BG #3

3.6K 263 8
                                        

Wanita paruh baya itu masih setia berdiri didepan pintu kamar sang putra. Dengan ragu ia mengarahkan tangannya pada gagang pintu tersebut. Niatnya ingin melihat bagaimana kondisi putranya didalam.

Malam ini Aini tidak bisa tidur. Gurat kekecewaan anaknya, terlebih lagi sang putra masih terbayang difikirannya. Namun selalu urung ia lakukan, mengingat sekarang sudah tengah malam. Aini takut kehadirannya malah membuat Ale terjaga.

Untuk beberapa detik Aini terpaku disana. Tangannya mengambang ragu ingin menggampai knop pintu kamar putranya. Hingga tanpa sadar Olive keluar dari kamarnya dengan wajah berantakannya. Membuat Aini mundur beberapa langkah dari pintu.

"Olive."

Tak ada sahutan dari yang punya nama. Gadis itu hanya melirik sang mama sekilas lalu berlalu masuk kedalam kamar Ale. Menutup pintunya paksa meski ada rasa tidak nyaman yang mengganjal. Ia sudah tidak sopan kepada orangtuanya.

Akhirnya Aini memilih beranjak pergi. meninggalkan tempat itu. Berharap setelah ini ia bisa tidur dengan lelap.

Sedang dibalik pintu untuk beberapa menit Olive berdiri diam bersandar pada pintu. Matanya terpaku pada pemilik kamar yang tidur dengan lelap diatas kasur kecilnya, kasur yang hanya cukup untuk satu orang.

Kamar Ale memang dekorasi sendiri, dengan dinding bercat biru yang tak lain adalah warna kesukaannya. Meskipun tak begitu luas dan lapang namun lebih dari cukup untuk meletakkan barang barang kesukaan nya.

Entah apa yang tengah dipikirkan Olive kini, yang pasti kedua matanya tak lepas dari wajah sang adik yang terlihat begitu damai. Untuk beberapa detik Olive akhirnya sadar dari lamunannya. Bergerak maju, mendekat kesisi sang adik.

Dengan gerakan lembut Olive meraih selimut yang berantakan akibat ulah sang adik. Merapikannya, menutupi sebagian tubuh Ale sampai sebatas dada.

Begitu sempurna ciptaan tuhan yang satu ini. Adiknya masih terlihat tampan, tak kurang sedikitpun kendati rambutnya berantakan. Satu-satunya penyemangat Olive. Bagaimana ia masih ingat pulang lebih cepat demi menyambut sang adik saat pulang dari sekolah.

Singkat, Olive menyibak anak rambut yang menutup dahi sang adik. Mengecupnya singkat kemudian beranjak keluar.

Sebelumnya Olive berucap, "Selamat malam." Dengan suara parau namun senyum terukir Olive menghilang dari balik pintu.

*

Seperti biasanya, rumah itu tampak sepi. Menyisakan Olive yang sibuk berkutat dengan menu masakan untuk sang adik. Hari ini Samuel telat datang kerumah, jadi Oive mengerjakan semuanya sendiri. Termasuk membangunkan Ale yang tergolong orang paling susah bangkit dari lelapnya.

Untuk pagi ini syukurlah Ale menjadi anak yang rajin. Tanpa dibangunkan siapapun, anak itu sudah lebih dulu mandi. Bahkan saat Olive hendak membangunkannya ternyata sang adik sudah asik main sabun dikamar mandi. Diiringi konser yang menggelegar bak tour ke luar negeri.

Cukup waktu beberapa menit saja, kini Ale sudah siap dengan segalanya. Bergegas turun dari atas berhambur memeluk Olive dari arah belakang.

"Pagi kakakku yang cantik," sapanya manja tepat di telinga sebelah kiri Olive.

Anak itu menyandarkan dagu pada pundak sang kakak sambil memeluk erat pinggang Olive dari belakang.

"Pagi kesayangan kakak. Ih, tumben manja." Olive mengusak puncak rambut sang adik dari arah depan.

"Gak papa. Lagi pingen aja. Tiba-tiba kangen sama Kak Olive. Pingen manja-manjaan."

Ale makin membenamkan wajahnya di bahu sang kakak.

I Hope (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang