sedang berduka karena kehilangan keluarga terakhirnya—seperti dirinya, rasanya tidak tepat kalau dia menanyakan itu sekarang. “Aku... aku harus menemui Bibi Hana,” ucap Jimin, “sebentar lagi waktunya makan malam. Ayo, kalian turun juga.” Jimin menatap Taehyung yang menatapnya sendu, dia tersenyum kecil dan berjalan meninggalkan Taehyung serta Lamia.
Taehyung menatap Lamia yang juga menatapnya. “Kenapa kau berbohong?” tanya Taehyung pelan, “apakah berbohong menjadi kebiasaanmu sekarang?”
“Sudah kukatakan, aku akan melindungimu, Tae,” ucap Lamia, tangannya terulur menyentuh pipi Taehyung yang terasa dingin, “kau tidak bersalah. Benar kata kakakmu, ini semua bukan salahmu.” Lamia tersenyum kecil, dia menggandeng tangan Taehyung dan membawanya turun ke ruang makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twins (Completed)
FantasyAkan lahir dua bintang. Satu diantaranya memiliki cahaya yang membutakan. Sebagian cahaya itu terserap oleh bintang lainnya, dan sebagian lagi masuk kedalam rengkuhan Sang Kematian. Dan saat itu terjadi, satu bintang akan mati.
