ICSY - 4

55.5K 1.8K 132
                                        

Christ berlari dengan kecepatan maksimal. Sial dia kesiangan. Mesti begitu dia harus tetap joging lagi. Aduh seandainya saja si Madona alias Mama tercintanya gak datang kemarin dan gak nginap di rumahnya pasti dia lagi berbaring manja dan tidur sampai sore. Hell ini minggu!!! Tapi bukan itu semua yang didapatkannya di pagi yang cerah ini. Yang ada adalah Madona berceramah tentang suami impian para wanita, inilah, itulah, ah Christ sampe puyeng dengernya. Masih Christ dengar suara Madona yang melekat di kepalanya sampai detik ini.

"Perempuan itu suka pria yang olahragawan. Ya meski badanmu sudah berotot tapi kalau gak dilatih ujung-ujungnya molor juga, gak kenceng"

"Perempuan itu sukanya liat laki-laki lagi masak di rumah. Hmm itu benar-benar favorite Mama"

"Perempuan itu sukanya liat laki-laki lari pagi, keringat yang dikeluarkan kaum adam itu membuat kaum hawa juga berkeringat alias kegerahan"

"Perempuan itu--- "

Ah bacot sama perempuan itu sukanya apa! Yang Christ tau Christ tersiksa dengan ini semua. Bayangkan! Dia disuruh masak telur dadar dan kata Madona rasanya asin padahal dia kasih garam cuma satu sendok kok! Dasar wanita...

Christ menghela nafasnya pelan-pelan. Ini sudah putaran ke lima kalinya dia berlari di kompleks rumahnya. Di liriknya jam yang menunjukan pukul 6 pagi. Ingin Christ menangis sambil berkata "Oh kasurku yang ku cintai, tunggu aku kembali" tapi lagi-lagi yang muncul adalah wajah Madona yang sedang memegang pisau daging. Ish Madona atau Medussa sih?! Mama atau Mama? Jahat banget sama putranya sendiri.

Christ duduk dibangku taman yang tak jauh dari rumahnya. Kebetulan rumahnya ini kompleks elit, maksudnya semua ada disini, misalnya kolam renang umum, lapangab olahraga, dan lain sebagainya. Tangannya mengambil earphonenya yang sedari tadi tidak digunakannya lalu memasangnya pada telinganya. Matanya terpejam mendengar lagu-laginyang mengalun pada ponselnya itu hingga sesuatu menabrak kakinya.

"Shit!" Christ segera membuka matanya dan terduduk tegap, matanya menoleh ke tempat dimana dirinya ditabrak. Ah bukan ditabrak tapi kakinya diinjak!!! "Hell?! What happen Dude!" Christ menarik kakinya lalu mengusapnya pelan. Dilihatnya seorang gadis yang hanya terdiam sambil menatap lurus kedepan.

"Maaf. Aku.. aku tidak tau a.. a"

"Apa kau tak melihat begitu besarnya tubuhku disini?!"

"Aku.. Maafkan aku"

Christ menatap wajah gadis itu lama-lama. Tangannya melambai didepan wajah gadis itu tapi tidak direspon oleh si gadis itu. Christ berdiri lalu mensejajarkan wajah mereka. Si gadis segera memundurkan kepalanya saat merasa nafas panas Christ menerpa wajahnya.

"Kau.... Maaf," Christ menegakkan tubuhnya "Kau tinggal di kompleks ini?"

"Ya" jawab gadis itu "Sekitar 400 langkah lagi aku sampai di depan pohon besar dan aku akan berbelok ke kanan itu rumahku"

Christ melongo. Kecurigaanya ternyata benar. Gadis ini. Buta?! Jalan saja dihapali langkahnya, kalo orang normal kan ga perduli sama langkah kakinya sendiri, makanya suka jatuh pada tempat yang salah. "Ehm siapa namamu?"

"Viola"

"Oke Viola. Karena rumahku hanya 700 langkah dari sini maka ayo kita pulang bersama"

Viola tertawa sambil menunjuk kedepan "Rumahmu 507 langkah saja bukan 700 langkah lagi"

Viola tertawa sambil menunjuk kedepan "Rumahmu 507 langkah saja bukan 700 langkah lagi"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
I Can(t) See You (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang