Bibir mungil Junmyeon selalu berkata ia akan melupakan seorang Oh Sehun dari hidupnya. Namun apa nyatanya, seharian ini ia habiskan hanya memikirkan satu orang yang ia akui ia benci itu.
"Apa yang kau pikirkan Kim Junmyeon! Dia menjemputmu bukan karena ia peduli padamu. Bukannya sudah ia katakan, jika ia disuruh eomma Oh. Hentikan pemikiranmu yang tidak-tidak!"
Junmyeon mendesah lalu terduduk di kasurnya. Lalu ia merebahkan dirinya lagi. Seorang Oh Sehun selalu berhasil membuatnya stress.
Benar saja, hari-hari berikutnya, tak sekalipun si bodoh Oh itu menunjukkan batang hidungnya di hadapan Junmyeon. Makhluk manis itu sedari pagi telah sampai dikampusnya untuk mengurus sisa-sisa berkas yang diperlukan untuk kampus barunya pun akhirnya bisa beristirahat di cafe dekat kampus.
"Huft..lelahnya. Kemana si Park itu? Apa ia sudah menyelesaikan semuanya?"
Drrt...drrt..
Benda diatas mejanya bergetar, menandakan pesanannya sudah jadi. Junmyeon pun berdiri untuk mengambil pesanannya. Di sesapnya segelas Ice Coffee Latte sambil memandang keluar ke arah kampusnya.
"Hmm...ya kurasa bagaimanapun, aku pasti akan merindukan tempat ini."
Junmyeon terkekeh kecil mengingatkan betapa banyaknya memory di kampus ini. Memory dia dengan Sehun maksudnya.
"Ternyata memang duniaku hanya berputar di sekelilingnya saja selama ini. Namun tidak dengan dunianya."
Kening Junmyeon berkerut seketika.
"Sekali saja Hun, tak pernahkah aku berarti di matamu?"
Mata Junmyeon kembali memanas tanpa ia sadari.
"Stop it Jun, you have to let him go."
Setelah selesai ia menghabiskan minumannya, ia bergegas untuk kembali ke rumahnya dan mulai bersiap untuk membuat daftar barang yang perlu dia bawa saat ia ke Amerika nanti.
*****
"Sehun-ah, ireona!"
"Aku masih ngantuk eomma."
"Yah! Kau ini!" Eomma Oh memukul punggung Sehun hingga Sehun teelonjak dari kasurnya.
"Eomma~ appo~" rengek Sehun.
"Kau kan tahu hari ini Junmyeon berangkat ke New York, kau tak mau mengantarnya?"
"Tidak mau."
"Yah! Kau anak nakal!" Eomma Oh kembali memukul anaknya itu.
"Aish! Sakit eomma!"
"Mwo? Mwo? Kau membentak eomma mu? Iya?" Eomma Oh terus memukuli punggung Sehun.
"EOMMA!"
Eomma Oh terkejut mendengar bentakan Sehun. Namun tak lama ia bisa melihat mimik sedih di wajah anaknya itu.
"Kan dia yang mau pergi, aku tak pernah diberi tahu. Ya sudah biarkan saja. Dia yang memilih meninggalkanku. Aku tidak mau mengantarnya."
Sehun kembali naik ke ranjangnya dan menarik selimutnya lagi. Eomma Oh hanya diam memandangi anaknya itu. Ia tahu jika anaknya ini sebenarnya sedih ditinggal sahabatnya. Namun terselip rasa hangat dihati Eomma Oh, karena ini pertama kalinya anaknya itu menunjukkan emosi saat ditinggal seseorang. Selama ini saat ia dan suaminya pergi, Sehun hanya bersikap biasa saja malah terkesan cuek. Ia mandiri katanya. Eomma Oh hanya tersenyum kecil melihat anaknya.
