6. Tanpa Amarah

16 2 0
                                        

Joana menahan napasnya. Tidak tau harus mengatakan apa saat jantungnya justru terasa berhenti mendadak. Kedekatannya dengan Rangga sangat menyulitkannya. Entah menyulitkan cara kerja jantungnya, hatinya atau mungkin seluruh tubuhnya.

Joana tidak bisa berkutik barang sedikitpun saat Rangga membalas tatapannya. Bahkan dengan sangat intens. Cowok itu juga tidak melepaskannya sedetikpun. Joana juga mendadak tidak bisa menepis. Entah kenapa ia merasa... Nyaman?

Namun kenyamanan Joana tidak bertahan lama saat Jason menarik tubuhnya hingga terlepas. Cowok itu menariknya meninggalkan Rangga yang masih mematung. Jason membawanya melewati parkiran lalu menghempaskan tubuh Joana tepat pada ban mobilnya yang kempes.

Joana mengaduh kesakitan. "Aduh pantat gue sakit!!!" Pekiknya keras pada Jason. "Kebiasaan deh dorong anak orang sembarangan."

Jason berjongkok untuk menyentil kening Joana keras. "Lo yang mulai duluan. Liat ban mobil gue. Itu semua kerjaan lo kan?!"

Joana memberengut kesal sembari mengusap keningnya. "Kalo iya emang kenapa?! Ngaca woi, lo yang mulai duluan! Sekarang kita impas."

"Impas lo bilang?" Jason menoyor kepala Joana. "Lo udah kelewatan dodol. Kalo kayak gini, gue gimana caranya pulang?!"

"Aduh sakit!" Keluh Joana sembari ikut menoyor kepala Jason. "Pulang aja sana naik angkot! Gitu aja kok repot."

"Naik angkot?! Lo kira gue miskin?!"

"Ih, kemarin aja lo naik bus. Sok nolak lagi."

"Kemaren beda!"

"Ih terserah ya. Peduli setan! Gue mau balik. BYE!" Joana sudah berdiri dan akan bergegas pergi sebelum Jason menghadang jalannya. "Minggir lo, goblok." Seru Joana kesal.

"Siapa lo bilang goblok hah?!" Jason menjewer telinga Joana hingga cewek itu mengaduh kesakitan. "Aduh sakit!!! Lepasin gue! Sakit bego!"

Jason hanya tertawa melihat tampang kesakitan Joana yang menurutnya sangat lucu. Dan tiba-tiba kaget saat Joana berjinjit untuk menjambak rambutnya keras. "Woi sakit! Anzing lepasin!"

"Lepasin gue dulu! Cepetan!!! Sakit bego!"

"Yeee enak aja, lepasin gue ...ah..ah.. Aduh sakit! Lepas, Jo! Sakit woy!" Joana menjambak rambut Jason semakin keras hingga akhirnya cowok itu melepaskan jewerannya.

Joana mengusap-ngusap telinganya yang masih berdenyut-denyut. "Emang laknat lo ya! Lo kira gue apaan hah?! Sakit nih kuping gue!"

Jason membenarkan tatanan rambutnya. "Lo nya ngeselin, untung cuma gue jewer, belum juga gue tonjok."

Joana mendelik. "Lo juga ngeselin bego! Untung cuma gue jambak, belum juga gue tendang lo!" Jason menatap berang Joana. "Lo kalo dibiarin malah ngelunjak ya."

"Yeee gak sadar diri lo? Lo nya yang ngelunjak disini. Udah untung cuma gue kempesin ban lo. Belum juga gue bakar tu mobil."

"Wah wah wah," Jason menggeleng jengah. "Perasaan gue cuma pedesin doang tuh mulut, belum juga gue potong lidah lo. Sikap lo ini gak seimbang sama yang gue lakuin di kantin tadi."

"Gak seimbang lo bilang?! Lidah gue rasanya kebakar gara-gara bakso pedes tadi!" Joana menunjuk marah wajah Jason. "Kalo aja lo tadi gak kabur, pasti udah gue bantai lo idup-idup!"

Jason seharusnya tertawa mendengar perkataan Joana. Namun malah rasa bersalah yang melingkupi dadanya.

Jason meraih tangan Joana yang hendak meninggalkannya. Menariknya lebih dekat untuk kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang Joana. Joana tiba-tiba mendadak gugup.

FALLINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang