Kilometer Pertama

1.3K 333 12
                                        

Daniel melirik pada ponselnya yang tidak berhenti berbunyi dari tadi. Nama Seongwu jelas tertera pada layarnya, Daniel mendesah kesal, apalagi sekarang?

"Kenapa Wu?" Tanya Daniel sambil menggantungkan handuknya pada kaitan pintu kamarnya

"Kenapa lama banget sih? Sibuk ya?"

"Nggak juga, akunya habis mandi ini. Kenapa? Baru juga dua jam yang lalu telpon, udah kangen lagi?"

"Bukannya gitu cuma aku lagi sebel aja sama Jaehwan"

Daniel menggaruk kepalanya pelan
"Emang kamu abis diapain?"

"Tadi Jaehwan bilang ke anak-anak soal aib aku masa"

"Hahaha, kalian itu udah temenan dari bayi masih aja suka berantem sih"

"Ya tapi kan aku cerita ke dia bukan buat diceritain lagi"

Daniel menghela nafas lagi, susah kalau si manis ini ngambek

"Aku yakin pasti kalian nanti baikan lagi percaya deh sama aku, jangan ngambek deh. Eh, udah makan belum?" Tanya Daniel mengalihkan percakapan

"Udah tadi mampir ke Marvel City"

"Kok Marvel? Jangan bilang KFC lagi.."

Terdengar kekehan kecil dari Seongwu di seberang sana

"Tadi sebenernya nemenin Jaehwan manggung, biasalah dia main di live musicnya Marvel City. Karena aku bosen ya udah aku pergi makan ke KFC, eh pas aku balik malah aku diketawain gara-gara Jaehwan ngungkap aib aku"

"Emang apa?"

"Jaehwan bilang kalo aku masih suka disuapin sama mama. Kan aku sebel"

"Hahaha kan emang kenyataan Wu. Udah sana gih kamu tidur, besok katanya mau jogging pagi?"

"Iya Nyel, kamu juga. Jangan ngalong! Gak baik buat kesehatan" peringat Seongwu sebelum ia naik ke kasur nya "Night. Love you"

"Love you too.." ucap Daniel lalu memutus sambungan telepon mereka.

Tawa kecil Daniel terdengar setelah memastikan ia tak lagi terhubung dengan Seongwu. Anak itu masih saja, mau jauh atau dekat Seongwu tetap akan mengadu padanya tentang banyak hal yang ia lalui dalam sehari.

Setelah menaruh kembali ponselnya ke dalam kantong celana, Daniel segera melangkahkan kakinya ke dapur.

Rupanya sepi juga jika tidak ada yang menemani, baru pertama kalinya Daniel tinggal dikota orang sendirian. Daniel memang sering pergi keluar kota untuk mengurus masalah pekerjaan tapi bukan untuk menetap seperti ini.

Tangan Daniel cekatan membuka bungkus ramen yang tersedia di lemari dapurnya bersiap untuk memasak, tak membutuhkan waktu lama hingga ramen itu matang dan siap disantap

"Wuhuu ini yang namanya hidup!" Ucap Daniel membawa semangkuk ramen ditangan kirinya dan ponsel ditangan kanannya

Layar ponselnya menampakkan sebuah game yang sedang booming saat ini, iya game AOP yang singkatan dari Arena Of Palor

"AOP im coming!! Mumpung nggak ada Seongwu aku bisa main sepuasnya"

Jemari Daniel lincah bergerak kesana kemari bersamaan dengan cepatnya ia mengunyah ramen yang ada di mulutnya
Matanya terkadang menyipit saat melihat musuhnya mendekat dan memberikan serangan

"Attack! Attack! Wuuhuu im win!!" Sorak Daniel saat dirinya menang

Saat menyelesaikan satu stage permainan tubuh Daniel mulai bersantai, tangan meraba-raba meja mencari gelas minum

"Oh iya aku lupa. Biasanya Seongwu yang nyiapin minum" Daniel menepuk dahinya pelan lalu segera mengambil air di dispenser

"Ternyata gini ya nggak ada Seongwu. Ada enaknya ada nggaknya"

Lagi-lagi Daniel merasa sedih dengan kesendiriannya padahal baru semenit yang lalu ia kesenangan karena tidak akan ada yang ngomel padanya perihal memainkan game hingga larut malam.

Tapi bukankah senang-sedih itu sepaket?

Seolah ketika kita merasakan bahagia terkadang sedih juga datang tanpa diundang, pun sebaliknya

Seperti saat ini, disatu sisi Daniel senang karena ia bebas mau melakukan apapun yang ia mau tapi sedihnya ia juga harus melepaskan kebiasaan-kebiasaan kecil yang ada di hari-harinya sebelum ini

Biasanya di hari sabtu seperti ini Daniel akan menghabiskan malam di rumah Seongwu. Dengan sebungkus martabak dan terang bulan sudah bisa membuat luluh hati orang tua Seongwu, hingga akhirnya bisa meminjam anaknya barang untuk sejenak.

Namun nyatanya sabtu kali ini mendung, minggu pertama sejak perginya Daniel dari Surabaya dan pergi merantau ke Jakarta. Seongwu di Surabaya yang menemani Jaehwan untuk perform di sebuah mall Surabaya dan Daniel yang mengurung diri di tempat ia kos. Sungguh perbedaan yang kontras bukan?

Daniel jadi rindu Seongwu, Daniel yakin Shop The Body tidak akan buka selarut ini kan? Jadi hilang sudah angan-angan Daniel untuk mencium aroma Seongwu malam ini atau haruskah Daniel pergi ke supermarket 24 jam hanya untuk mencari parfum yang mendekati aroma parfum Seongwu?

Sudahlah masa bodoh dengan parfum Seongwu besok Daniel akan mencarinya ke Mall terdekat.

Sekarang Daniel harus tidur dan menikmati minggu pagi besok tanpa rengekan Seongwu yang memintanya menemani jogging.

Tuhkan, meskipun rindu Seongwu tapi pasti ada yang Daniel syukuri karena berada jauh dengan Seongwu


***

Ntans Note

Chapter pertama gengs, percobaan ini jadi nggak seberapa banyak word nya wkwk

Jangan lupa pencet bintangnya

Arigathanks Gozaimuch

734.KM - OngNielCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang