[ On Going~~ ]
DILARANG PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN
TIDAK TERIMA ALASAN TERINSPIRASI
KALO ISINYA SAMA PERSIS BESERTA SUSUNAN KATA² NYA
BERANI PLAGIASI TANGGUNG RESIKONYA DARI TUHAN!!!
Sebuah lembaran hidup dari segelintir manusia yang mempertaruhka...
Haii hihi 👋👋👋 Lama nian ini lapak sampai ada sarang laba-laba nya Mian hehehe 🙏🙏
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cemberut aja cantik
Sorry for typo 😊 Warning ⚠🌚🔞💦
Marriage Contract Part 12
Selama ini, banyak orang percaya cinta itu tumbuh karena terbiasa. Hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Berbagi rasa dan intens bertatap muka. Tukar sorot mata selalu menjadi hal utama. Bercengkerama dengan satu-satunya teman serumah bisa menjadi salah satu faktor hal yang menumbuhkan rasa.
Hakikatnya, cinta itu mudah tumbuh dan hidup di hati yang basah. Basah akan keramahan, basah akan simpati dan keterbukaan. Menerima semua hal dengan lapang rasa. Juga lemah terhadap adanya perhatian. Begitulah adanya, cinta tumbuh lantaran terbiasa.
Dalam keadaan yang bisa dikatakan mengenaskan. Hati terluka tak sebanding dengan memar di permukaan tubuhnya. Pergerakan terbatas, lantaran seutas tali membelenggu tangan dan kedua kakinya. Terpaku tanpa daya, bergelung dengan rasa ngilu di setiap sudut tubuhnya, Jungkook pasrah. Bayangan sang suami mendadak melintas dibawah sadarnya.
Matanya sayup kadang terpejam. Rasa tak sanggup menahan hati yang tercincang. Cinta dalam relung kalbunya, perasaan terdalam untuk satu-satunya kekasih pujaan, sirna seketika. Bibirnya membelah sedikit terbuka. Rakus meraup udara yang tak juga memenuhi rongga dada. Nafasnya pendek putus-putus lantaran trauma dan juga keterguncangan dahsyat.
“Kookie, dulu bukankah kita sudah mengikat janji untuk saling memiliki, kamu hanya milik ku dan aku hanya milikmu, ingatkan?”
Sebuah kaleng alkohol baru saja terlempar dari tangan menghantam dinding menimbulkan suara lantang yang mengejutkan. Jungkook enggan bersuara. Terlalu sakit untuk dia sadari kenyataannya. Yugyeom menjadi lain dari yang selama ini ia kenal.
“Kita selalu bersama, tak terpisahkan, hah?”
Langkah gontainnya yang sempoyongan, perlahan mendekat pada Jungkook yang terkapar di atas ranjang. Senyum seringai penuh kemenangan, terbit begitu saja tanpa rasa dosa di wajahnya. Menyaksikan tubuh telanjang sang saudara kembar, dengan bukit kecil dipermukaan perut manisnya.
Yugyeom bertumpu pada salah satu lutut yang ia naikkan ke atas ranjang. Tepat di samping dada Jungkook. Pandangan si manis mulai khawatir tak tenang. Bibir pucatnya tak bisa bersuara hanya untuk menahan pergerakan Yugyeom yang semakin mendekatinya. Sinyal bahaya kembali meraung dalam benaknya.
“Sekarang, dengan mudahnya kau menikah dengan laki-laki lain! Dengan mudahnya kau berikan tubuh mu padanya? Tidur dengannya setiap malam tanpa tahu aku dalam pengasingan menderita perasaan?!! Enak sekali kamu, mudah berpaling dari ku,” Ucap Yugyeom geram, dengan tangan menarik helai rambut di belakang kepala Jungkook.