"Baiklah, eomma akan pergi sendiri mengantar Junmyeon. Kalau kau lapar, panaskan saja makanan yang ada di kulkas. Kabari kalau mau pergi kemana-mana."
"Hmm"
Eomma Oh sudah berada di pintu kamar Sehun, lalu membalikkan badan melihat kearah anaknya.
"Selesaikan masalahmu dengan caramu sendiri. Eomma percaya padamu."
Eomma Oh menutup pintu kamar dan pergi ke rumah sahabatnya untuk sama-sama mengantar Junmyeon ke bandara.
"Sebin-ah, kau sendiri?"
"Ne Junhee-ya, sepertinya Sehun ngambek." Eomma Oh berbisik pada sahabatnya itu.
"Mwo? Ngambek?"
"Ne! Dan itu karena anakmu." Eomma Oh terkikik geli. "Ya aku harap mereka berdua bisa menyelesaikannya sendiri. Kita tak perlu ikut campur."
"Gen dingin suami dan anakmu itu benar-benar." Mereka berdua kembali tertawa.
-di bandara-
"Jun-ah, nanti Appa yang akan menjemput kalian disana ya. Appa sudah mengurus semua tempat tinggal kalian. Baik-baik disana. Kalau ada apa-apa langsung hubungi eomma atau appa okay?"
"Ne eomma, tenang saja."
"Aigoo anak eomma yang manis. Eomma sedih kau harus pergi jauh dan meninggalkan eomma sendirian dengan anak eomma yang dingin itu. Siapa yang akan menemani eomma masak dirumah." Eomma oh mengeluarkan air matanya.
"Aku akan sering menelepon eomma juga, jangan khawatir." Junmyeon menghapus air Maeta di pipi eomma Oh.
"Dia benar-benar tidak datang eomma?"
"Hmm...eomma juga tidak tahu kenapa."
Junmyeon hanya tersenyum pahit. Ia pikir setidaknya hari ini ia bisa melihat Oh Sehun nya terakhir kali sebelum ia pergi jauh. Namun lagi-lagi ia harus kecewa.
"Junmyeon-ah, kau sudah siap?" Tanya Chanyeol yang baru saja berpelukan dengan kekuarganya.
"Eum~ sudah waktunya boarding. Eomma, aku dan Chanyeol berangkat dulu ya. Aku akan merindukanmu eomma."
Junmyeon memeluk kedua ibu yang mengantarnya bergantian.
"Nak Chanyeol, titip Junmyeon ya, kalau ada apa-apa dengan kalian jangan segan untuk menelepon eomma."
"Ne eomma Kim."
"Annyeong!" Ucap mereka berdua dan melambaikan tangan ke keluarga mereka masing-masing.
"Kau siap?" Tanya Chanyeol mengulurkan tangannya di depan Junmyeon.
"Yes! I am ready! New York here we come!" Junmyeon menyambut uluran tangan Chanyeol dan menariknya menuju gate pesawatnya.
Selamat tinggal Korea, selamat tinggal kenangan, waktunya untuk menata hidup baru, membiasakan diri tanpa hadirmu di hidupku. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Selamat tinggal Oh Sehun.
END
Becanda deng hahaha😂😂
TBC
Yeah, it took a little while for me to update this story hehehe
Entah kenapa, ide stuck, padahal garis besar ceritanya udah tahu, tapi menerjemahkannya ke kata-kata itu menguras otak supaya sesuai sama yang aku pikirin😆😆
So guys, a little comment from you is so precious to me.
Voment juseyooong~😍😍😍
KAMU SEDANG MEMBACA
Breakeven
Fanfiction"Sehunnie!!" "Bisakah kau tidak menggangguku?" "Aku tidak mengganggumu. Aku hanya ingin bersamamu." "Tch~ anak manja." "Hanya padamu." "Pergilah!" "Baiklah, aku pergi." "......." My first HunHo fic😆😆😆 Baru ada niat bikin di WP, selama ini bikin d...
