Hinata menatap jam dinding dengan rasa kantuk yang luar biasa. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi Sasuke belum pulang juga. Perasaan cemas langsung melandanya.
"Kapan dia akan pulang?" Tanya Hinata sambil menguap. Ia menepuk pipinya untuk menghilangkan kantuk. Tapi, cara itu hanya berhasil menghilangkan kantuknya untuk beberapa menit. Ia tidak boleh tertidur. Ia harus berbicara dengan Sasuke malam ini. Harus.
Perlahan-lahan mata Hinata menutup, tapi dengan cepat Hinata membelalakkan matanya. Badannya semakin kedinginan. Ia tidak tahu bagaimana cara menghidupkan pemanas ruangan di apartemen Sasuke.
Hinata menoleh kearah pintu saat mendengar bunyi tombol memasukkan kode. Hinata berdiri. Pasti itu Sasuke.
Sesuai dugaan, Sasuke datang. Tapi, dengan penampilan kacau. Kancing baju kemeja yang terbuka dua butir, rambut acak-acakan, bau alkohol, dan bercak merah yang kentara di leher Sasuke.
Hinata menelan ludah saat Sasuke menyadari keberadaannya. Aura suram Sasuke membuat nyalinya menciut.
"Lancang sekali kau. Beraninya masuk ke rumah orang asing tanpa perizinan." Kata Sasuke sambil melangkah ke arah Hinata dengan tatapan dingin.
Hinata mundur sedikit dengan badan kaku. Butuh beberapa menit untuk mengumpulkan keberaniannya.
"A-aku... Aku ingin bicara padamu. S-sangat penting."
Sasuke mendecih. "Aku sudah tidak ada urusan denganmu."
"Aku minta maaf," Hinata menarik napas, lalu kembali melanjutkan, "Maaf atas semua yang aku lakukan. Aku tahu kalau aku memang sangat jahat, bahkan lebih jahat darimu. Aku terima jika kau membenciku, tapi aku ingin kau memaafkanku dan mengabulkan permohonan terakhirku. Aku janji ini yang terakhir."
Sasuke mendecih. "Banyak sekali permintaan kau! Dasar wanita tidak tahu diri!"
Hinata terdiam. Matanya mulai memanas. Ia berjalan pelan mendekati Sasuke, lalu berlutut dihadapan Sasuke.
Sasuke terdiam sejenak sambil mengerutkan keningnya melihat Hinata yang berlutut dihadapannya, lalu mendengus kesal. "Bodoh! Apa-"
"Kumohon hiduplah bahagia!" Kata Hinata yang menyela perkataan Sasuke dengan mata yang berkaca-kaca. "Sayangilah orang yang benar-benar menyayangimu. Cobalah untuk mengerti bahwa dunia ini tidak semua hal bisa kita dapatkan. Dan, yang paling penting, berhentilah seperti ini. Semua kehidupan gelapmu hanya menghancurkanmu."
Sasuke terdiam sambil menatap Hinata yang masih berlutut dihadapannya dengan kepala menunduk. Untuk apa wanita itu peduli dengan kebahagiaannya hingga rela berlutut dihadapannya?
"Aku tahu apa yang aku lakukan semua ini mungkin tidak akan memperbaiki keadaan, tapi..." Hinata mengusap air matanya yang jatuh perlahan, lalu melanjutkan, "Aku sangat ingin kau bahagia. Aku merasa sangat jahat telah menghancurkan kebahagiaanmu karena kesalahanku. Aku yakin kau bisa meraih kembali kebahagiaanku, bahkan tanpa aku di dalam hidupmu."
Sasuke masih terdiam. Lidahnya kelu untuk bicara, bahkan mengeluarkan sepatah kata pun ia tak bisa.
"Aku harap kau mau mengabulkannya. Aku juga mau berterima kasih karena kau telah mencintaiku dan menjadikan aku sebagai orang yang sangat berharga bagimu." Kata Hinata dengan suara lemah, lalu berdiri menatap mata kelam Sasuke. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat tinggal Sasuke."
Sasuke masih berdiri di tempat sambil memperhatikan Hinata yang semakin dekat pintu keluar.
Hinata tersenyum puas. Apa yang ingin ia sampaikan, benar-benar tersampaikan dengan baik. Tidak sia-sia ia menunggu lama. Inilah akhir dari segala masalahnya dengan pria itu.
"Ya, semuanya sudah berakhir. Sekarang kembali ke kehidupan seperti semula." Kata Hinata sambil memegang dadanya. Dadanya bukan merasakan lega, tapi merasakan sakit yang luar biasa. Entah kenapa ia merasakan sakit seperti ini. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia tidak bisa merasakan lega? Bahkan sedikitpun tidak ada.
Hinata mendongakkan kepalanya saat merasakan air matanya mulai jatuh.
"Kenapa aku menangis??" Tanya Hinata kesal, lalu kembali berjalan dengan kepala yang sudah ia tegakkan.
Hinata mengangguk, lalu tersenyum. "Sepertinya aku terlalu bahagia karena sudah mengatakan hal itu. Aku sangat terharu."
***
Hinata menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia mendudukkan diri di ayunan taman dan tersenyum sambil menatap pesan singkat dari Itachi bahwa hari ini Sasuke akan melangsungkan pernikahan.
"Semoga kau bahagia. Aku yakin kau akan mendapatkan kebahagian mu nanti." Kata Hinata sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Senyum Hinata luntur saat air matanya turun perlahan. Ia menghentakkan kakinya karena kesal. Kenapa akhir-akhir ini ia sering menangis? Apalagi tanpa sebab. Sepertinya ia harus memeriksakan diri ke dokter.
"Berhentilah! Aku bilang berhenti." Kata Hinata kesal sambil memarahi air matanya yang semakin turun dengan deras.
Orang-orang yang berlalu lalang di depan Hinata, melihatnya dengan tatapan heran. Tapi, ia tidak peduli. Yang ia kalutkan hanya air matanya. Air mata yang tidak mau berhenti turun.
Hinata menghela napas pasrah. Akhirnya ia membiarkan air matanya mengalir sepuasnya.
Ting Ting Ting
Suara dering handphone Hinata membuatnya terlonjak kaget. Ada sebuah pesan masuk.
From : Itachi
Sekarang kau dimana?
Hinata terdiam sejenak, lalu membalas pesan Itachi.
To : Itachi
Aku di taman kota. Ada apa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Hate or Love?
Teen FictionHinata membenci Sasuke dan membuatnya menyesali pertemuan mereka. tetapi, Sasuke merasakan hal yang sebaliknya. ia merasa sangat senang mereka bisa bertemu yang membuatnya tertarik dan jatuh cinta dengan Hinata. jadi, siapakah yang menang? benci? at...
