"Menjauhlah dariku, dan jangan membuat keributan!"
Tanpa diduga, tiba-tiba Donghae mendorong rahang Krystal keras ke belakang hingga punggung wanita itu membentur kursi penumpang dengan keras. Suara erangan Krystal dan umpatan tidak jelas wanita itu terdengar saling bersahut-sahutan ketika ia merasakan rasa nyeri yang semakin merambat di punggung rapuhnya. Dan ketika ia akan menyuarakan protes yang kesekian kalinya, Donghae langsung menginjak pedal gasnya kuat-kuat hingga Krystal lagi-lagi harus menahan kekesalan karena tubuhnya yang terhempas ke belakang tanpa persiapan.
"Kau memang keparat kapten Lee!" Umpat Krystal marah. Wanita itu kemudian meraih sabuk pengaman di sampingnya dan mulai memasangkan sabuk pengaman itu untuk melindungi tubuhnya dari hal-hal yang tidak diinginkan karena ia tidak percaya dengan cara menyetir Donghae yang dinilainya kasar.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau harus repot-repot menculikku dan membuatku tampak menyedihkan seperti ini?"
Hening. Donghae sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang dilontrkan oleh Krystal karena saat ini otaknya juga sedang berkelana entah kemana. Tapi kebisuan Donghae yang menyebalkan itu justru membuat Krystal naik pitam dan semakin mengeraskan suaranya hingga membuat Donghae ikut berteriak karena ia merasa terganggu.
"Hey, jawab aku brengsek! Kemana kau akan membawaku pergi!"
"Diam! Kau membuat kepalaku semakin sakit dengan suaramu yang melengking itu. Lebih baik kau simpan tenagamu untuk sesi introgasi nanti."
"Jadi kau akan menyekapku dan mengintrogasiku? Sial! Aku seharusnya memang tidak pergi sendiri hari ini dan membiarkan Yunho menemaniku." Umpat Krystal kasar sambil menyandarkan punggungnya pada kursi penumpang. Berlama-lama berteriak dengan Donghae juga tidak ada gunanya. Tapi setidaknya ia tahu kemana ia akan pergi saat ini. Dan yang jelas ia yakin jika pria brengsek yang sedang menyetir di depannya saat ini tidak akan melakukan apapun padanya, termasuk membunuhnya nanti. Karena saat ini pria itu membutuhkannya untuk membeberkan semua rahasia yang dimiliki oleh Bloods. Tapi apakah ia akan tetap buka suara meskipun pria itu menodongkan pistol padanya?
"Kudengar kau memiliki seorang anak, benarkah?"
"Itu bukan urusanmu!" Ucap Donghae kasar. Krystal tergelak cukup kencang dan kembali memajukan tubuhnya untuk mendekati Donghae. Ia sangat suka membuat Donghae marah.
"Kau memiliki seorang anak laki-laki bukan? Hmm.. kira-kira apa yang akan dilakukan ayahku pada anakmu yang tak berdosa itu? Huh, ini sungguh menarik."
Krystal semakin meracau tidak jelas di dalam mobil dan semakin membuat tangan Donghae gatal untuk membungkam bibir Krystal yang berisik itu. Tapi sebisa mungkin ia menahannya karena ini belum saatnya ia mengeluarkan semua kekasarannya untuk melukai Krystal. Nanti pada saatnya ia sudah benar-benar kehabisan kesabaran untuk menangani Krystal, maka ia pasti akan membuat wanita itu bungkam.
"Turun."
Donghae tiba-tiba berseru pelan ketika mereka telah tiba di sebuah rumah kecil bergaya minimalis yang dipenuhi dengan bunga-bunga indah di depannya. Krystal mencoba untuk menormalkan pandangannya yang mengabur karena efek alkohol yang diminumnya. Tapi sayangnya kedua matanya tetap mengabur dan berkunang-kunang, sehingga ia tidak mampu membuka sabuk pengamannya sendiri untuk keluar dari dalam mobil.
"Kenapa kau membawaku ke sini? Arghhh, aku tidak bisa membuka ini."
"Minggir."
YOU ARE READING
Bullets Of Justice
FanfictionHidup penuh sandiwara dan pengorbanan itu memang sulit, namun itulah yang harus dijalani Yoona dan suaminya Lee Donghae yang merupakan seorang intel di Korea Selatan. Hubungan pernikahan yang tidak pernah dipublikasikan, membuat mereka tidak pernah...
