Part 5

3.1K 367 129
                                        

Marriage Contract
Bag 5





Setiap manusia itu sama. Sama-sama di berkahi mata untuk melihat. Di berkahi telinga untuk mendengar. Serta di berkahi hati untuk mengolah segala macam emosi. Manusia memang bukan makhluk yang sempurna. Terkadang juga berbuat khilaf selagi dia berbuat kebaikan. Terlepas dari semua itu, manusia adalah endemik bumi yang paling mulia.

Ketika mata melihat sebuah fakta di sertai dengan telinga yang mengolah informasi yang ada. Hati tak pernah tertinggal memegang peranannya. Hati mengolah segala macam emosi. Jika hati lemah, maka yang ada hanyalah sebuah keluh kesah. Jika hati terlalu kuat, maka yang terjadi adalah keangkuhan. Untuk itulah, segala sesuatu harus serba seimbang.

Seperti malam ini, sepasang mata dan telinga mendapatkan sebuah fakta yang mengguncang hatinya. Dia terdiam di sudut ruangan jauh dari perkumpulan. Di bawah sana, ayah dan ibunya berunding dengan sang suami. Tanpa dia dan membahas tentangnya. Tentang dirinya, bayi dalam kandungannya serta masa depannya.

“Saya tidak pernah menganggap pernikahan adalah sebuah media, pernikahan itu sakral bagi saya, hanya terjadi sekali seumur hidup, dan istri saya itu bagi saya sangat berharga hanya untuk sekedar sebuah status saja, saya tidak akan melakukannya,”

Itu suara suami yang baru saja meminangnya siang tadi. Terdengar begitu tegas dan menenangkan. Bisa di bayangkan, hidup dengan sosok lelaki dewasa yang sudah matang pola pikirnya. Pastilah hanya akan ada kedamaian dalam rumah tangga. Tapi masih ada hal lain yang berkutat dalam pikirnya. Bukan hanya soal bagaimana perangai luhur suaminya.

“Nakk.. kau pun pastinya punya mimpi dan harapan masa depan yang ingin kau kejar kan? Kami tidak mau Jungkook akan membebani langkah mu nantinya,”

Jungkook yang terdiam di balik persembunyiannya, turut mengangguk mengiyakan perkataan ibunya, Seokjin.

“Jungkook tidak akan membebani saya apapun yang terjadi, dia sudah menjadi istri dan tanggung jawab saya mulai detik ini sampai nanti saya mati, bukan hanya setelah bayinya lahir, astaga saya bahkan tidak tahu jika dia tengah hamil,”

Seketika kening si manis mengkerut hebat mendengar jawaban Taehyung. Setangguh itukah figur sosok laki-laki yang sudah beristri. Mengapa harus sekuat itu. Di saat dia sudah tahu pasti jika pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian di atas noktah berbatas waktu. Di saat itu pula harga dirinya sebagai seorang pria di jatuhkan dari ketinggian. Mengapa masih sempat terselip sebuah perasaan?

“Gawat, aku akan selamanya terjebak bersamanya, ini gawat..,” Gumam Jungkook lirih dengan nada khawatir.

“Apa yang harus aku lakukan, supaya dia mau berpisah dengan ku?” Sambungnya. Sepasang bola mata indah bergerak tak menentu kesana-kemari. Menandakan dia benar-benar panik. 

Sampai akhirnya, lamunannya terbuyarkan, ketika Taehyung pamitan dari kedua orang tuanya. Berjalan perlahan meniti anak tangga. Dan sebentar lagi akan memasuki area kekuasaaannya. Jungkook tentu saja tidak boleh ketahuan tengah menguping pembicaraan. Dia masuk begitu saja ke kamar kedua orang tuanya, dimana ruangan itu tak jauh dari letak sembunyinya.

Perdebatan dengan mertua, disaat dia baru saja menikahi anak mereka, membuat hati Taehyung menyesal. Ada sekelumit perasaan yang tak bisa di toleransi. Tindakan kurang ajar yang mungkin akan sangat tidak sopan. Dia bicara dengan nada yang tinggi untuk membantah permintaan pasangan Jeon.

“Aaish!!” Taehyung gusar dengan tingkahnya sendiri. Dia mengacak kasar rambut di kepala yang sama sekali tak bersalah.

“Harusnya aku bisa lebih sopan lagi, tadi,” Gumamnya penuh penyesalan, sembari membuka pintu kamar.

Marriage Contract ( Vkook / Yaoi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang