"Megan? Kau dateng juga?? Kau apa kabar?" Sapa sosok pria tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi dan kekar kepada Megan, membuat Megan terkejut juga tak menyangka.
"K- kak ___? Kok ada disini??" Jawab Megan kikuk.
"Yah, kalian udah ketemu!" Seru Bryan yang tiba-tiba saja datang.
"Hah? Kenapa, bry?" Ujar _____ heran.
"Nggak pa pa. Yaudah, ayo masuk!" Ujar Bryan seraya merangkul adeknya Megan. Kemudian mereka bertiga bersama masuk ke cafe.
"Gimana? Suka surprisenya? Sorry, surprisenya failed.." bisik Bryan seraya berjalan.
"Apasih? Kamu mah gitu! Ini aja udah surprise kali!" Bisik Megan menjawab agak salting.
"Haha, i haven't lil sis again now. Haha, adek gue udah besar. " bisik Bryan seraya cekikikan.
"Sialan, kakak gue mah gitu!" Umpat Megan agak kesal.
"Eh! Itu kaki kenapa?" Tanya Bryan yang menyadari kaki sang adik pincang.
****
Kaki kanan Megan memar akibat jatuh dan tertimpa motor Ali tadi, Megan pun merintih kesakitan dan berusaha untuk berdiri namun sulit. Sementara itu Ali malah sibuk mengecek motor kesayangannya itu.
"Lo nggak waras apa ya?!! Lo nggak lihat apa gue kesakitan gini?!! Bantuin kek! Malah mikirin motor bobrok lo itu!" Ujar Megan sangat ketus karna dia merasa sangat dongkol dengan perlakuan Ali padanya.
"Apa lo bilang?! Motor gue bobrok?! Gue tau motor gue emang motor murahan buat lo yang emang anak orang kaya! Tapi asal lo tau! Motor ini sumber kebahagian gue!
"Motor ini sebagian hidup gue! Lo nggak berhak untuk ngehina motor gue! Udah untung gue mau anter lo pake montor ini!" Balas Ali tak kalah ketus, pasalnya Megan telah menghina motor kesayangannya yang merupakan peninggalan satu-satunya dari sang Ayah
"Bukan gitu maksud gue! Ih, lo mah sensi an! Terserah lo kalo emang motor lo lebih penting dari gue! -Berusaha keras untuk berdiri, ia mampu namun dengan rasa yang amat sakit menjalar di kaki kanannya namun ia tahan karna gengsi- Gue pergi aja sendiri, kalo lo nggak ikhlas!" Ujar Megan sangat kesal kemudian berjalan menjauih dari Ali untuk mencari tumpangan.
Megan berdiri mondar-mandir di pinggir jalan yang berselisih 3 metera'an dari Ali dengan kakinya yang terpincang-pincang dan terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dia amat merasa kesakitan. Melihat itu entah kenapa Ali merasa iba dan menyesal dengan perkataannya tadi.
"Megan! Ayo Jalan!" Teriak Ali mengajak Megan, namun Megan sok tak mendengarnya karna ia masih kesal. "Megan ayo jalan!!" Teriak Ali lagi lebih kencang. "Udah deh, nggak usah sok nggak denger! Jangan kayak anak tk deh lo!" Teriak Ali lagi mulai kesal.
Dan ejekan 'anak tk' dari Ali berhasil menarik perhatian Megan. "Sialan! Gue bukan anak tk ya! Lo buta apa?! Gue pake seragan SMA gini?!" Jawab Megan kesal.
"Lo emang anak SMA, tapi kelakuan lo itu yang kek anak tk!" Balas Ali tak mu kalah.
"Serah lo!" Ujar Megan kesal dan tak menggubris Ali lagi.
"Ok, fine! Gue minta maaf! Gue salah! Tapi lo juga salah ya! Udah ayo buruan!" Ujar Ali lagi tetap berusaha karna ia sadar Tamara menitipkan Megan padanya jadi itu tanggung jawabnya.
Megan tetap tak menggubris dan sok sibuk mencari tumpangan, namun nyatanya dari tadi tak ada kendaraan lewat karna ini memang jalan yang jarang dilewati orang karna rumor tentang penampakan yang ada setiap sore. Kanan kiri jalannya pun hanyalah pepohonan rindang
"Dasar keras kepala!" Batin Ali dalam hati. "Beneran nggak mau?" Ali masih berusaha membujuk namun tak dijawab juga. "Gue tinggal ni!" Ancam Ali. Ali menghidupkan mesin motornya untuk mengancam, namun tampaknya tetap failed, karna Megan tetap cuek.
Ali pun tak kehabisan akalnya, Ali beranjak meninggalkan motornya yang menyala menghampiri Megan. Ali tanpa berkata apa-apa lagi ia mengangkat tubuh Megan disenderkan di pundaknya, dengan tangan kirinya mendekap kaki Megan. Sedangkan kepala Megan menggantung di punggung Ali.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Sister
RomanceKisah tentang kehidupan Megan yang slalu terlibat dalam urusan kakaknya Bryan, semenjak Bryan meminta Megan untuk menjadi kekasih palsunya. Awalnya Megan menolak keras permintaan kakaknya itu, tapi ia tak tega akan hal sesuatu yang membuat ia mener...
