Sekeras apapun Sang Pangeran meminta, dia tidak sanggup menahan.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah membiarkannya terbang menyusul induknya.
*
Yoongi dan Hoseok berlari masuk rumah. “Jimin! Taehyung!” Hoseok berteriak memanggil, dia berlari menaiki tangga dan menyusuri koridor lantai dua. “Jimin!” Hoseok membuka pintu kamar, dia panik sekali tidak mendapati Jimin di kamarnya. Hoseok berdecak, dia beralih menuju kamar Taehyung namun pemuda itu juga tidak ada. “Sial!” Hoseok mengumpat, “kemana dua anak itu pergi?” Hoseok mengusap wajahnya gelisah, dia menggeram kesal. Hoseok bersumpah, kalau sampai Taehyung masih berpihak kepada Jungkook dan menjebak Jimin, Hoseok sendiri yang akan memenggal kepala anak itu.
Hoseok berlari menuruni tangga, dia mendekati Yoongi yang berjalan dari arah halaman belakang. “Tidak ada,” jawab Yoongi, “sepertinya mereka keluar rumah.” Yoongi merogoh sakunya, dia mengeluarkan ponselnya dan kemudian dia tersadar. “Astaga, aku lupa kita masih di hutan,” ucap Yoongi, “sebaiknya kita pergi. Kita harus menghubungi Lamia dan memintanya mencari Jimin. Ayo.”
“Aku tidak akan memaafkan Taehyung,” geram Hoseok.
Yoongi berhenti, dia menghela napas dan berucap, “Berhentilah mencurigai Taehyung, Hoseok. Belum tentu dia masih berpihak kepada Jungkook.”
“Dan belum tentu juga dia sudah berpihak kepada kita,” sahut Hoseok membalas.
Yoongi terdiam, dia berusaha memaklumi ucapan Hoseok. Benar kata ayahnya, sekali seseorang berbuat kejahatan maka semua kebaikannya akan dianggap sebagai kepalsuan. Yoongi sebenarnya kasihan dengan Taehyung, dia sampai berpikir mungkin Dewa tidak menghendaki Taehyung bahagia sebagai bentuk hukuman atas semua kesalahannya. “Bahkan Bibi Hana harus terlibat dalam semua ini,” Hoseok berucap, matanya memerah menahan tangis, “kalau sampai Taehyung masih terlibat, aku sendiri yang akan mengirimnya ke neraka.”
“Aku tahu,” ucap Yoongi, “sekarang kita fokus saja mencari Jimin dan Taehyung. Ayo.” Yoongi berlari keluar bersama Hoseok, mereka menyusuri hutan menuju kota. Yoongi tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Entah kenapa, batinnya terasa tidak nyaman. Berbagai pikiran berkelebatan di benaknya, membuatnya bingung.
“Kalian.”
Hoseok dan Yoongi berhenti. Hoseok terkesiap melihat Jaehwan berjalan santai kearah mereka. Yoongi mengerutkan dahi, dia kenal dengan pemuda di hadapannya ini. “Kau... sahabat Seokjin Hyung,” ucap Yoongi, “apa yang kau lakukan disini?”
“Raganya memang raga Jaehwan Hyung,” ucap Hoseok pelan, “tapi ada iblis yang meminjam raganya.”
Yoongi terkejut, dia menatap kaget Jaehwan. Pantas saja penampilannya berubah. Seingat Yoongi, Jaehwan itu selalu berpenampilan standar dengan kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khasnya. Sekarang Jaehwan berpenampilan lebih suram, dengan pakaian serba hitam dan aura berbeda yang menguar dari tubuhnya. “Aku kasihan dengan anak itu,” ucap Jaehwan, “dia menderita sejak lama, kehilangan semua orang yang disayanginya, dan sekarang dia menjadi sasaran kecurigaan kalian semua. Malang sekali. Andai aku sanggup, aku sudah membunuhnya. Setidaknya penderitaannya akan berhenti kalau dia mati.”
“Apa maksudmu?” tanya Yoongi.
“Taehyung itu,” Jaehwan menjawab, “dia berusaha melindungi Jimin tapi Namjoon tetap membawanya.”
Hoseok dan Yoongi terbelalak kaget mendengar ucapan Jaehwan. “Apa maksudmu Namjoon membawanya?!” Hoseok mendekat dan mencengkeram kuat lengan Jaehwan, “Namjoon membawa siapa?! Jangan katakan...”
KAMU SEDANG MEMBACA
Twins (Completed)
FantasyAkan lahir dua bintang. Satu diantaranya memiliki cahaya yang membutakan. Sebagian cahaya itu terserap oleh bintang lainnya, dan sebagian lagi masuk kedalam rengkuhan Sang Kematian. Dan saat itu terjadi, satu bintang akan mati.
