Delapan : Perasaan Yang Berubah (1)

7.2K 612 14
                                        

Hinata membuka matanya perlahan. Ia mengerutkan keningnya saat menatap langit kamar tempat ia tidur. Rasanya begitu asing, tapi suasananya tenang dan sunyi.

Hinata menoleh ke samping dan langsung mendapati Sasuke sedang tertidur pulas dan melingkarkan tangannya di pinggang Hinata.

Hinata pelan-pelan membuka selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher itu untuk melihat apakah ia masih berpakaian lengkap atau tidak. Ia menghela napas lega karena ternyata ia masih memakai pakaian lengkap.

Dengan pelan, Hinata bangkit dan memindahkan tangan Sasuke dari pinggangnya. Setelah berhasil tanpa membangunkan Sasuke, ia berjalan keluar kamar.

"Kenapa aku bisa disini?" Tanya Hinata sambil berjalan-jalan mengelilingi ruang tengah yang menghadap pintu keluar.

Langkahnya berhenti saat melihat balkon yang tak jauh dari ruang tengah. Ia berjalan pelan menuju ke balkon, lalu membuka pintu kaca balkon tersebut.

Angin malam langsung menerpa wajahnya dan membuat rambutnya yang tergerai melayang-layang. Ia berpikir sejenak sambil menatap jalanan yang ada dibawahnya.

"Pasti di apartemen Sasuke. Aku harus pergi sekarang." Gumam Hinata, lalu berlari menuju pintu keluar apartemen.

Tapi, saat pintu itu terbuka, ia kembali menutupnya. Ia tidak mungkin keluar dengan piyama. Apalagi udara sangat dingin diluar. Iapun tidak ada uang untuk menyewa taksi atau tiket transportasi lainnya. Jalan kaki? Tidak! Hinata tidak mau mati kedinginan ataupun kelelahan karena berjalan berkilo-kilo meter jauhnya.

Ia kembali berkeliling lagi di ruang tengah. Tiba-tiba matanya mendapati sebuah dompet dan kunci mobil yang terletak di atas meja kayu menghadap tv.

Hinata mengerang kesal. Haruskah ia mencuri? Atau membawa mobil Sasuke? Tidak mungkin! Perbuatan itu tidak benar. Tapi, keadaanya mendesak! Bolehkah?

Ia menelan ludahnya, lalu menatap kunci mobil itu. Ia menggeleng cepat. Ia tidak bisa mengendarai mobil. Setelah itu, ia membuka dompet lipat Sasuke. Tangannya gemetar. Ia menatap sekilas ke arah kamar Sasuke, lalu menatap isi dompet itu. Hinata mengerang kesal karena tidak ada uang cash.

Ia menghempaskan badannya ke sofa. Tidak ada cara untuk keluar dari sini selain berjalan kaki ke rumahnya. Ia menatap jam dinding. Waktu menunjukkan jam empat pagi.

"Untuk hari ini saja." Kata Hinata, lalu pergi ke kamar dan mencari jaket ataupun mantel musim dingin milik Sasuke.

Setelah mendapatkan mantel bewarna hitam yang panjang dan kebesaran, ia mengendap-endap berjalan keluar kamar. Tapi, saat membuka pintu kamar, Hinata mendengus kesal. Tiba-tiba ia merasa takut. Bagaimana kalau ada penjahat diluar sana? Bagaimana kalau ia diculik?

Ia kembali menutup pintu kamar dan duduk ditepi ranjang. Otaknya kembali berpikir. Hanya ada satu jalan untuk kembali pulang yaitu Sasuke. Hanya Sasuke yang bisa mengantarnya pulang untuk saat ini.

Haruskah ia membujuknya? Tidak! Ia benci ide itu. Ia tidak mau bertekuk lutut pada Sasuke. Tapi, keadaannya mendesak!

Hinata kembali mengerang kesal, otaknya sudah malas berpikir mencari jalan lain. Akhirnya ia hanya bisa duduk terdiam sambil memandang jam dinding dihadapannya.

"Hinata." Panggil Sasuke dengan suara parau.

Hinata langsung terperanjat kaget dan berbalik menghadap Sasuke.

Sasuke menghela napas lega dan langsung memeluk Hinata, lalu berkata lembut. "Aku pikir kau pergi. Jangan pergi dariku, Hinata."

Hinata terdiam membeku tanpa membalas ataupun menolak pelukan Sasuke. Badannya seakan terkunci dan tidak bisa lepas dari tubuh Sasuke yang hangat.

Hate or Love?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang