8 - BK

5.1K 390 6
                                    

Pagi itu gue bangun pagi, kayak biasanya di rumah.

Pagi ini, nggak ada tamparan.

Yea.

Tok tok tok..

"Iya bentaar" kata gue seraya merapikan baju dan kemudian berjalan membuka pintu.

"Udah siapkan? Yuk" kata Alfa.

Gue mengangguk dan mengikuti langkah lebar Alfa ganteng nan kece tersebut. Lhah eh?/

Gue ikut duduk di meja makan, buat sarapan. Sama kaya kemarin, meja makan awalnya hening.

"Farah ketemu sama Alfa dimana?" tanya Mama.

"Di.. perpustakaan?" kataku. Eh nadanya kok kaya nanya.

"Ooh.. terus kemarin ngapain aja di sekolah?" tanya Mama.

"Kemarin.." Gue bingung mau jawab apa. "Kemarin-"

"Kemarin Farah sama aku ke BK. Udah ah, nggak usah sok care, ayo far berangkat" kata Alfa, sambil menarik tanganku.

Papa menggebrak meja. "BK?! Masalah apa kamu sampai ke BK ha?!"

Mama melotot. Tangannya mengelus elus pundakku. Yang dimarahin kan Alfa ma.. bukan Farah..

Alfa mengangkat bahunya acuh, dan kemudian aku ditariknya menuju depan.

"Maafin bokap gue ya, dia emang gitu" katanya sambil menyalakan mesin motor ninjaknya.

Gue ngangguk.

Ceilah, kalo dibentak doang mah kuping gue udah kebal ish. Gausah malu malu ganteng (?) gitu dah Fa.

"Sampe" kata Alfa.

Gue celingak celinguk. Cepet ben-eh ini bukan sekolah! "Eh bukannya kita mau ke sekolah?" tanya gue.

Dia menggeleng, kemudian tangannya di selipkan di tangan gue, bikin jantung gue dag dig dug ser/.

Ternyata Alfa ngajakin gue shopping! SHOPPING!

Alfa bilang, gue bakal tinggal di rumah dia cukup lama gitu, jadinya Alfa ngajakin gue beli baju buat di rumah sini.

Yauda gue beli.

Dan lo tau apa?

Alfa ngomel-ngomel gara gara gue cuma beli sedikit padahal pilihnya lama. Namanya juga shopping.

Akhirnya, dengan asal, cowok itu mengambilkan beberapa setel baju yang kelihatannya bagus tanpa melihat label harganya dan langsung membayarnya.

Dasar.

Tapi gapapa sih ya. Makasih Alfa!

Kita ke sekolah, barang barangnya kita taruh rumah dulu bentar. And kita di sekolah ya kaya jadi anak unseen gitu. Gada sapaan, teguran karena dateng jam segini, atau apapun itu.

Padahal Alfa cukup ganteng loh. Baik pula. Apa udah dari sononya ya anak BK itu jadi anak unseen? Hhh... Kenapa sik.

Kata Alfa, anak bimbingan BK emang gitu. Emang dijauhin, dianggap ga ada, bahkan sama gurunya ndiri. Mereka semacam mikir, "Ah anak ini urusan BK".

Oke, gue hari ini pertama ketemu BK di ruangan pribadinya. Mm, maksud gue yaa gitudeh. BK sekolah gue ada dua, satu ngurusin anak anak satu sekolah, yang ini namanya Mam April, yang satunya ngurusin anak bermasalah doang, kata Alfa namanya Miss Lina.

Fyi, nggak semua guru disini dipanggil 'Mam' atau 'Miss'. Beberapa aja, sesuai mereka minta di panggil apa.

Gue dan Alfa masuk ke ruang BK. Di dalemnya, ada dua ruangan lagi, karena tiap guru BK punya ruangan sendiri. Di depan ruangan ruangan ini ada kursi tunggu.

"Masuk gih, gue tunggu sini" kata Alfa.

Gue ragu nih..

"Jangan raguu, lo gabakalan di makan sama BKnya kok" kata Alfa sambil terkekeh.

Gue meninju pelan lengannya sebelum masuk ke ruangan BK. Baru mau gue pegang gagangnya, tiba tiba pintu dibuka.

Deg.

Dea keluar dari sana.

Dia kaget liat gue, gue juga.

Abis itu dia buang muka dan ninggalin gue. Yaudah gue akhirnya masuk ruang BK.

"Hai Farah" sapa Miss Lina.

Gue cuma tersenyum.

"Duduk dulu" kata Miss Lina.

Gue duduk di depan meja gedhe yang diatasnya ada papan nama bertulis nama Miss Lina.

"Jadi ini first meet kita" kata Miss Lina. "Kata Alfa kemarin kamu pingsan, jadi Alfa sama kamu nggak bisa dateng. Kenapa pingsan sayang?"

"Mmm.."

"Cerita aja nggak papa, cerita dan nangis itu bisa mengurangi beban kamu" kata Miss Lina.

"Ibu saya habis meninggal miss" kata gue sambil tersenyun miris.

"Pake aku aja, atau terserah, senyaman kamu. Terus?"

"Setelah itu, papa saya selalu marahin saya.. bukan papa saya yang dulu. Papa saya sekarang emosian" kata gue.

"Hmm.. saya paham.. tapi papa kamu pasti punya alasan dibalik sikapnya, Farah" kata Miss Lina. "Terus gimana respon kamu?"

"Saya diem.." jawab gue.

Miss Lina menghela nafas. "Diam kadang emas Farah, tapi bukan berarti emas selamanya. Kadang kita harus bisa memilih waktu dimana diam dan dimana berbicara" kata Miss Lina.

"Dan.. perusahan papa saya bangkrut. Temen temen dan pacar-mantan saya jauhin saya.." sambung gue.

Miss Lina nggak jawab, justru memendekkan diri/ di depan gue, tangannya di pundak gue. "Kamu punya papa dan mama kamu marah, disini, di hati kamu. Apapun yang mereka lakukan, mereka tetep sayang kamu.." kata Miss Lina.

Air mata gue jatuh. Yah. Jatuh.

~~~

Bzzz.. Sorry, gue lagi stuck -_-

Oke thanks sudah bacaaa~~~

Laflaaaf ♥

CHANGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang