Chapter Thirteen

1.6K 185 4
                                        

Hoseok memasukkan koper Hana ke bagasi, dia menghela napas dan menoleh kearah Hana yang terdiam. “Bibi, apa kau tidak mau tinggal lebih lama lagi?” tanya Hoseok, “Jimin masih membutuhkanmu.”

“Jimin atau kau?” Hana ganti bertanya.

Hoseok terkekeh kecil. Sebenarnya memang Hoseok yang masih membutuhkan Hana. Hoseok merasa gagal menjaga Jimin, dan sekarang hanya Hana yang benar-benar bisa dia andalkan untuk membantunya menjaga pemuda itu. “Jimin membutuhkan sosok seorang ibu yang bisa menenangkannya, Bibi,” Hoseok menjelaskan, “selama ini, kaulah yang memberikan kasih sayang seorang ibu kepadanya. Kalau kau pergi, Jimin akan merasa kehilangan.”

Hana menghela napas, dia menoleh kearah hutan. Hana juga sangat berat meninggalkan Jimin, dia ingin sekali membawa Jimin kembali ke Seoul. Tapi saat ini tempat teraman untuknya hanya di Daejin. Membawanya ke Seoul sama saja akan menyerahkannya kepada kematian, apalagi perlindungan disana tidak sebaik disini. “Jaga dia baik-baik, Hoseok,” ucap Hana, “kau adalah putra seorang cenayang, ayahmu adalah salah satu cenayang terhebat. Aku sudah mengajarimu cara melindungi orang lain, jadi gunakan kekuatanmu semaksimal mungkin.”

“Lalu Jimin?” tanya Hoseok.

“Aku akan sering menelepon kemari, memantau keadaannya,” ucap Hana, “kau bisa, kan?”

Hoseok terdiam, hatinya merasa sangat risau sekarang. Hoseok tidak ingin Hana pergi, dia mengkhawatirkan keadaan wanita ini. “Bibi,” panggil Hoseok, “tunda kepergianmu.”

“Aku harus pergi, Hoseok. Kau ini kenapa, sih?” ucap Hana terkekeh, dia mengacak rambut pemuda itu, “sudahlah, aku harus pergi. Ingat, jaga Jimin. Kalau sampai terjadi sesuatu, kuhajar kau.” Hana tersenyum, dia masuk mobil dan perlahan mobil bergerak menjauhi Hoseok. Hoseok menghela napas, dia menatap mobil yang semakin menjauh dengan sedih. “Aku akan menjaga Jimin dengan baik, Bibi,” gumam Hoseok, dia menghela napas dan berbalik kembali menuju rumah di hutan.

Blam!

Hoseok menoleh, matanya terbelalak melihat asap berwarna pekat muncul dari arah mobil yang ditumpangi Hana. “Bibi!” Hoseok berlari kencang kearah mobil yang terbakar itu, dia seketika menghentikan langkahnya melihat ada dua orang muncul dari balik asap. Hoseok memicingkan mata, dia terhenyak kaget melihat seorang diantara mereka membawa Hana yang terkulai lemas. “Bibi Hana!” Hoseok berlari mendekat, namun detik berikutnya tubuhnya terhempas ke jalanan.

“Tenang, Bung,” seorang pemuda bersuara, “dia baik-baik saja. Kami masih punya hati, kami tidak mungkin membunuh wanita baik ini.”

Hoseok berdiri sambil menahan sakit, dia menatap bingung dua pemuda itu. Hoseok tidak mengenal mereka, tapi rasanya Hoseok familiar dengan dua orang ini. Mereka bertubuh tinggi, satu berkulit putih pucat dan satunya lagi berkulit coklat. “Jangan pernah mencoba menyakiti Bibi Hana,” Hoseok menggeram, “atau...” “Bagaimana kalau kau menyerahkan Jimin sebagai ganti wanita ini?” pemuda yang membawa Hana bersuara, “sederhana saja, serahkan Jimin atau kau akan kehilangan bibimu.”

Hah?

Hoseok terkesiap, dia paham sekarang. Dua orang ini suruhan Jungkook dan Namjoon. Hoseok mengepalkan tangannya, dia berusaha tetap tenang dan tidak membuat keputusan yang malah akan menyulitkannya. “Kalau kau menginginkan sesuatu, kau juga harus mengorbankan sesuatu yang lain sebagai gantinya, Tuan,” pemuda itu terkekeh, “kau tidak bisa memiliki dua hal dalam waktu bersamaan.”

“Apa Namjoon dan Jungkook yang menyuruh kalian?” sahut Hoseok, “dengar, aku tidak akan pernah menyerahkan Jimin. Apalagi kepada iblis seperti kalian.”

“Kalau begitu, kau harus siap kehilangan wanita ini,” pemuda berkulit pucat itu berbicara, “sayang sekali, kukira kau akan mementingkan dia.”

Twins (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang