Seongwu mendudukan dirinya pasrah di ujung ruang gerbong kereta itu. Tadi Chanyeol sempat memarahinya karena menumpahkan air panas padahal kan Seongwu tidak bermaksud membuat kekacauan lagipula dia hanya ingin membantu.
“Sekarang duduk manis dan diam disini, tunggu hingga kita benar-benar sampai”
“Tapi aku pengen bantu Mas” bela Seongwu, ia tidak mau hanya duduk diam selama dua belas jam di kereta, setidaknya dia harus melakukan sesuatu “Seenggaknya nyiapin piring atau nampan gitu kek, nggak lagi-lagi nyeduh teh panas kayak tadi”
Namun tetap saja Chanyeol menggeleng “Sekali nggak tetep nggak Wu”
“Jahat!”
“Sekali lagi kamu bandel nanti aku turunin di stasiun berikutnya” ancam Chanyeol
Bukannya Chanyeol tidak suka kalau Seongwu turut membantu hanya saja bisa kacau nanti kalau ada kejadian yang tidak diinginkan apalagi status Seongwu di kereta ini adalah penumpang gelap, yang dipertaruhkan disini juga nama baik Chanyeol kan.
Seongwu mencebikkan bibirnya lucu tadi sebelum masuk ke gerbong dapur, Chanyeol sempat memarahinya karena barang bawaannya yang banyak bahkan hingga berjumlah dua koper padahal ia sendiri hendak pergi ke Jakarta setidaknya hanya untuk seminggu lamanya.
Lalu saat sudah berangkat ia juga dimarahi karena menumpahkan sedikit air panas, sejujurnya itu tidak sedikit, itu segelas air panas.
Tapi Seongwu tetaplah Seongwu, ia nekat mendekati petugas dapur itu lagi ketika Chanyeol pergi dari sana untuk sementara waktu. Telunjuknya ia letakkan diatas bibirnya membuat tanda supaya petugas itu diam dan sedikit bergumam ‘Aku mau bantu-bantu tapi jangan kasih tau mas Chanyeol, aku janji nggak akan ngerepotin’
Setelah mendapatkan anggukan setuju maka Seongwu bersiap menjalankan misinya.
“Kurang manis nggak?” tanya Seongwu mengangkat sendoknya, hendak meminta saran untuk kopi panas yang baru saja ia buat
“Nggak kok, cukupan” jawab sang petugas dapur dan berlalu ke meja lain “coba tuangin secangkir nanti taruh diatas meja aja”
Sesaat setelah Seongwu selesai menuangkan kopi, terlihat tangan meraih cangkir itu ‘Mungkin petugasnya mau coba lagi’ pikir Seongwu, namun pemikiran itu terhenti ketika suara lain terdengar di telinganya
“Kan udah aku bilang buat duduk diem” ujar Chanyeol, tangan kirinya memegang cangkir kopi dan tangan kanannya digunakan untuk menjewer telinga Seongwu
“Aduh mas, sakit tau!”
Mendengar Seongwu mengaduh tidak menghentikan aksi Chanyeol namun jemarinya malah lebih kiat menarik daun telinga Seongwu hingga kemerahan dan melepasnya
“Apa susahnya sih tinggal duduk aja”
Seongwu kembali mencebik “Aku kan gak bisa diem, tapi kopinya enak kan?”
Chanyeol terlihat berpikir sebentar, mencoba kembali mengecap kopi di tangannya “Enak sih, udahlah duduk aja satu jam lagi kita sampek kok”
Sorakan dalam hati Seongwu rasakan beriringan dengan rasa yang tidak sabar akan bertemu dengan sang kekasih, pikirannya mengembara ‘Akankan Daniel akan menyambutnya dengan senang nanti?’ atau ‘Akankah Daniel tepat waktu untuk menjemputnya?’
Biarkan itu menjadi rasa penasaran, toh satu jam lagi mereka bertemu. Tinggal siapkan hati dan menata perasaan untuk bertemu sang kekasih nanti.
***
Stasiun Pasar Senen, tempat pemberhentian kereta terakhir dan disinilah juga tempat Seongwu turun. Ia merenggangkan tubuhnya mencari kenyamanan di udara yang bebas setelah dua belas jam terperangkap dalam ruang kereta itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
734.KM - OngNiel
Fanfiction[DISCONTINUED] Ibukota Indonesia dan Kota Pahlawan terpisah 734 km jauhnya. Itulah panjang jarak yang memisahkan Daniel dengan kekasihnya, Seongwu. Ketika Seongwu ada di Surabaya Daniel justru menjauh ke Jakarta. LDR? Siapa takut!
