Araska POV
Saat ini aku sudah berada di tempat persembunyianku. Seperti biasanya, dihari libur aku akan pergi ke tempat ini. Tempat pribadiku.
Sebenarnya tempat ini hanya diketahui oleh orang-orang terdekatku. Seperti Muzy, Mario dan Rara yang memang sudah seperti saudara untukku.
Hari ini aku memutuskan untuk menghabiskan malam dengan mereka di sini. Di sinilah tempat awal mula aku melepaskan segala kepenatanku.
"Ras, malem ini gue gak mau sampe jatoh!" kata Mario dengan membawa beberapa botol wine di tangannya.
"Lo sakit jiwa? Bilang gak mau jatoh, tapi bawa 3 botol."
Malam minggu ini aku akan pergi ke bar milik keluarga Mario di dekat tempatku bermalam. Mario memang anak yang sedikit agak nakal. Aku mengenal dunia malam karena Mario yang benar-benar terlalu menyukai hal ini. Tetapi Mario tetap professional diusianya yang ingin kepala 3 itu.
Aku dan Mario memang terpaut usia yang cukup jauh. Tetapi aku tetap memanggilnya dengan namanya saja, meski begitu Mario tetaplah sebagai kakakku ketika di luar pekerjaan.
Muzy, aku dan Mario sudah berada di bar. Aku menuju tempat VVIP yang memang sudah menjadi langganan Mario saat di sini. Dia langsung memanggil waiters untuk mengambilkan beberapa gelas dan juga camilan yang Mario selalu siapkan untuk dirinya.
Muzy tidak seperti aku dan Mario. Ia di sini hanyalah menemani kami saja. Ia tidak akan menyentuh minuman itu, karena Muzy yang akan memastikan kami sampai dengan selamat.
**
Asa POV
Hari ini Araska tidak menghubungiku sama sekali. Aku pun belum sempat ke rumahnya karena belum mendapatkan waktu yang pas.
Meski saat ini langit sudah gelap, aku masih dalam perjalanan menuju kediaman Araska dengan taxi online. Aku telpon pun tidak ia angkat.
Aku terus mengumpat dalam hati, kesal karena Araska menghilang hari ini. Saat ini Araska adalah kebahagiaan bagi diriku.
Aku memang sangat mengagumi sosoknya entah bagaimana, aku menyukainya saat pertama kali aku melihat dirinya.
Aku tidak mengenal dia sebelum saat itu kami bertemu. Dia sosok orang hebat menurutku. Dan aku sangat menyukai kepribadiannya yang membuat siapapun pasti akan menyukainya.
Aku telah tiba di depan rumahnya. Namun hasilnya membuatku kecewa, dia tidak berada di rumahnya. Mobilnya tidak ada garasi rumahnya.
Aku mulai cemas, menghubunginya pun bukanlah jawaban. Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Muzy, orang kepercayaan Araska. Sebelumnya aku memang memiliki nomor telpon Muzy, saat itu aku langsung meminta pada Muzy.
"Halo, lo lagi sama Araska gak, bang?"
Suara dari Muzy membuatku makin berpikir bahwa Araska berada di tempat yang tidak baik.
"Oke, gue ke sana."
dan benar, Araska berada di tempat yang tidak seharusnya. Aku segera meluncur menemuinya.
Aku akhirnya tiba di tempat Araska, setelah berlama-lama dijalan karena aku harus menyebrang. Setibanya, aku langsung terpikirkan bahwa Araska pasti berada di tempat yang tidak biasa.
Aku harus berhadapan pada penjaga ruangan VVIP. Dan aku sebal harus mengatakan sesuatu untuk bisa masuk ke dalam.
"Sa?" Muzy pun datang dengan tepat waktu. Sepertinya ia habis dari toilet.
